Loading...
Showing posts with label 056 AL-WAAQI'AH. Show all posts
Showing posts with label 056 AL-WAAQI'AH. Show all posts

56 Surat Al-Waaqi'ah - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

5:15 PM Add Comment


56. SURAT AL-WAQI'AH

تَفْسِيرُ سُورَةِ الْوَاقِعَةِ

(Hari Kiamat)

Makkiyyah, 96 atau 97 atau 98 ayat Kecuali ayat 81 dan 82 Madaniyyah Turun sesudah Surat Taha

قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ عِكْرِمَة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شبتَ؟ قَالَ: "شيَّبتني هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ".

Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa sahabat Abu Bakar pernah bertanya, '"Wahai Rasulullah, engkau kelihatan telah beruban." Rasulullah Saw. menjawab: Telah membuatku beruban surat Hud, surat Al-Waqi'ah, surat Al-Mursalat, surat An-Naba, dan surat At-Takwir.

Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini, dan ia mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan garib.

Al-Hafiz ibnu Asakir telah mengatakan dalam biografi Abdullah ibnu Mas'ud lengkap dengan sanadnya sampai kepada Amr ibnur Rabi' ibnuTariq Al-Masri, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Yahya Asy-Syaibani, dari Abu Syuja', dari Abu Zabyah yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud dalam sakitnya yang menghantarkan kepada kematiannya dijenguk oleh Usman ibnu Affan, lalu Usman bertanya, "Sakit apakah yang engkau rasakan?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Dosa-dosakulah yang membuatku sakit." Usman bertanya, "Apakah yang engkau inginkan?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Rahmat Tuhanku." Usman bertanya, "Maukah engkau kudatangkan seorang tabib?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Tabib akan membuatku bertambah parah." Usman bertanya, "Maukah aku perintahkan agar kuberikan ata (pemberian) untukmu?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Saya tidak memerlukannya." Usman berkata, "Itu nantinya untuk anak-anak perempuanku sesudah kamu tiada." Ibnu Mas'ud menjawab, "Apakah aku mengkhawatirkan anak-anak perempuanku jatuh fakir? Sesungguhnya aku telah memerintahkan kepada semua anak perempuanku agar setiap malam membaca surat Al-Waqi'ah karena aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

"مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا".

'Barang siapa yang membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam, niscaya tidak akan terkena kemiskinan selamanya'.”

Kemudian Ibnu Asakir mengatakan bahwa demikianlah sanad hadis ini, tetapi yang benar adalah dari Syuja', seperti yang disebutkan di dalam riwayat Abdullah ibnu Wahb, dari As-Sirri.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ: أَخْبَرَنِي السُّرِّي بْنُ يَحْيَى أَنَّ شُجَاعًا حَدَّثه، عَنْ أَبِي ظَبْيَة، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يَقُولُ: "مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا"

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku As-Sirri ibnu Yahya, bahwa Syuja' pernah menceritakan hadis ini dari AbuZabyah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, niscaya tidak akan tertimpa kemiskinan selamanya.

Tersebutlah pula bahwa Abu Zabyah tidak pernah meninggalkannya. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Abu Ya'la, dari Ishaq ibnu Ibrahim, dari Muhammad ibnu Munib, dari As-Sirri ibnu Yahya, dari Syuja', dari Abu Zabyah, dari Ibnu Mas'ud dengan sanad yang sama.

ثُمَّ رَوَاهُ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ أَبِي إِسْرَائِيلَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُنِيب الْعَدَنِيِّ، عَنِ السُّرِّي بْنِ يَحْيَى، عَنْ أَبِي ظَبْيَةَ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ: "مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا"

Kemudian Abdullah ibnu Wahb telah meriwayatkannya pula dari Ishaq ibnu Abu Israil, dari Muhammad ibnu Munib Al-Adani, dari As-Sirri ibnu Yahya, dari Abu Zabyah, dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malamnya, niscaya tidak akan tertimpa kemiskinan selamanya.

Dalam sanad riwayat ini tidak disebutkan nama Syuja’, selanjutnya Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa ia telah memerintahkan kepada anak-anak perempuannya agar membacanya setiap malam.

Ibnu Asakir telah meriwayatkan pula melalui hadis Hajjaj ibnu Nasir dan Us'man ibnu Abul Yaman, dari As-Sirri ibnu Yahya, dari Syuja', dari Abu Fatimah yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud sedang sakit, lalu dijenguk oleh Usman ibnu Affan, kemudian disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas. Usman ibnul Yaman mengatakan bahwa Abu Fatimah ini adalah maula Ali ibnu Abu Talib.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Israil dan Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak ibnu Harb, bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Samurah mengatakan bahwa dahulu Rasulullah Saw. mengerjakan salatnya sebagaimana kalian mengerjakan salat sekarang ini, tetapi salat beliau Saw. agak sedikit ringan, dan lebih ringan daripada salat kalian. Dan beliau dalam salat Subuhnya membaca surat Al-Waqi'ah dan surat-surat lainnya yang semisal.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

56 Tafsir Surat Al-Waaqi'ah Ayat 1-12 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

4:58 PM Add Comment


Al-Waqi'ah, ayat 1-12

{إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) }

Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan.

Al-Waqi'ah adalah salah satu nama dari nama-nama hari kiamat. Dinamakan demikian karena kepastian kejadiannya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ}

Maka pada hari itu terjadilah kiamat. (Al-Haqqah: 15)

Adapun firman Allah Swt.:

{لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ}

terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Al-Waqi'ah: 2)

Yakni tiada yang dapat memalingkan atau menolaknya bila Allah Swt. telah menghendaki kejadiannya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ}

Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. (Asy-Syura: 47)

{سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ. لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ}

Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat' menolaknya. (Al-Ma'arij: 1-2)

Dan firman Allah Swt.:

{وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ}

Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan, "Jadilah, " lalu terjadilah, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang tampak. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 73)

Makna kazibah menurut apa yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka'b ialah pasti terjadi.

Menurut Qatadah, terjadinya hari kiamat itu tidak dapat diubah atau diundurkan atau dicabut.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa lafaz kazibah adalah bentuk masdar (akar kata) sama dengan lafaz 'afiyah dan 'aqibah.

*******************

Firman Allah Swt.:

{خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ}

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3)

Yaitu merendahkan banyak kaum hingga sampai ke tempat yang paling dasar di dalam neraka, sekalipun ketika di dunia mereka adalah orang-orang yang mulia, dan meninggikan kaum yang lainnya hingga sampai ke tempat yang tertinggi di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan, sekalipun ketika di dunia mereka adalah orang-orang yang rendah. Demikianlah menurut pendapat Al-Hasan, Qatadah, dan lain-lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Yazid ibnu Abdur Rahman ibnu Mus'ab Al-Ma"ani, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Abdur Rahman Ar-Rawasi, dari ayahnya, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3) Yakni menghinakan banyak kaum dan meninggikan kaum yang lainnya.

Ubaidillah Al-Utaiki telah meriwayatkan dari Usman ibnu Suraqah anak lelaki bibinya Umar ibnul Khattab sehubungan dengan makna firman-Nya: (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3) Hari kiamat itu adalah hari musuh-musuh Allah direndahkan dengan dimasukkan ke dalam neraka dan kekasih-kekasih Allah ditinggikan dengan dimasukkan ke dalam surga.

Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa di hari kiamat banyak laki-laki yang sewaktu di dunia berkedudukan tinggi direndahkan dan banyak pula kaum laki-laki lainnya yang sewaktu di dunia rendah ditinggikan.

As-Saddi mengatakan bahwa hari kiamat adalah hari orang-orang yang angkuh direndahkan dan orang-orang yang rendah diri ditinggikan.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Al-Waqi'ah: 3) Yaitu membuat orang yang dekat dan orang yang jauh sama-sama mendengar­nya.

Ikrimah mengatakan, bahwa hari kiamat itu juru serunya dapat memperdengarkan seruannya kepada orang yang dekat dengan suara yang pelan, dan dapat memperdengarkan kepada orang yang jauh dengan suara yang keras. Hal yang semisal dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Qatadah.

*******************

Firman Allah Swt.:

{إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا}

apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. (Al-Waqi'ah: 4)

Yakni berguncang dengan guncangan yang dahsyat yang menimbulkan gempa dahsyat melanda seluruh kawasan bumi.

Karena itulah maka Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. (Al-Waqi'ah:4), Maksudnya, diguncangkan dengan gempa yang sangat dahsyat.

Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa gempa itu mengguncangkan semua yang ada pada bumi sebagaimana ayakan mengguncangkan barang yang diayaknya.

Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{إِذَا زُلْزِلَتِ الأرْضُ زِلْزَالَهَا}

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat). (Az-Zalzalah: 1)

Dan firman Allah Swt.:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ}

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. (Al-Hajj: 1)

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا}

dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya. (Al-Waqi'ah: 5)

Yaitu dihancurkan dengan sehancur-hancurnya, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan lain-lainnya.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa pada hari itu gunung-gunung —seperti yang digambarkan oleh ayat lain melalui firman-Nya— menjadi:

{كَثِيبًا مَهِيلا}

tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan. (Al-Muzzammil: 14)

*******************

Firman Allah Swt.:

{فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا}

maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al-Waqi'ah: 6)

Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Al-Haris, dari Ali r.a., bahwa semua gunung di hari itu menjadi debu yang beterbangan, kemudian lenyap tanpa bekas.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jadilah dia debu yang beterbangan. (Al-Waqi'ah: 6) Yakni seperti arang yang beterbangan dari nyala api yang bergejolak, pada mulanya berupa percikan api dan setelah terjatuh hancur lenyap.

Ikrimah mengatakan bahwa al-mumbas artinya debu yang diterbangkan oleh angin (debu organik).

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al-Waqi'ah: 6) Artinya seperti pohon kering yang diterbangkan oleh angin.

 Ayat ini sama pengertiannya dengan ayat-ayat lainnya yang semakna yang menunjukkan lenyapnya gunung-gunung dari tempatnya masing-masing di hari kiamat nanti. Yaitu dengan diledakkan dan dijebol dari tempatnya masing-masing, kemudian dijadikan seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً}

dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7)

Yakni kelak di hari kiamat manusia terbagi menjadi tiga golongan, suatu golongan berada di sebelah kanan 'Arasy. Mereka adalah orang-orang yang dahulu keluar dari lambung kanan Adam, dan buku catatan amal mereka diberikan kepada mereka dari arah kanan mereka, lalu mereka digiring ke sebelah kanan. Menurut As-Saddi, golongan ini seluruhnya adalah ahli surga. Sedangkan golongan lainnya berada di sebelah kiri Arasy, mereka adalah orang-orang yang dahulunya keluar dari lambung kiri Adam; buku catatan amal mereka diberikan kepada mereka dari arah kirinya, lalu mereka digiring ke arah kiri. Mereka adalah seluruh penduduk neraka, semoga Allah melindungi kita dari perbuatan mereka. Segolongan lainnya adalah orang-orang yang paling dahulu berada di hadapan Allah Swt. Mereka merupakan golongan yang lebih khusus, lebih beruntung dan lebih dekat kepada-Nya daripada Ashabul yamin, mereka adalah para pemimpin Ashabul yamin. Di kalangan mereka terdapat para rasul, para nabi, para siddiqin, dan para syuhada; jumlah mereka sedikit bila dibandingkan dengan jumlah Ashabul yamin. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ. وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ. وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ}

Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). (Al-Waqi'ah: 8-10)

Pembagian mereka dalam tiga klasifikasi disebutkan pula di akhir surat ini, yaitu di saat mereka dihadirkan di hari kiamat. Hal yang semisal disebutkan juga di dalam firman-Nya:

{ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ} الْآيَةَ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. (Fathir: 32), hingga akhir ayat.

Pengertian ini berdasarkan-salah satu di antara dua pendapat sehubungan dengan golongan orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Bahwa makna yang dimaksud adalah seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan. (Fathir: 32)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tiga golongan ini adalah orang-orang yang disebutkan di dalam akhir surat ini dan surat Fathir.

Yazid Ar-Raqqasyi mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Ibnu Abbas menjawab bahwa azwajan ialah golongan.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Yakni tiga golongan, katanya.

Menurut Maimun ibnu Mahran, tiga gelombang.

Ubaidillah Al-Ataki telah meriwayatkan dari Usman ibnu Suraqah (anak lelaki bibinya Umar ibnul Khattab) tentang makna firman-Nya: dan kamu menjadi tiga golongan. (Al-Waqi'ah: 7) Bahwa yang dua golongan masuk surga, sedangkan yang satu golongan masuk neraka.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ أَبِي ثَوْرٍ، عَنْ سِمَاك، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ} [التَّكْوِيرِ: 7] قَالَ: الضُّرَبَاءُ، كُلُّ رَجُلٍ مِنْ قَوْمٍ كَانُوا يَعْمَلُونَ عَمَلَهُ، وَذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً. فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ. وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ. وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ} قَالَ: هُمُ الضُّرَبَاءُ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Abu Saur, dari Sammak, dari An-Nu'man ibnu Basyir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). (At-Takwir: 7) Lalu beliau Saw. bersabda bahwa mereka adalah orang-orang yang bersekutu; tiap-tiap orang dari setiap kaum (golongan) mengerjakan amal perbuatan yang semisal dengan golongannya. Demikian itu karena di dalam firman Allah Swt. telah disebutkan: dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). (Al-Waqi'ah: 7-10) Bahwa mereka adalah para duraba (sekutu).

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا الْبَرَاءُ الْغَنَوِيُّ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ}، {وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ} فَقَبَضَ بِيَدِهِ قَبْضَتَيْنِ فَقَالَ: "هَذِهِ لِلْجَنَّةِ وَلَا أُبَالِي، وَهَذِهِ لِلنَّارِ وَلَا أُبَالِي"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Al-Barra Al-Ganawi, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, dari Mu'az ibnu Jabal, bahwa Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Al-Waqi'ah: 8-9) Lalu beliau Saw. melakukan genggaman sebanyak dua kali seraya bersabda: Golongan ini untuk surga dan aku tidak peduli, dan golongan ini untuk neraka dan aku tidak peduli.

قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَة، حَدَّثَنَا خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَائِشَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم، أنه قَالَ: "أَتَدْرُونَ مَنِ السَّابِقُونَ إِلَى ظِلِّ يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ " قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: "الَّذِينَ إِذَا أُعْطُوا الْحَقَّ قَبِلُوهُ، وَإِذَا سُئِلُوهُ بَذَلُوهُ، وَحَكَمُوا لِلنَّاسِ كَحُكْمِهِمْ لِأَنْفُسِهِمْ"

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abu Imran, dari Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Aisyah, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang paling terdahulu menuju naungan Allah di hari kiamat? Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw. bersabda: Yaitu orang-orang yang apabila diberi hak, menerimanya; dan apabila diminta hak, memberinya; dan mereka memutuskan hukum bagi orang lain sebagaimana hukum yang mereka berlakukan terhadap diri mereka sendiri.

Muhammad ibnu Ka'b dan Abu Hirzah alias Ya'qub ibnu Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). (Al-Waqi'ah: 10) Bahwa mereka adalah para nabi.

As-Saddi mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang menghuni surga yang tertinggi. Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu(masuk surga). (A)-Waqi'ah: 10) Bahwa Yusya' ibnu Nun adalah orang yang paling dahulu beriman kepada Musa dan orang yang beriman dari keluarga Yasin lebih dahulu beriman kepada Isa, serta Ali ibnu Abu Talib adalah orang yang paling dahulu beriman kepada Muhammad Rasulullah Saw.

Ibnu Abu Hatim meriwayat­kannya dari Muhammad ibnu Harun Al-Fallas, dari Abdullah ibnu Ismail Al-Madaini Al-Bazzar, dari Sufyan ibnud Dahhak Al-Madaini, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ibnu Abu Nujaih dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Hammad, bahwa telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Kharijah, dari Qurrah, dari Ibnu Sirin sehubungan dengan makna firman-Nya: Orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). (Al-Waqi'ah: 10) Yang dimaksud adalah orang-orang yang pernah salah menghadap ke arah dua kiblat.

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Kharijah. Al-Hasan dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). (Al-Waqi'ah: 10) Yakni dari tiap-tiap umat.

Al-Auza'i telah meriwayatkan dari Us'man ibnu Abu Saudah, bahwa ia membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). (Al-Waqi'ah: 10-11) Kemudian ia mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling dahulu berangkat ke masjid dan orang-orang yang paling dahulu keluar untuk berjihad di jalan Allah.

Semua pendapat di atas sahih, karena sesungguhnya yang dimaksud dengan sabiqin ialah orang-orang yang paling bersegera dalam mengerjakan kebaikan sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ}

Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Ali Imran: 133)

Dan firman Allah Swt.:

{سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ}

Berlomba-lombalah kamu untuk meraih ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21)

Barang siapa yang paling dahulu berbuat kebajikan di dunia ini, maka di akhirat ia termasuk orang-orang yang paling dahulu mendapatkan kemuliaan, yaitu surga, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatannya; dan sebagaimana engkau berbuat, maka engkau mendapat balasannya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

{أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ. فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ}

Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 11-12)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Kharijah ibnu Mus'ab, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa para malaikat berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah menjadikan bagi Bani Adam dunia, mereka makan dan minum serta kawin, maka jadikanlah bagi kami negeri akhirat." Allah Swt. berfirman, "Aku tidak akan melakukannya," sebanyak tiga kali. Para malaikat mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali, akhirnya Allah Swt. berfirman, "Aku tidak akan menjadikan orang yang telah Kuciptakan dengan tangan-Ku sendiri seperti orang yang Kukatakan kepadanya, 'Jadilah kamu,' maka jadilah ia." Kemudian Abdullah ibnu Amr membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 10-­12)

Imam Usman ibnu Sa'id Ad-Darimi telah meriwayatkan asar ini di dalam kitabnya yang berjudul Sanggahan terhadap Golongan Jahmiyyah yang teksnya berbunyi seperti berikut, bahwa Allah Swt. berfirman, "Aku tidak akan menjadikan orang yang saleh dari keturunan orang yang Kuciptakan dengan tangan-Ku sendiri seperti orang yang Kuciptakan hanya dengan Kukatakan kepadanya, 'Jadilah kamu,' maka jadilah dia."

56 Tafsir Surat Al-Waaqi'ah Ayat 13-26 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

4:57 PM Add Comment


Al-Waqi'ah, ayat 13-26

{ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (14) عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ (15) مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ (16) يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ (17) بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ (18) لا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنزفُونَ (19) وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (20) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (21) وَحُورٌ عِينٌ (22) كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ (23) جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا تَأْثِيمًا (25) إِلا قِيلا سَلامًا سَلامًا (26) }

Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karena meminumnya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan". Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa tetapi mereka mendengar ucapan salam.

Allah Swt. berfirman, menceritakan perihal orang-orang yang paling dahulu yang didekatkan kepada Allah, bahwa mereka:

{مِنَ الأوَّلِينَ. وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ}

Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 13-14)"

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud oleh firman-Nya,' "Al-awwalin" dan "Al-akhirin." Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan yang pertama ialah umat-umat terdahulu, sedangkan yang terakhir adalah umat ini (umat Nabi Saw.). Ini dikatakan oleh Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dengan alasan ada sabda Rasulullah Saw. yang mengatakan:

"نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"

Kita adalah umat yang terakhir, tetapi yang paling dahulu kelak di hari kiamat.

Tetapi tidak ada seorang pun yang meriwayatkannya selain dia dan tiada seorang pun yang menisbatkannya kepada seseorang (selain dia). Dan di antara alasan lain bagi pendapat ini ialah adanya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad ibnu Abu Hatim, dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa Ibnu Tabba", telah menceritakan kepada kami Syarik ibnu Muhammad ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 13-14) Maka hal ini terasa berat bagi sahabat-sahabat Nabi Saw., lalu turunlah firman-Nya: (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40) Lalu Nabi Saw. bersabda:

إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبْعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، بَلْ أَنْتُمْ نِصْفُ أَهْلِ الْجَنَّةِ -أَوْ: شَطْرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ-وَتُقَاسِمُونَهُمُ النِّصْفَ الثَّانِي

Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat penghuni surga, sepertiga penduduk surga, bahkan kalian adalah setengah atau separo penduduk surga, sedangkan yang separo lainnya diperebutkan oleh mereka.

Imam Ahmad meriwayatkannya melalui Aswad ibnu Amir, dari Syarik, dari Muhammad ibnu Bayya' Al-Mala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula melalui hadis Jabir dengan lafaz yang semisal.

Al-Hafiz Ibnu Asakir telah meriwayatkannya melalui Hisyam ibnu Imarah, telah menceritakan kepada kami Abdu Rabbihi ibnu Saleh, dari Urwah ibnu Ruwayyim, dari Jabir ibnu Abdullah, dari Nabi Saw. Disebutkan bahwa ketika diturunkan surat Al-Waqi'ah yang di dalamnya disebutkan, "Segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian," maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, itu berarti segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari kalangan kita." Maka Rasulullah Saw. diam dari wahyu terhenti selama satu tahun, kemudian turunlah firman-Nya: (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan yang besar dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40); Maka Rasulullah Saw. bersabda:

"يَا عُمَرُ، تَعَالَ فَاسْمَعْ مَا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} ، أَلَا وَإِنَّ مِنْ آدَمَ إليَّ ثُلَّةً، وَأُمَّتِي ثُلَّةٌ، وَلَنْ نَسْتَكْمِلَ ثُلَّتَنَا حَتَّى نَسْتَعِينَ بِالسُّودَانِ مِنْ رُعَاةِ الْإِبِلِ، مِمَّنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ".

Hai Umar, kemarilah, dengarkanlah apa yang telah diturunkan oleh Allah, "(Yaitu) segolongan yang besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan yang besar pula dari orang-orang yang kemudian" (Al-Waqi'ah: 39-40). Ingatlah, sesungguhnya dari Adam sampai masaku adalah satu golongan, dan umatku adalah golongan lainnya. Dan bilangan kita masih belum mencapai dua pertiga (dari yang dijanjikan) hingga kita meminta bantuan dengan orang-orang yang berkulit hitam para penggembala unta dari kalangan orang-orang yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya..

Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam biografi Urwah ibnu Ruwayyim sanad dan matannya, tetapi dalam sanadnya masih ada hal yang harus diteliti ulang. Hanya saja telah disebutkan melalui berbagai jalur hadis Nabi Saw. yang mengatakan:

"إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبْعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ"

Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat ahli surga.

hingga akhir hadis, dan hadis ini merupakan hadis tunggal dalam Bab "Sifatul Jannah." Dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir dalam hal ini perlu diteliti ulang—bahkan dinilai lemah—karena umat ini adalah umat yang terbaik didukung oleh nas Al-Qur'an, sehingga jauh dari kemungkinan bila dikatakan bahwa golongan muqarribin ada pada selainnya dalam jumlah yang lebih banyak daripada apa yang ada pada umat ini, terkecuali bila mereka semua digabungkan menjadi satu untuk mengimbangi umat ini.

Makna lahiriahnya menunjukkan bahwa muqarribin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah) dari kalangan mereka jauh lebih banyak daripada apa yang ada di kalangan umat-umat yang lain.

Dalam masalah ini pendapat yang kedualah yang lebih kuat, yaitu yang mengartikan firman-Nya: segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. (Al-Waqi'ah: 13) Yaitu dari kalangan permulaan umat ini. dan segolongan yang kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 14) Yakni dari kalangan generasi selanjutnya dari umat ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bakar Al-Muzani, bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan membaca Al-Qur'an sampai pada ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). (Al-Waqi'ah: 10-11) Lalu Al-Hasan mengatakan bahwa adapun orang-orang yang paling dahulu beriman, maka sesungguhnya mereka telah pergi. Tetapi kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita termasuk golongan kanan (Ashabul yamin).

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Yahya yang mengatakan bahwa Al-Hasan membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. (Al-Waqi'ah: 10-13) Lalu ia mengatakan bahwa yang dimaksud ialah segolongan dari umat ini yang telah pergi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mugirah Al-Minqari. telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Muhammad ibnu Sirin, bahwa ia telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 13-14) Bahwa dahulu mereka mengatakan atau berharap semoga semuanya itu dari kalangan umat ini.

Demikianlah pendapat yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Ibnu Sirin, yaitu bahwa semuanya dari kalangan umat ini. Dan tidak diragukan lagi bahwa permulaan dari tiap-tiap umat lebih baik daripada yang terakhirnya. Dengan demikian, berarti dapat diartikan bahwa makna ayat ini bersifat umum mencakup semua umat, yang masing-masing umat menurut persentasinya tersendiri. Karena itulah disebutkan di dalam sebuah hadis yang terdapat di dalam kitab-kitab sahih dan lain-lainnya melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

"خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ"

Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang sesudah mereka. hingga akhir hadis.

Dan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah mencerita­kan kepada kami Ziad alias Abu Umar, dari Al-Hasan,dari Ammar ibnu Yasir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

"مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ، لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ"

Perumpamaan umatku adalah sama dengan hujan, tidak diketahui apakah yang baik itu permulaan ataukah akhirnya.

Hadis ini setelah diputuskan bahwa sanadnya sahih mengandung makna bahwa agama ini memerlukan permulaan umat yang berfungsi untuk menyampaikannya kepada generasi sesudahnya, begitu pula ia memerlukan orang-orang yang menegakkannya di masa-masa selanjutnya. Yaitu guna meneguhkan manusia agar tetap pada sunnah dan periwayatannya serta mempertahankan keberadaannya, hanya keutamaan ada pada generasi pendahulu. Demikian pula tanaman, memerlukan hujan di masa permulaannya sebagaimana ia pun memerlukan hujan di masa-masa mendatang. Akan tetapi, jasa yang terbesar adalah bagi hujan yang pertama dan kebutuhan tanaman akan yang pertama lebih kuat. Karena sesungguhnya seandainya tidak ada hujan yang pertama, tentulah bumi tidak dapat menumbuhkan tetumbuhannya dan akarnya pun tidak dapat hidup padanya. Karena itulah maka Nabi Saw. pernah bersabda:

"لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ، إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ".

Ada segolongan dari umatku yang terus-menerus berjuang membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghina mereka dan tidak pula orang-orang yang menentang mereka, sampai hari kiamat terjadi.

Menurut lafaz yang lain disebutkan:

"حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ"

hingga tibalah saatnya perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka dalam keadaan demikian (memperjuangkan perkara yang liak).

Maksud pengutaraan kesemuanya ini adalah untuk menunjukkan bahwa umat ini adalah umat yang paling mulia di antara semua umat, dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah dari kalangannya jauh lebih banyak jumlahnya daripada yang lainnya, serta lebih tinggi kedudukannya daripada umat-umat lainnya. Demikian itu berkat kemuliaan agamanya dan kebesaran nabinya.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Saw. telah disebutkan bahwa beliau Saw. pernah memberitakan bahwa di kalangan umat ini terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Dan menurut lafaz yang lain, tiap-tiap seribu orang dari mereka membawa tujuh puluh ribu orang. Menurut lafaz yang lainnya lagi, tiap-tiap orang dari mereka membawa tujuh puluh ribu orang.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ مَرْثَدٍ الطَّبَرَانِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ -هُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ-حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي ضَمْضَم -يَعْنِي ابْنَ زُرْعَة-عَنْ شُرَيْحٍ -هُوَ ابْنُ عُبَيْدٍ-عَنْ أَبِي مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَمَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُبْعَثَنَّ مِنْكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِثْلَ اللَّيْلِ الْأَسْوَدِ زُمْرَةٌ جَمِيعُهَا يُحِيطُونَ الْأَرْضَ، تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لَمَا جَاءَ مَعَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرُ مِمَّا جَاءَ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ، عَلَيْهِمُ السَّلَامُ"

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yazid At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur'ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Ingatlah, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya benar-benar akan dibangkitkan dari kalian kelak di hari kiamat sejumlah orang yang banyaknya seperti malam yang pekat karena semuanya menutupi bumi ini. Para malaikat merasa kagum melihat umat yang datang bersama Muhammad Saw. dalam jumlah yang lebih besar daripada apa yang dibawa oleh para nabi lainnya."

Sehubungan dengan tafsir firman Allah Swt.:

{ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ}

Segolongan besar dari orang- orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 13-14)

amatlah baik bila diketengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dala'ilun Nubuwwah:

أَخْبَرَنَا أَبُو نَصْرٍ بْنُ قَتَادَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرٍو بن مطر، حدثنا جعفر -[هو] بن مُحَمَّدِ بْنِ الْمُسْتَفَاضِ الْفِرْيَابِيُّ -حَدَّثَنِي أَبُو وَهْبٍ الوليد بن عبد الْمَلِكِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُسَرِّح الحرَّاني، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَطَاءٍ الْقُرَشِيُّ الْحَرَّانِيُّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْجُهَنِيِّ، عَنْ عَمِّهِ أَبِي مَشْجَعة بْنِ رِبْعِي، عَنْ ابْنِ زَمْل الْجُهَنِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم إذا صَلَّى الصُّبْحَ قَالَ، وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَهُ: "سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ. أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا" سَبْعِينَ مَرَّةً، ثُمَّ يَقُولُ: "سَبْعِينَ بِسَبْعِمِائَةٍ، لَا خَيْرَ لِمَنْ كَانَتْ ذُنُوبُهُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِمِائَةٍ". ثُمَّ يَقُولُ ذَلِكَ مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَقْبِلُ النَّاسَ بِوَجْهِهِ، وَكَانَ يُعْجِبُهُ الرُّؤْيَا، ثُمَّ يَقُولُ: "هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا؟ " قَالَ ابْنُ زَمْلٍ: فَقُلْتُ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: "خَيْرٌ تَلْقَاهُ، وَشَرٌّ تُوَقَّاهُ، وَخَيْرٌ لَنَا، وَشَرٌّ عَلَى أَعْدَائِنَا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. اقْصُصْ رُؤْيَاكَ". فَقُلْتُ: رَأَيْتُ جَمِيعَ الناس على طريق رحب سهل لا حب، وَالنَّاسُ عَلَى الْجَادَّةِ مُنْطَلِقِينَ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ أَشَفَى ذَلِكَ الطَّرِيقُ عَلَى مَرْجٍ لَمْ تَرَ عَيْنِي مِثْلَهُ، يَرِفُّ رَفِيفًا يَقْطُرُ مَاؤُهُ، فِيهِ مِنْ أَنْوَاعِ الْكَلَأِ قَالَ: وَكَأَنِّي بِالرَّعْلَةِ الْأَوْلَى حِينَ أَشَفَوْا عَلَى الْمَرْجِ كَبَّرُوا، ثُمَّ أَكَبُّوا رَوَاحِلَهُمْ فِي الطَّرِيقِ، فَلَمْ يَظْلِمُوهُ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا. قَالَ: فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِمْ مُنْطَلِقِينَ. ثُمَّ جَاءَتِ الرَّعْلَةُ الثَّانِيَةُ وَهُمْ أَكْثَرُ مِنْهُمْ أَضْعَافًا، فَلَمَّا أَشَفَوْا عَلَى الْمَرْجِ كَبَّرُوا، ثُمَّ أَكَبُّوا رَوَاحِلَهُمْ فِي الطَّرِيقِ، فَمِنْهُمُ الْمُرْتِعُ، وَمِنْهُمُ الْآخِذُ الضِّغْثَ. وَمَضَوْا عَلَى ذَلِكَ. قَالَ: ثُمَّ قَدِمَ عِظَمُ النَّاسِ، فَلَمَّا أَشَفَوْا عَلَى الْمَرْجِ كَبَّرُوا وَقَالُوا: (هَذَا خَيْرُ الْمَنْزِلِ) . كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَمِيلُونَ يَمِينًا وَشِمَالًا فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ، لَزِمْتُ الطَّرِيقَ حَتَّى آتِيَ أَقْصَى الْمَرْجِ، فَإِذَا أَنَا بِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى مِنْبَرٍ فِيهِ سَبْعُ دَرَجَاتٍ وَأَنْتَ فِي أَعْلَاهَا دَرَجَةً، وَإِذَا عَنْ يَمِينِكَ رَجُلٌ آدَمُ شَثْلٌ أَقْنَى، إِذَا هُوَ تَكَلَّمَ يَسْمُو فَيَفْرَعُ الرِّجَالَ طُولًا وَإِذَا عَنْ يَسَارِكَ رَجُلٌ رَبْعَةٌ بَاذٌّ كَثِيرُ خِيلَانِ الْوَجْهِ، كَأَنَّمَا حُمِّمَ شَعْرُهُ بِالْمَاءِ، إِذَا هُوَ تَكَلَّمَ أَصْغَيْتُمْ إِكْرَامًا لَهُ. وَإِذَا أَمَامَ ذَلِكَ رَجُلٌ شَيْخٌ أَشْبَهُ النَّاسِ بِكَ خَلْقًا وَوَجْهًا، كُلُّكُمْ تَؤُمُّونَهُ تُرِيدُونَهُ، وَإِذَا أَمَامَ ذَلِكَ نَاقَةٌ عَجْفَاءُ شَارِفٌ، وَإِذَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ تَبْعَثُهَا. قَالَ: فَامْتَقَعَ لَوْنُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاعَةً ثُمَّ سُرِّيَ عَنْهُ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَمَّا مَا رَأَيْتَ مِنَ الطَّرِيقِ السهل الرحب اللا حب، فَذَاكَ مَا حُمِلْتُمْ عَلَيْهِ مِنَ الْهُدَى وَأَنْتُمْ عَلَيْهِ. وَأَمَّا الْمَرْجُ الَّذِي رَأَيْتَ، فَالدُّنْيَا مَضَيْتُ أَنَا وَأَصْحَابِي لَمْ نَتَعَلَّقْ مِنْهَا بِشَيْءٍ، وَلَمْ تَتَعَلَّقْ مِنَّا، وَلَمْ نُرِدْهَا وَلَمْ تُرِدْنَا. ثُمَّ جَاءَتِ الرَّعْلَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ بَعْدِنَا وَهُمْ أَكْثَرُ مِنَّا أَضْعَافًا، فَمِنْهُمُ الْمُرْتِعُ، وَمِنْهُمُ الْآخِذُ الضِّغْثَ، وَنَجَوْا عَلَى ذَلِكَ. ثُمَّ جَاءَ عِظَمُ النَّاسِ، فَمَالُوا فِي الْمَرْجِ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. وَأَمَّا أَنْتَ، فَمَضَيْتَ عَلَى طَرِيقَةٍ صَالِحَةٍ، فَلَنْ تَزَالَ عَلَيْهَا حَتَّى تَلْقَانِي. وَأَمَّا الْمِنْبَرُ الَّذِي رَأَيْتَ فِيهِ سَبْعَ دَرَجَاتٍ وَأَنَا فِي أَعْلَاهَا دَرَجَةً، فَالدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ، أَنَا فِي آخِرِهَا أَلْفًا. وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي رَأَيْتَ عَلَى يَمِينِي الْآدَمُ الشَّثْلُ، فَذَلِكَ مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، إِذَا تَكَلَّمَ، يَعْلُو الرِّجَالِ بِفَضْلِ كَلَامِ اللَّهِ إِيَّاهُ. وَالَّذِي رَأَيْتَ عَنْ يَسَارِي الْبَازُّ الرِّبْعَةُ الْكَثِيرُ خِيلَانِ الْوَجْهِ، كَأَنَّمَا حُمِّمَ شَعْرُهُ بِالْمَاءِ، فَذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، نُكْرِمُهُ لِإِكْرَامِ اللَّهِ إِيَّاهُ. وَأَمَّا الشَّيْخُ الَّذِي رَأَيْتَ أَشْبَهَ النَّاسِ بِي خَلْقًا وَوَجْهًا فَذَاكَ أَبُونَا إِبْرَاهِيمُ، كُلُّنَا نَؤُمُّهُ وَنَقْتَدِي بِهِ. وَأَمَّا النَّاقَةُ الَّتِي رَأَيْتَ وَرَأَيْتَنِي أَبْعَثُهَا، فَهِيَ السَّاعَةُ، عَلَيْنَا تَقُومُ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَلَا أُمَّةَ بَعْدَ أُمَّتِي". قَالَ: فَمَا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رُؤْيَا بَعْدَ هَذَا إِلَّا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ، فَيُحَدِّثُهُ بِهَا مُتَبَرِّعًا

telah menceritakan kepada kami Abu Nasr ibnu Qatadah, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Matar, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Muhammad ibnul Mustafad Al-Faryabi, telah menceritakan kepadaku Abu Wahab alias Al-Walid ibnu Abdul Malik ibnu Abdullah ibnu Masrah Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ata Al-Qurasyi Al-Harrani, dari Muslim ibnu Abdullah Al-Juhani, dari pamannya (yaitu Abu Misyja'ah ibnu Rib'i), dari Abu Zamil Al-Juhani r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. apabila usai dari salat Subuhnya, beliau mengucapkan doa berikut seraya melipatkan kedua kakinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima tobat. sebanyak tujuh puluh kali. Setelah selesai, beliau Saw. bersabda: Tujuh puluh kali dengan imbalan(pahala) tujuh ratus kali. Tiada baiknya bagi orang yang dosa-dosanya dalam satu hari lebih banyak daripada tujuh ratus kali. Beliau Saw. mengucapkan sabdanya ini sebanyak dua kali, lalu menghadapkan mukanya kepada orang-orang (para makmum). Dan RasulullalrSaw. adalah seorang yang suka mendengar kisah mimpi yang baik, untuk itu beliau selalu bertanya, "Apakah ada seseorang di antara kalian yang melihat sesuatu dalam mimpinya(tadi malam)?" Abu Zamil menjawab, "Aku telah bermimpi tadi malam, wahai Rasulullah Saw." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Mudah-mudahan kebaikanlah yang kamu jumpai dan terhindar dari keburukan yang tidak kamu inginkan. Dan semoga menjadi kebaikan bagi kita dan menjadi keburukan bagi musuh-musuh kita; segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sekarang ceritakanlah mimpimu itu. Maka aku menjawab, "Aku bermimpi melihat semua manusia berada pada suatu jalan yang sangat luas, datar, lagi jelas, dan mereka berada di tengah jalan dalam keadaan bergerak maju. Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba jalan itu sampai kepada suatu lahan penggembalaan yang belum pernah kulihat tempat penggembalaan seperti itu; tetumbuhannya tumbuh dengan segarnya memukau pandangan mata. dan air hujan yang turun padanya menumbuhkan berbagai macam tetumbuhan yang hijau segar. Gelombang pertama dari manusia itu ketika sampai di lahan penggembalaan itu bertakbir, kemudian memacu kendaraan mereka meneruskan perjalanannya tanpa menoleh ke arah kanan maupun ke arah kiri. Dan aku melihat seakan-akan rombongan itu berjalan dengan cepatnya meneruskan perjalanannya. Kemudian datanglah gelombang manusia yang kedua, jumlah mereka berkali-kali lipat jumlah gelombang yang pertama. Ketika sampai di lahan itu mereka bertakbir, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan memacu kendaraan mereka. Di antara mereka ada yang melepaskan hewan kendaraan mereka di lahan itu, ada pula yang hanya mengambil bekal secukupnya, lalu meneruskan perjalanannya. Kemudian datanglah gelombang manusia yang paling besar. Ketika sampai di lahan penggembalaan itu mereka bertakbir (karena kagum), dan mereka mengatakan, 'Ini adalah sebaik-baik tempat tinggal." Seakan-akan aku melihat mereka bergerak ke arah kanan dan ke arah kiri (jalan). Aku melihat semua kejadian itu, sedangkan aku tetap berada pada jalan tersebut dan meneruskan perjalananku hingga sampai di penghujung lahan itu. Tiba-tiba aku bersua dengan engkau, wahai Rasulullah, sedang berada di atas mimbar yang tangga naik menuju ke atasnya terdiri dari tujuh susun tangga naik dan engkau berada di tangga yang paling atas. Dan tiba-tiba kulihat di sebelah kanan engkau terdapat seorang lelaki yang berkulit hitam manis, bertubuh gempal, lagi berperawakan tinggi; apabila berbicara, maka suaranya dapat didengar oleh semua orang. Tiba-tiba di sebelah kiri engkau terdapat seorang lelaki berperawakan sedang dengan wajah yang kelihatan agak murung, sedangkan rambutnya seakan-akan baru dibasuh dengan air; apabila dia berbicara, maka engkau diam karena menghormatinya. Dan tiba-tiba di hadapan lelaki itu terdapat seorang lelaki berusia lanjut yang rupanya sangat mirip dengan engkau, baik perawakan maupun wajahnya, dan kamu semua bermakmum kepadanya dan menginginkannya. Tiba-tiba di hadapan orang tua itu terdapat seekor unta betina yang kurus lagi sudah tua sekali. Dan tiba-tiba engkau, ya Rasulullah, seakan-akan engkau menggiring unta itu." Maka berubahlah wajah Rasulullah Saw. Sesaat setelah itu biasa kembali, lalu beliau Saw. bersabda, "Adapun mengenai jalan yang kamu lihat rata, luas, lagi jelas, maka itu merupakan gambaran tentang hidayah yang aku bawa kepada kalian dan kalian berada padanya. Sedangkan lahan penggembalaan yang kamu lihat itu merupakan gambaran tentang dunia dan kehidupannya yang memperdaya, aku dan para sahabatku menempuh kehidupan ini tanpa bergantung kepada sesuatu pun darinya, dan dunia pun tidak bergantung kepada kami, kami tidak menginginkannya sebagaimana dunia pun tidak menginginkan kami. Kemudian datanglah rombongan kedua sesudah kami, mereka berjumlah lebih banyak daripada kami dengan lipatan yang banyak; di antara mereka ada yang menggembalakan hewan kendaraannya, ada pula yang hanya mengambil bekal secukupnya, kemudian mereka dengan begitu tetap selamat. Kemudian datanglah manusia yang sangat besar jumlahnya, lalu mereka menyerbu lahan penggembalaan itu, ada yang ke arah kanan dan ada pula yang ke arah kiri (jalan). Inna lillahi wa inna ilaihi rdji'un (sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita hanya kepada-Nya dikembalikan). Mengenai dirimu itu, berarti engkau berada pada jalan yang baik, dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu hingga bersua denganku. Sedangkan takwil mimbar yang kamu lihat mempunyai tujuh buah tangga naik dan aku berada di tangga yang paling atas, artinya dunia ini berusia tujuh ribu tahun dan aku berada di seribu tahun yang terakhir. Mengenai lelaki yang kamu lihat berada di sebelah kananku yang berkulit hitam manis berperawakan gempal, dia adalah Musa a.s. Apabila berbicara, maka suaranya mengalahkan semua kaum lelaki berkat ia pernah diajak bicara langsung oleh Allah. Dan orang yang kamu lihat berada di sebelah kiriku yang berperawakan sedang, berwajah murung, seakan-akan rambut kepalanya dibasahi dengan air, dia adalah Isa putra Maryam, kami menghormatinya karena Allah menghormatinya. Adapun mengenai unta betina yang kamu lihat dan kamu saksikan dalam mimpimu itu aku membangunkannya, maka itu adalah hari kiamat. Hari kiamat akan dialami oleh kita; tiada nabi sesudahku dan tiada umat sesudah umatku."

Abu Zamil r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah Saw. tidak lagi menanyakan (kepada sahabatnya) tentang mimpi, terkecuali bila yang bersangkutan sendiri yang menceritakan kepada beliau tentang mimpi yang dialaminya dengan suka rela.

*******************

Firman Allah Swt.:

{عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ}

Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata. (Al-Waqi'ah: 15)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa dipan tersebut dihiasi dengan emas, yakni dilapisi dengannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Zaid ibnu Aslam, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya. As-Saddi mengatakan bahwa dipan itu dihiasi dengan emas dan mutiara. Ikrimah mengatakan, dipan itu terbuat dari permata dan yaqut. Ibnu Jarir mengatakan bahwa pengertian yang sama disebutkan pula terhadap tali pengikat pelana yang ada di bawah perut unta. Lafaz ini ber-wazan fa'il, tetapi maknanya maf'ul, mengingat pengertiannya menunjukkan sesuatu yang dipintal, maka demikian pula dipan-dipan di surga dihiasi dengan emas dan permata.

Firman Allah Swt.;

{مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ}

seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. (Al-Waqi'ah: 16)

Yaitu wajah sebagian dari mereka berhadapan dengan wajah sebagian yang lain, tiada seorang pun yang berada di belakang yang lainnya.

{يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ}

Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda. (Al-Waqi'ah: 17)

Yakni mereka tetap kekal dalam rupa yang sama, tidak menua, tidak beruban, tidak pula berubah.

{بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ}

dengan membawa gelas, cerek, dan piala berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir. (Al-Waqi'ah: 18)

Yang dimaksud dengan akwab ialah gelas yang tidak ada pegangannya dan tidak ada moncongnya. Dan yang dimaksud dengan abdriq ialah yang menghimpun kedua spesifikasi tersebut, yakni cerek. Semuanya diisi dengan khamr dari sungai khamr yang ada di dalam surga, bukan dari botol minuman, bahkan langsung dari sumbernya yang terus-menerus mengalir.

Firman Allah Swt.:

{لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنزفُونَ}

mereka tidak pening karena meminumnya dan tidak pula mabuk. (Al-Waqi'ah: 19)

Yakni kepala mereka tidak pusing dan akal mereka tidak tertutup, bahkan tetap normal disertai dengan pengaruh yang menyenangkan dan merasakan kelezatan minumannya.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan khamr dunia, bahwa peminumnya mengalami empat hal karena pengaruhnya, yaitu mabuk, pening, muntah, dan buang air kecil. Dan Allah Swt. menyebutkan tentang sifat khamr di surga, bahwa khamr di surga terbebas dari semua pengaruh tersebut.

Mujahid, Ikrimah. Said ibnu Jubair, Atiyyah, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya. mereka tidak pening karena meminumnya. (Al-Waqi'ah: 19) Artinya mereka di dalam surga tidak merasa pening karena meminumnya.

Mereka mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan tidak pula mabuk. (Al-Waqi'ah: 19) Yakni tidak menghilangkan akal sehat mereka.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ. وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ}

dan buah-buahan dari apa yang mereka inginkan dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (Al-Waqi'ah: 20-21)

Para pelayan surga itu mengelilingi mereka dengan membawa segala macam buah-buahan yang dipilih oleh mereka. Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan boleh memakan buah-buahan dengan memilihnya terlebih dahulu sebelum menyantapnya.

Hal ini diperkuat dengan hadis Ikrasy ibnuZu-aib yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli rahimahullah di dalam kitab musnadnya, bahwa:

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ النَّرْسِي، حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سَوِيَّةَ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عِكْراش، عَنْ أَبِيهِ عِكْراش بْنِ ذُؤَيْبٍ، قَالَ: بَعَثَنِي بَنُو مُرَّةَ فِي صَدَقَاتِ أَمْوَالِهِمْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، وَقَدِمْتُ عَلَيْهِ بِإِبِلٍ كأنها عروق الأرطى، قال: "من الرجل؟ "قُلْتُ: عِكْراش بْنُ ذُؤَيْبٍ. قَالَ: "ارْفَعْ فِي النَّسَبِ"، فَانْتَسَبْتُ لَهُ إِلَى "مُرَّةَ بْنِ عُبَيْدٍ"، وَهَذِهِ صَدَقَةُ "مُرَّةَ بْنِ عُبَيْدٍ". فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: هَذِهِ إِبِلُ قَوْمِي، هَذِهِ صَدَقَاتُ قَوْمِي. ثُمَّ أَمَرَ بِهَا أَنَّ تُوسَمَ بِمِيسَمِ إِبِلِ الصَّدَقَةِ وَتُضَمَّ إِلَيْهَا. ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَانْطَلَقْنَا إِلَى مَنْزِلِ أُمِّ سَلَمَةَ، فَقَالَ: "هَلْ مِنْ طَعَامٍ؟ " فَأُتِينَا بحفنة كَثِيرَةِ الثَّرِيدِ وَالْوَذَرِ، فَجَعَلَ يَأْكُلُ مِنْهَا، فَأَقْبَلْتُ أُخَبِّطُ بِيَدِي فِي جَوَانِبِهَا، فَقَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى يَدِي الْيُمْنَى، فَقَالَ: "يَا عِكْراش، كُلْ مِنْ مَوْضِعٍ وَاحِدٍ، فَإِنَّهُ طَعَامٌ وَاحِدٌ". ثُمَّ أُتِينَا بِطَبَقٍ فِيهِ تَمْرٌ، أَوْ رُطَبٌ -شَكَّ عُبَيْدُ اللَّهِ رُطَبًا كَانَ أَوْ تَمْرًا-فَجَعَلْتُ آكُلُ مِنْ بَيْنِ يَدِي، وَجَالَتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الطَّبَقِ، وَقَالَ: "يَا عِكْراش، كُلْ مِنْ حَيْثُ شِئْتَ فَإِنَّهُ غَيْرُ لَوْنٍ وَاحِدٍ". ثُمَّ أُتِينَا بِمَاءٍ، فَغَسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ وَمَسَحَ بِبَلَلِ كَفَّيْهِ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَرَأْسَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: "يَا عِكْراش، هَذَا الْوُضُوءُ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ".

telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid At-Tursi, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnul Fadl ibnu Abdul Malik ibnu Abu Saumah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Ikrasy, dari ayahnya (yaitu Ikrasy Ibnu Zu-aib) yang menceritakan bahwa Murrah mengutusnya untuk membawa harta zakat mereka kepada Rasulullah Saw. Ketika tiba di Madinah, ia menjumpai Rasulullah Saw. sedang duduk di antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar. Ia datang kepadanya dengan membawa unta-unta zakat yang jumlahnya cukup banyak. Beliau Saw. bertanya, "Siapakah lelaki ini?" Aku (Ikrasy) menjawab, "Ikrasy ibnu Zu-aib." Beliau Saw. bersabda, "Apakah nasab tidak diberlakukan lagi (dalam penyebutan nama)?" Maka aku kaitkan nasabku demi Rasulullah Saw. kepada Murrah, lalu kukatakan kepadanya, "Ini adalah harta zakat dari Murrah ibnu Ubaid." Maka Rasulullah Saw. tersenyum dan bersabda: Ini adalah ternak (dari) kaumku, dan ini adalah ternak zakat (dari) kaumku. Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan agar unta zakat itu diberi tanda dengan cap zakat, lalu digabungkan bersama-sama unta zakat lainnya. Setelah itu beliau memegang tanganku dan mengajakku pergi ke rumah Ummu Salamah, dan beliau bertanya, "Apakah ada makanan?" Maka kami disuguhi semangkuk makanan berupa. sarid (roti dicampur dengan kuah gulai) dan wazar (daging yang diiris kecil-kecil). Rasulullah Saw. makan dari mangkuk itu, sedangkan aku makan dengan menjulurkan tangan­ku ke semua bagian dari mangkuk itu. Lalu Rasulullah Saw. memegang tangan kananku dengan tangan kirinya dan bersabda, "Hai Ikrasy, makan­lah dari satu tempat, karena sesungguhnya makanan ini semuanya sama!" Seusai makan kami disuguhi sebaki buah-buahan yang berisikan buah kurma yang sudah disale atau kurma yang masih segar—Ubaidillah ragu yang mana di antara keduanya—, lalu aku makan dari satu tempat saja. Tetapi Rasulullah Saw. menjulurkan tangannya ke seluruh baki itu dan bersabda: Hai Ikrasy, makanlah dari bagian mana yang kamu sukai, karena sesungguhnya buah ini tidak satu macam. Sesudah itu didatangkan kepada kami air, dan Rasulullah Saw. membasuh tangannya, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya yang masih basah itu kepada wajah dan kedua tangan serta kepalanya sebanyak tiga kali. kemudian bersabda: Hai Ikrasy, ini adalah wudu karena telah memakan makanan (daging) yang telah dimasak.

Demikian pula hal yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Majah secara panjang lebar, dari Muhammad ibnu Basysyar, dari Abul Huzail alias Al-Ala ibnul Fadl dengan sanad yang sama. Lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui hadis Abul Huzail.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz ibnu Asad dan Affan; Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Syaiban, ketiga-tiganya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Sabit yang mengatakan bahwa sahabat Anas r.a. pernah bercerita bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang yang senang kepada ru-ya, adakalanya seseorang mengalami ru-ya (mimpi yang baik), lalu ia menanyakan takwilnya kepada Nabi Saw. karena ia tidak mengetahuinya. Dan apabila Nabi Saw. memuji mimpi yang dialaminya itu dengan pujian yang baik, maka orang yang bersangkutan amat senang dengan mimpinya itu.

Pada suatu hari datanglah seorang wanita, kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melihat dalam mimpiku seakan-akan aku didatangi dan dikeluarkan dari Madinah, lalu dimasukkan ke dalam surga. Kemudian aku mendengar suara gemuruh yang membuat surga bergetar karenanya. Ketika kulihat, ternyata penyebabnya adalah si Fulan bin Fulan dan si Anu bin Anu." Wanita itu menyebutkan sebanyak dua belas orang sahabat Nabi Saw. yang telah diutus oleh Nabi Saw. dalam suatu pasukan khusus sebelum itu. Kedua belas orang itu dimasukkan ke dalam surga, semuanya memakai pakaian yang berdebu dan pada bagian lehernya penuh dengan darah. Lalu dikatakan (kepada para malaikat), "Bawalah mereka ke Sungai Al-Baidakh atau Al-Baizakh." Selanjutnya mereka dibenamkan ke dalam sungai itu, dan mereka dikeluarkan darinya, sedangkan rupa mereka bagaikan rembulan di malam purnama.

Dan disuguhkan kepada mereka sebuah piring besar terbuat dari emas yang berisikan buah kurma, lalu mereka memakannya sepuas mereka. Maka tidak sekali-kali mereka membalikkan bagian dari piring besar itu, melainkan mereka memakan buah-buahan sepuas mereka, dan wanita itu ikut makan bersama-sama mereka.

Kemudian datanglah pembawa berita dari pasukan khusus itu (kepada Nabi Saw.) dan menceritakan apa yang dialami oleh pasukan itu yang kisahnya persis dengan kisah dalam mimpi itu. Disebutkan bahwa telah gugur dari pasukan itu si Anu dan si Fulan hingga semuanya berjumlah dua belas orang. Maka Rasulullah Saw. memanggil wanita itu dan bersabda kepadanya, "Ceritakanlah (kembali) mimpimu itu!" Wanita itu menceritakan mimpinya, bahwa lalu didatangkanlah si Fulan dan si Fulan (ke dalam surga) yang jumlah orangnya sama persis dengan apa yang diberitakan oleh si pembawa berita dari pasukan tersebut.

Hadis ini berdasarkan lafaz yang ada pada Abu Ya'la. Al-Hafiz Ad-Diya mengatakan bahwa sanad hadis ini dengan syarat Imam Muslim.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن الرَّجُلَ إِذَا نَزَعَ ثَمَرَةً فِي الْجَنَّةِ، عَادَتْ مَكَانَهَا أُخْرَى"

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Madini, telah menceritakan kepada kami Raihan ibnu Sa'id, dari Abbad ibnu Mansur, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya seseorang itu apabila memetik suatu buah dari surga, maka dari tempat yang dipetiknya itu muncul lagi buah lainnya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ}

dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (Al-Waqi'ah: 21)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضَّبُعِيُّ، حَدَّثَنَا ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ طَيْرَ الْجَنَّةِ كَأَمْثَالِ الْبُخْتِ، يَرْعَى فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ". فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ هَذِهِ لَطَيْرٌ نَاعِمَةٌ فَقَالَ: "أَكَلَتُهَا أَنْعَمُ مِنْهَا -قَالَهَا ثَلَاثًا-وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَأْكُلُ مِنْهَا"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sayyar ibnu Hatim, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman Ad-Dab'i, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya burung surga itu besarnya seperti unta, burung-burung itu terbang dengan bebasnya di pohon-pohon surga. Maka Abu Bakar r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya burung surga itu benar-benar burung yang hidupnya senang." Rasulullah Saw. bersabda: Aku akan memakannya dan merasa lebih senang darinya —sebanyak tiga kali—. Dan sesungguhnya aku berharap semoga engkau termasuk salah seorang yang memakannya.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara tunggal melalui jalur ini.

Al-Hafiz Abu Abdullah Al-Maqdisi di dalam kitabnya yang berjudul Sifatul Jannah telahmeriwayatkan melalui hadis Ismail ibnu Ali Al-Hatmi dari Ahmad ibnu Ali Huwaiti, dari Abdul Jabbar ibnu Asim. dari Abdullah ibnu Ziad, dari Zur'ah, dari Nafi' dari ibnu Umar yang menceritakan bahwa:

ذُكِرَتْ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا أَبَا بَكْرٍ، هَلْ بَلَغَكَ مَا طُوبَى؟ " قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: "طُوبَى شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ، مَا يَعْلَمُ طُولَهَا إِلَّا اللَّهُ، يَسِيرُ الرَّاكِبُ تَحْتَ غُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا، وَرَقُهَا الْحُلَلُ، يَقَعُ عَلَيْهَا الطَّيْرُ كَأَمْثَالِ الْبُخْتِ". فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ هُنَاكَ لَطَيْرًا نَاعِمًا؟ قَالَ: "أَنْعَمُ مِنْهُ مَنْ يَأْكُلُهُ، وَأَنْتَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ"

pernah disebutkan di hadapan Nabi Saw. tentang Tuba, maka beliau Saw. bersabda, "Hai Abu Bakar, apakah engkau pernah mendengar apakah Tuba itu?" Abu Bakar menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Tuba adalah sebuah pohon di dalam surga yang tingginya tiada yang mengetahuinya selain Allah, seorang pengendara berjalan di bawah naungan salah satu dari dahannya memerlukan waktu tujuh puluh musim gugur (tahun), dedaunannya bagaikan perhiasan, dan burung-burung (surga)yang (besarnya) seperti unta hinggap di atasnya. Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya di dalam surga itu benar-benar terdapat burung yang hidupnya senang." Rasulullah Saw. bersabda: Tetapi yang hidup lebih senang darinya adalah orang yang makan, dagingnya, dan Insya Allah engkau termasuk salah seorang dari mereka.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (Al-Waqi"ah: 21) Telah diceritakan kepada kami bahwa Abu Bakar pernah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berpendapat bahwa burung surga itu hidup senang sebagaimana para penghuninya yang hidup senang." Rasulullah Saw. menjawab:

"مَنْ يَأْكُلُهَا -وَاللَّهِ يَا أَبَا بَكْرٍ -أَنْعَمُ مِنْهَا، وَإِنَّهَا لَأَمْثَالُ الْبُخْتِ، وَإِنِّي لَأَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ تَأْكُلَ مِنْهَا يَا أَبَا بَكْرٍ"

Demi Allah, hai Abu Bakar, orang yang memakan dagingnya lebih senang darinya, dan sesungguhnya burung-burung surga itu besarnya seperti unta. Dan sesungguhnya aku benar-benar berharap kepada Allah, semoga engkau dapat memakan dagingnya, hai Abu Bakar.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ بْنُ أَبِي الدُّنْيَا: حَدَّثَنِي مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا مَعْنُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنِي ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم سئل عن الْكَوْثَرِ فَقَالَ: "نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، فِي الْجَنَّةِ، أَشَدَّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، فِيهِ طُيُورٌ أَعْنَاقُهَا يَعْنِي كَأَعْنَاقِ الْجُزُرِ". فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّهَا لَنَاعِمَةٌ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "آكِلُهَا أَنْعَمُ مِنْهَا".

Abu Bakar ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ma'an ibnu Isa, telah menceritakan kepadaku anak saudara lelakiku Ibnu Syihab, dari ayahnya, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang Al-Kausar. Maka beliau Saw. menjawab: Kausar ialah sebuah sungai di dalam surga yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu, padanya terdapat burung-burung (surga) yang lehernya seperti leher untajazur (yakni besarnya seperti unta jazur). Maka Umar berkata, "Sudah barang tentu burung-burung itu hidup dengan senang." Rasulullah Saw. bersabda: Aku akan memakan (daging)nya dan merasa lebih senang darinya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Abdu ibnu Humaid, dari Al-Qa'nabi, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Muslim ibnu Syihab, dari ayahnya. Imam Turmuzi kemudian mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan dari Anas.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الطَّنَافِسي، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ الوَصَّافي، عَنْ عَطِيَّةَ العَوْفِيّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَطَيْرًا فِيهِ سَبْعُونَ أَلْفَ رِيشَةٍ، فَيَقَعُ عَلَى صَحْفَةِ الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَنْتَفِضُ، فَيُخْرِجُ مَنْ كُلِّ رِيشَةٍ -يَعْنِي: لَوْنًا-أَبْيَضَ مِنَ اللَّبَنِ، وَأَلْيَنَ مِنَ الزُّبْدِ، وَأَعْذَبَ مِنَ الشَّهْدِ، لَيْسَ مِنْهَا لَوْنٌ يُشْبِهُ صَاحِبَهُ ثُمَّ يَطِيرُ"

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Ubaidillah ibnul Walid Al-Wassafi, dari Atiyyah Al-Aufi, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga itu benar-benar terdapat burung yang mempunyai tujuh puluh ribu bulu, lalu burung itu hinggap pada piring salah seorang dari penghuni surga, dan burung itu mengibaskan sayap (bulu)nya. Maka keluarlah darinya—yakni dari tiap bulunya— suatu warna yang lebih putih daripada air susu, lebih lunak daripada buih, dan lebih jernih daripada madu, dan tiap warna berbeda dengan warna lain yang dikeluarkannya."

Tetapi hadis ini garib sekali. Al-Wassafi dan gurunya keduanya berpredikat daif.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh juru tulis Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Al-Lais. telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yazid, dari Sa'id ibnu Abu Hilal ibnu Abu Hazm, dari Ata. dari Ka'b yang mengatakan bahwa sesungguhnya burung surga itu besarnya seperti unta, yang menjadi makanannya adalah buah-buahan surga, dan minumnya dari sungai-sungai surga. Kemudian burung-burung itu berbaris kepada seorang penghuni surga. Dan apabila penghuni surga itu menginginkan sesuatu dari burung itu, maka burung tersebut hinggap di hadapannya dan ia memakan bagian luar dan bagian dalam (yang diingininya), sesudah itu burung itu terbang kembali dalam keadaan tidak kurang dari sesuatu pun (yakni tubuhnya utuh kembali). Sanad hadis ini sahih sampai ke pada Ka'b.

قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، عَنْ حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ فَتَشْتَهِيهِ فَيَخِرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ مَشْوِيًّا"

Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid Al-A'raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya: Sesungguhnya engkau benar-benar memandang kepada burung (yang sedang terbang) di surga yang kamu ingini dagingnya, maka dengan serta merta burung itu terjatuh di hadapanmu dalam keadaan telah terpanggang (sudah masak).

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَحُورٌ عِينٌ. كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ}

Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan dengan baik. (Al-Waqi'ah: 22-23)

Sebagian dari mereka membacanya dengan bacaan rafa’ yang artinya bagi mereka ada bidadari-bidadari yang bermata jeli di dalam surga. Sedangkan yang membaca jar mengandung dua makna; salah satunya i'rab-nya dianggap mengikut kepada lafaz (kalimat) yang sebelumnya, yakni lafaz lahmi tairin, yang bentuk lengkapnya adalah seperti berikut:

{يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ. بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ. لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنزفُونَ. وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ. وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ. وَحُورٌ عِينٌ}

Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan piala berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karena meminumnya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan, dan bidadari-bidadari yang bermata jeli. (Al-Waqi'ah: 17-22)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

{وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ}

dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kedua kakimu. (Al-Maidah: 6)

Lafaz arjulakum di-'ataf-kan kepada wujlihakum. Semakna pula dengan apa yang telah disebutkan dalam firman-Nya:

{عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ}

Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal. (Al-Insan:21)

Makna yang kedua menunjukkan bahwa di antara anak-anak muda yang mengelilingi mereka terdapat pula bidadari-bidadari yang bermata jeli, tetapi hal ini terjadi di dalam gedungnya masing-masing, bukan di kalangan sebagian mereka dengan sebagian yang lainnya, bahkan di dalam kemah masing-masing mereka dikelilingi oleh para pelayan surga dan bidadari-bidadari yang bermata jeli; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

Firman Allah Swt.:

{كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ}

laksana mutiara yang tersimpan. (Al-Waqi'ah: 23)

Yakni penampilan mereka seakan-akan seperti mutiara dalam hal keputihan dan kejernihannya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam tafsir surat Ash-Shaffat.

{كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ}

seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (Ash-Shaffat: 49)

Dan dalam tafsir surat Ar-Rahman telah disebutkan pula gambaran tentang bidadari surga ini. Karena itulah maka dalam firman selanjutnya dari surat ini disebutkan:

{جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Waqi'ah: 24)

Yaitu semua sajian yang Kami suguhkan kepada mereka merupakan balasan dari amal baik yang telah mereka kerjakan (selama di dunia).

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا تَأْثِيمًا. إِلا قِيلا سَلامًا سَلامًا}

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, tetapi mereka mendengar ucapan salam. (Al-Waqi'ah: 25-26)

Yakni di dalam surga mereka tidak pernah mendengar perkataan yang tiada gunanya atau perkataan yang sia-sia atau perkataan yang mengandung makna yang kotor atau rendah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{لَا تَسْمَعُ فِيهَا لاغِيَةً}

di dalamnya tidak kamu dengar perkataan yang tidak berguna. (Al-Ghasyiyah: 11)

Maksudnya, kalimat yang sia-sia tiada gunanya.

{وَلا تَأْثِيمًا}

dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. (Al-Waqi'ah: 25)

Yakni kata-kata yang mengandung keburukan.

{إِلا قِيلا سَلامًا سَلامًا}

tetapi mereka mendengar ucapan salam. (Al-Waqi'ah: 26)

Yaitu hanya kata salam dari sebagian mereka kepada sebagian yang lain. seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ}

salam penghormatan mereka ialah 'Salam'. (Ibrahim: 23)

dan pembicaraan mereka pun bersih dari sia-sia dan yang mengandung keburukan.

56 Tafsir Surat Al-Waaqi'ah Ayat 27-40 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

4:56 PM Add Comment


Al-Waqi'ah, ayat 27-40

{وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ (27) فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ (28) وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ (29) وَظِلٍّ مَمْدُودٍ (30) وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ (31) وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ (32) لَا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ (33) وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ (34) إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (35) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (36) عُرُبًا أَتْرَابًا (37) لأصْحَابِ الْيَمِينِ (38) ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (39) وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ (40) }

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak terhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya usianya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) golongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.

Setelah Allah Swt. sebutkan perihal orang-orang yang terdahulu dan pahala yang mereka terima, yaitu orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. berikutnya Allah Swt. menyebutkan perihal Ashabul yamin (golongan kanan), mereka adalah orang-orang yang berbakti (takwa). Menurut Maimun ibnu Mahra'n, kedudukan golongan kanan berada di bawah kedudukan orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ}

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. (Al-Waqi'ah:27)

Maksudnya, siapakah golongan kanan itu dan keadaan mereka, serta bagaimanakah tempat kembali mereka? Kemudian ditafsirkan oleh firman selanjutnya:

{فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ}

Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri. (Al-Waqi'ah: 28)

Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Abul Ahwas, Qisainah ibnu Zuhair, As-Safar ibnu Qais. Al-Hasan, Qatadah, Abdullah ibnu Kasir, As-Saddi, dan Abu Hirzah serta lain-lainnya mengatakan bahwa pohon tersebut tidak ada durinya. Dan menurut Ibnu Abbas adalah pohon bidara yang dipenuhi dengan buahnya, ini menurut riwayat Ikrimah dan Mujahid. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Qatadah, bahwa kami selalu membicarakannya, bahwa pohon bidara tersebut rindang buahnya dan tidak berduri (berbeda dengan pohon bidara yang ada di bumi).

Makna lahiriahnya menunjukkan bahwa kalau pohon bidara di dunia penuh dengan duri dan sedikit buahnya, tetapi di akhirat sebaliknya, tidak berduri dan banyak buahnya yang membuat pohonnya terasa berat dengan buah-buah yang dikeluarkannya.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرِ بْنُ سَلْمَانَ النَّجَّادُ.حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ هُوَ الْبَغَوِيُّ، حَدَّثَنِي حَمْزَةُ بْنُ عَبَّاسٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ سُلَيْمِ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ: إِنَّ اللَّهَ لَيَنْفَعُنَا بِالْأَعْرَابِ وَمَسَائِلِهِمْ؛ قَالَ: أَقْبَلَ أَعْرَابِيٌّ يَوْمًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً تُؤْذِي صَاحِبَهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَمَا هِيَ؟ ". قَالَ: السِّدر، فَإِنَّ لَهُ شَوْكًا مُوذِيًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُولُ: {فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ} ، خَضَد اللَّهُ شَوْكَهُ، فَجَعَلَ مَكَانَ كُلِّ شَوْكَةٍ ثَمَرَةً، فَإِنَّهَا لَتُنْبِتُ ثَمَرًا تَفَتَّق الثمرةُ مِنْهَا عَنِ اثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ لَوْنًا مِنْ طَعَامٍ، مَا فِيهَا لَوْنٌ يُشْبِهُ الْآخَرَ"

Al-Hafiz Abu Bakar alias Ahmad ibnu Salman An-Najjar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, dari Sulaim ibnu Amir yang mengatakan bahwa dahulu para sahabat Rasulullah Saw. mengatakan, "Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan manfaat kepada kita dengan kebiasaan orang-orang badui dan permasalahannya." Pada suatu hari datanglah seorang Arab Badui, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, Allah Swt. telah menyebutkan bahwa di dalam surga terdapat sebuah pohon, yang dapat menyakiti pemiliknya." Maka Rasulullah Saw. balik bertanya, "Pohon apakah yang dimaksud?" Orang Badui menjawab, "Pohon bidara, sesungguhnya pohon bidara itu banyak durinya lagi menyakitkan." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Bukankah Allah Swt. telah berfirman, "Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri" (Al-Waqi'ah: 28). Allah telah melenyapkan semua durinya dan menggantikan setiap durinya dengan buah, maka sesungguhnya pohon bidara surga itu menghasilkan banyak buah; tiap buah darinya menghasilkan tujuh puluh dua rasa buah yang tiada suatu rasa pun yang mirip dengan yang lainnya.

Jalur lain.

قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ، حَدَّثَنِي ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ عُتْبة بن عبد السلمي قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَسْمَعُكَ تَذْكُرُ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً لَا أَعْلَمَ شَجَرَةً أَكْثَرَ شَوْكًا مِنْهَا؟ يَعْنِي: الطَّلْحَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ مَكَانَ كُلِّ شَوْكَةٍ مِنْهَا ثَمَرَةً مِثْلَ خُصْوَة التَّيْسِ الْمَلْبُودِ، فِيهَا سَبْعُونَ لَوْنًا مِنَ الطَّعَامِ، لَا يُشْبِهُ لَوْنٌ آخَرَ"

Abu Bakar ibnu Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musaffa, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Mubarak, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Hamzah, telah menceritakan kepadaku Saur ibnu Yazid, telah mencerita­kan kepadaku Habib ibnu Ubaid, dari Atabah ibnu Abdus Salma yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk bersama Rasulullah Saw., tiba-tiba datanglah seorang Badui, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku pernah mendengar engkau menceritakan tentang surga, bahwa di dalamnya terdapat suatu pohon yang sepengetahuanku pohon itu paling banyak durinya," maksudnya pohon bidara. Maka Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya Allah telah menggantikan tiap duri itu dengan buah seperti pelir kambing gunung yang gemuk, pada tiap buah terdapat tujuh puluh macam rasa yang satu sama lainnya tidak serupa (tidak sama rasanya).

*******************

firman Allah Swt.:

{وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ}

dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya). (Al-Waqi'ah: 29)

Talh, nama sebuah pohon besar yang banyak didapat di tanah Hijaz termasuk kelompok pohon 'idah. Bentuk tunggalnya talhah, pohon ini terkenal banyak durinya.

Ibnu Jarir mendendangkan sebuah syair yang biasa diucapkan oleh para penyair Badui untuk memberi semangat kepada unta-untanya agar berjalan cepat:

بَشَّرَهَا دَليلها وَقَالَا ... غَدًا تَرينَ الطَّلحَ والجبَالا ...

Penunjuk jalan menyampaikan berita gembira kepadanya dengan mengatakan, "Besok kamu akan melihat banyak pohon talh dan gunung-gunung.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang bersusun-susun(buahnya). (Al-Waqi'ah: 29) Yakni buahnya bersusun-susun.

Ia mengingatkan hal ini kepada orang-orang Quraisy karena mereka merasa kagum dengan pohon yang besar yang rindang naungannya seperti pohon talh dan pohon bidara. As-Saddi mengatakan bahwa mandud artinya berantai. Ibnu Abbas mengatakan bahwa pohon talh tersebut mirip dengan pohon talh yang ada di dunia, tetapi buahnya lebih manis daripada madu. Al-Jauhari mengatakan bahwa talh menurut istilah bahasa sama dengan tala'.

Menurut hemat kami. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui Al-Hasan ibnu Sa'd, dari seorang syekh, dari Hamdan yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ali r.a. mengatakan sehubungan dengan dialek yang menyebutkan bahwa talhin mandud artinya sama dengan tal'un mandul. Berdasarkan pengertian ini berarti kalimat ini merupakan sifat dari pohon bidara tersebut. Seakan-akan sifat dari pohon bidara itu telah dilenyapkan semua durinya dan bahwa mayangnya bersusun-susun, yakni banyak buahnya: hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Idris, dari Ja'far ibnu Iyas, dari Abu Nadrah. dari Abu Sa’id sehubungan dengan makna firman-Nya: dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya). (Al-Waqi'ah: 29) Bahwa pohon tersebut adalah pohon pisang.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas. Abu Hurairah. Al-Hasan, Ikrimah Qisamah ibnu Zuhair, Qatadah, dan Abu Hirzah. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Mujahid dan Ibnu Zaid. Disebutkan bahwa penduduk Yaman menamakan pisang dengan sebutan talh, tetapi Ibnu Jarir tidak meriwayatkan pendapat lainnya kecuali hanya pendapat ini.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}

dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30)

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -يبلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-قَالَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا، اقرؤوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abuz Zanad. dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah yang menyampaikannya dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, bila seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, ia masih belum menempuhnya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka akan firman-Nya, "Dan naungan yang terbentang luas.” (Al-Waqi'ah: 30)

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui Al-A'raj dengan sanad yang sama.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُرَيج، حَدَّثَنَا فُلَيح، عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرة، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظلها مائة سنة، اقرؤوا إن شئتم: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Abdur Rahman ibnu Abu Umrah, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara memerlukan waktu seratus tahun untuk menempuh naungannya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka akan firman-Nya, "Dan naungan yang terbentang luas.” (Al-Waqi'ah: 30)

Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadis Al-A'raj dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Muhammad ibnu Sufyan, dari Falih dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar. dari Hammam ibnu Munabbih, dari Abu Hurairah. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Hammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Ziad, dari Abu Hurairah dan Al-Lais ibnu Sa'd, dari Sa'id Al-Maqbari, dari ayahnya, dari Abu Hurairah; sedangkan Auf meriwayatkannya dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah dengan sanad yang sama.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ وَحَجَّاجٌ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، سَمِعْتُ أَبَا الضَّحَّاكِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيرة، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا سَبْعِينَ، أَوْ مِائَةَ سَنَةٍ، هِيَ شَجَرَةُ الْخُلْدِ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far dan Hajjaj. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Ad-Dahhak menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw.. bahwa beliau Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya memerlukan waktu tujuh puluh atau seratus tahun. Pohon itu adalah pohon Khuldi.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ قَالَ: "فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظلها مائة عام ما يقطعها، واقرؤوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}

Ibnu Abu Hatim mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum menempuh (seluruhnya). Bacalah oleh kalian jika kalian sukafirman Allah Swt. berikut, "Dan naungan yang terbentang luas.” (Al-Waqi'ah:30)

Sanad hadis berpredikat jayyid, tetapi mereka (Ahlus Sunan) tidak mengetengahkannya. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. dari Abu Kuraib, dari Abdah dan Abdur Rahim serta Bukhari, semuanya dari Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Abdur Rahim ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Khalid, dari Ziad maula Bani Makhzum. dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam surga benar-benar terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara memerlukan waktu seratus tahun untuk menempuh naungannya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka akan firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30) Maka sampailah hal ini kepada Ka'b, lalu Ka'b berkata, "Demi Tuhan yang telah menurunkan Taurat kepada Musa dan Al-Qur'an kepada Muhammad, dia benar. Seandainya seorang lelaki mengendarai unta hiqqah atau jaz'ah, lalu mengelilingi bagian atas (naungan) pohon itu, niscaya masih belum dapat mengelilinginya karena keburu pikun (tua renta). Sesungguhnya Allah telah menanamnya sendiri dengan tangan-Nya dan telah meniupkan ke dalamnya sebagian dari roh (ciptaan)-Nya. Dan sesungguhnya naungannya untuk orang-orang yang ada di balik tembok surga, dan tidak ada sebuah sungai pun di dalam surga melainkan bersumber dari akar pohon tersebut."

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَال الضَّرِيرُ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيع، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ} ، قَالَ: "فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا"

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Minhal yang tuna netra, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnuZurai', dari Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah. dari Anas, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30) Maka Nabi Saw. bersabda: Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum dapat menempuhnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Rauh ibnu Abdul Mu'in, dari Yazid ibnu Zurai'. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Imran ibnu Daud Al-Qattan, dari Qatadah dengan sanad yang sama. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ma'mar dan Abu Hilal, dari Qatadah dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan melalui hadis Abu Sa'id dan Sahl ibnu Sa'id, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:

"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْجَوَادَ المُضَمَّر السَّرِيعَ مِائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا"

Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum dapat menempuhnya.

Hadis ini telah terbukti dari Rasulullah Saw., bahkan mencapai predikat mutawatir yang dipastikan kesahihannya di kalangan para imam ahli hadis dan kritik sanad, karena jalur-jalurnya beraneka ragam dan sanadnya kuat serta para perawinya berpredikat siqah.

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Abu Husain yang mengatakan bahwa kami berada di salah satu pintu gerbang di suatu tempat, saat itu kami bersama Abu Saleh dan Syaqiq Ad-Dabbi. Abu Saleh mengatakan, telah menceritakan kepadanya Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya memerlukan waktu tujuh puluh tahun. Lalu Abu Saleh bertanya, "Apakah Abu Hurairah berdusta?" Maka Syaqiq menjawab.” Aku tidak mendustakan Abu Hurairah, tetapi aku mendustakan engkau." Maka peristiwa tersebut dirasakan oleh para qurra sangat berat.

Menurut hemat kami, sesungguhnya batillah orang yang mendustakan hadis ini mengingat kesahihannya telah terbuktikan dan predikat rafa'-nya sampai kepada Rasulullah Saw. sudah jelas.

قَالَ التِّرْمِذِيُّ:حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الفُرَات القَزَّاز، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا سَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ".

Imam Turmuzi mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnul Hasan ibnul Furat Al-Qazzaz, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada suatu pohonpun di dalam surga, melainkan batangnya dari emas

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abur Rabi', telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al-Aqdi, dari Zam'ah ibnu Saleh, dari Salamah ibnu Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa naungan yang membentang luas ialah sebuah pohon di dalam surga yang naungannya bila dikelilingi oleh seorang pengendara memerlukan waktu seratus tahun. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ahli surga—yaitu ahli surga yang berada di tempat-tempat yang tinggi— keluar menuju pohon itu; begitu pula penduduk surga lainnya, lalu mereka berkumpul di bawah naungannya sambil berbincang-bincang. Ibnu Abbas melanjutkan, bahwa sebagian di antara mereka teringat akan hiburan musik di dunia dan menginginkannya. Maka Allah mengirimkan angin dari surga dan menerpa pohon itu, lalu dari suara dedaunannya timbullah semua irama musik di dunia.

Asar ini garib, tetapi sanadnya jayyid, kuat lagi baik.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yaman, telah men­ceritakan kepada kami Abu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimnn sehubungan dengan makna firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30) bahwa untuk menempuhnya sama dengan perjalanan tujuh puluh ribu tahun.

Hal yang semisal diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimun sehubungan dengan makna firman-Nya, "Dan naungan yang terbentang luas," maka ia mengatakan sama dengan jarak perjalanan lima ratus ribu tahun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Nafi', dafi Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30) Bahwa di dalam surga terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum dapat menempuhnya.

قَالَ عَوْفٌ عَنِ الْحَسَنِ: بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا".

Auf telah meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa telah sampai kepadanya suatu berita yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga benar-benar terdapat sebuah pohon yang seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun masih belum menempuhnya.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Syabib telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa di dalam surga ada sebuah pohon yang tidak ditopang dan dijadikan sebagai naungan, ini menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Abu Hirzah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan naungan yang terbentang luas. (Al-Waqi'ah: 30) Yakni naungan yang tidak pernah terputus, di dalam surga tiada mentari dan tiada panas, kesegaran udaranya seperti sebelum munculnya fajar.

Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa udara surga sedang, sebagaimana udara di antara terbitnya fajar hingga terbitnya matahari.

Telah disebutkan pula ayat-ayat yang semakna, seperti firman-Nya:

{وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا}

dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. (An-Nisa: 57)

{أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا}

buahnya tak henti-hentinya dan naungannya (demikian pula). (Ar-Ra'd:35)

Dan firman Allah Swt.:

{فِي ظِلالٍ وَعُيُونٍ}

berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. (Al-Mursalat: 41)

Dan masih banyak ayat lainnya yang semakna.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ}

dan air yang tercurah. (Al-Waqi'ah: 31)

As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah air yang mengalir bukan dari parit, yakni luapannya. Pembahasan mengenai hal ini telah dikemukakan dalam tafsir firman Allah Swt.:

{فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ} الْآيَةَ

di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya. (Muhammad: 15), hingga akhir ayat.

Jadi, tidak perlu diulangi lagi dalam tafsir surat ini.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ. لَا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ}

dan buah-buahan yang banyak. Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya. (Al-Waqi’ah: 32-33)

Yakni pada mereka terdapat buah-buahan yang banyak lagi beraneka ragam warnanya yang termasuk di antara apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik dalam hati seorang manusia pun.

Dalam ayat lain disebutkan sebagai berikut, menggambarkan keadaan mereka dan buah-buahan yang mereka makan:

{كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا}

Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu. mereka mengatakan, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa. (Al-Baqarah: 25)

Yaitu bentuk dan rupanya satu sama lainnya sama, tetapi rasanya berbeda-beda.

Di dalam kitab Sahihain ada hadis yang menceritakan tentang Sidratul Muntaha, yang antara lain disebutkan bahwa ternyata dedaunan­nya sebesar-besar telinga gajah, dan buahnya seperti gentong buatan negeri Hajar.

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan pula melalui hadis Malik, dari Zaid, dari Ata ibnu Yasar, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa matahari mengalami gerhana, lalu Rasulullah Saw. melakukan salat gerhana dan orang-orang bermakmum kepadanya. Kemudian disebutkan perihal salat Rasulullah Saw., antara lain mereka bertanya, ''Wahai Rasulullah, kami melihat engkau mengambil sesuatu di tempat salatmu ini, kemudian kami melihat engkau mundur." Rasulullah Saw. menjawab:

"إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا"

Sesungguhnya aku melihat surga, maka aku berusaha untuk memetik setangkai buah anggur darinya. Seandainya aku dapat mengambilnya, niscaya kalian dapat memakannya selama dunia ini masih berputar.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمة، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا ابْنُ عَقِيلٍ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ، إِذْ تَقَدَّمُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَقَدَّمْنَا مَعَهُ، ثُمَّ تَنَاوَلَ شَيْئًا لِيَأْخُذَهُ ثُمَّ تَأَخَّرَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ لَهُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صنعتَ اليومَ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا مَا كُنْتَ تَصْنَعُهُ؟ قَالَ: "إِنَّهُ عُرِضَتْ علَيَّ الْجَنَّةُ، وَمَا فِيهَا مِنَ الزَّهْرَة والنُّضْرَة، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا قِطْفًا مِنْ عِنَبٍ لِآتِيَكُمْ بِهِ، فحِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ، وَلَوْ أَتَيْتُكُمْ بِهِ لَأَكَلَ مِنْهُ مِنْ بَيْنِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يُنْقِصُونَهُ"

Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abu Uqail, dari Jabir yang mengatakan bahwa ketika kami sedang melakukan salat Lohor, tiba-tiba Rasulullah Saw. maju, maka kami pun ikut maju bersamanya. Kemudian beliau seakan-akan meraih sesuatu yang hendak dipetiknya, tetapi beliau mundur kembali. Setelah salat selesai. Ubay ibnu Ka'b bertanya kepadanya, "Wahai Rasulullah, di hari ini engkau melakukan dalam salatmu suatu perbuatan yang tidak pernah engkau kerjakan sebelumnya." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya ditampakkan kepadaku surga dan semua perhiasan dan keindahannya, maka aku bermaksud memetik setangkai buah anggur darinya untuk kalian, tetapi ternyata ada penghalang antara aku dan buah anggur itu. Sekiranya aku dapat mendatangkannya kepada kalian, tentulah dapat memakannya semua orang yang ada di antara langit dan bumi, sedangkan setangkai buah anggur surga itu tidak berkurang sedikit pun.

Imam Muslim telah meriwayatkan hal yang semisal melalui hadis Abuz Zubairdan Jabir.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ عَامِرُ بْنُ زَيْدٍ البَكَالي: أَنَّهُ سَمِعَ عُتْبَةَ بْنَ عَبْدِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُ عَنِ الْحَوْضِ وَذَكَرَ الْجَنَّةَ، ثُمَّ قَالَ الْأَعْرَابِيُّ: فِيهَا فَاكِهَةٌ؟ قَالَ: "نَعَمْ، وَفِيهَا شَجَرَةٌ تُدْعَى طُوبَى" فَذَكَرَ شَيْئًا لَا أَدْرِي مَا هُوَ، قَالَ: أَيُّ شَجَرِ أَرْضِنَا تُشْبِهُ؟ قَالَ: "لَيْسَتْ تُشْبِهُ شَيْئًا مِنْ شَجَرِ أَرْضِكَ". فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أتيتَ الشَّامَ؟ " قَالَ: لَا. قَالَ: "تُشْبِهُ شَجَرَةً بِالشَّامِ تُدْعَى الجَوزة، تَنْبُتُ عَلَى سَاقٍ وَاحِدٍ، وَيَنْفَرِشُ أَعْلَاهَا". قَالَ: مَا عِظَمُ أَصْلِهَا؟ قَالَ: "لَوِ ارْتَحَلَتْ جَذعَة مِنْ إِبِلِ أَهْلِكَ مَا أَحَاطَتْ بِأَصْلِهَا حَتَّى تَنْكَسِرَ تَرْقُوَتُهَا هَرَمًا". قَالَ: فِيهَا عِنَبٌ؟ قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ: فَمَا عِظَمُ الْعُنْقُودِ؟ قَالَ: "مَسِيرَةُ شَهْرٍ لِلْغُرَابِ الْأَبْقَعِ، وَلَا يَفْتُرُ". قَالَ: فَمَا عظَم الحَبَّة؟ قَالَ: "هَلْ ذَبَحَ أَبُوكَ تَيْسًا مِنْ غَنَمِهِ قَطُّ عَظِيمًا؟ " قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: "فَسَلَخَ إِهَابَهُ فَأَعْطَاهُ أُمَّكَ، فَقَالَ: اتَّخِذِي لَنَا مِنْهُ دَلْوًا؟ " قَالَ: نَعَمْ. قَالَ الْأَعْرَابِيُّ: فَإِنَّ تِلْكَ الْحَبَّةَ لَتُشْبِعُنِي وَأَهْلَ بَيْتِي؟ قَالَ: "نَعَمْ وعامَّة عَشِيرَتِكَ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Bahr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Abu Yahya ibnu Abu Kasir, dari Amir ibnu Zaid Al-Bakkali, bahwa ia mendengar Atabah ibnu Abdus Salma mengatakan bahwa pernah seorang Badui datang kepada Rasulullah Saw. dan menanyakan kepada beliau tentang telaga dan gambaran tentang surga, dan orang Badui itu bertanya pula, "Apakah di dalam surga terdapat buah-buahan?" Rasulullah Saw. menjawab, "Ya, dan di dalam surga terdapat sebuah pohon yang diberi nama tuba." Lalu Rasulullah Saw. menyebutkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh lelaki Badui itu, maka ia bertanya, "Manakah di antara pepohonan tanah kami yang serupa dengannya?" Rasulullah Saw. menjawab, "Tiada suatu pohon negerimu yang mirip dengan pohon surga." Nabi Saw. balik bertanya, "Sudah pernahkah kamu ke negeri Syam?" Lelaki Badui itu menjawab, "Belum." Nabi Saw. bersabda, "Pohon tuba itu mirip dengan sebuah pohon yang ada di negeri Syam yang dikenal dengan nama pohon al-juzah. Pohon itu tumbuh pada satu batang, tetapi bagian atasnya rindang." Lelaki badui itu bertanya, "Seberapa besarkah satu tangkai buah darinya?" Nabi Saw. menjawab, "Sama dengan jarak perjalanan yang ditempuh oleh burung gagak yang berbulu belang selama satu bulan penuh tanpa berhenti." Lelaki Badui itu bertanya, "Seberapakah besar batangnya?" Nabi Saw. menjawab, "Sekiranya engkau larikan seekor unta jaz'ah milik kaummu untuk mengelilingi batang pohon itu. niscaya masih belum dapat mengelilinginya sampai tenggorokannya terputus karena terlalu tua." Lelaki Badui itu bertanya, "Apakah di dalam surga terdapat pohon anggur?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Lelaki Badui bertanya, "Seperti apakah besarnya buah anggur surga itu?" Nabi Saw. balik bertanya, "Apakah ayahmu pernah menyembelih pejantan yang paling besar dari ternak kambingnya?" Lelaki Badui menjawab, "Ya."Nabi Saw. bersabda, "Lalu ia mengulitinya dan memberikan kulitnya kepada ibumu seraya berkata, 'Buatlah timba air dari kulit ini untuk kita'." Lelaki Badui itu mengerti apa yang dimaksud oleh Nabi Saw., lalu ia berkata memberi komentar, "Bila sebesar itu, berarti satu biji buah anggur benar-benar dapat membuat aku kenyang berikut seluruh ahli baitku." Nabi Saw. bersabda, "Benar, dan juga seluruh handai tolanmu."

*******************

Firman Allah Swt.:

{لَا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ}

Yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya. (Al-Waqi'ah: 33)

Yakni tidak pernah terputus, baik di musim dingin maupun di musim panas, bahkan buahnya selalu ada selamanya. Manakala mereka menginginkannya, buah-buahan surga selalu ada dan mereka dapat menjumpainya, tiada suatu buah pun yang menolak terhadap mereka berkat kekuasaan Allah. Qatadah mengatakan bahwa tiada yang mencegah mereka dari memetiknya, baik itu ranting, duri, ataupun jarak yang jauh. Dalam hadis terdahulu telah disebutkan bahwa apabila seseorang memetik buah, maka saat itu juga dari tempat yang dipetiknya itu muncul lagi buah lain yang baru.

Firman Allah Swt.:

{وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ}

dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Al-Waqi'ah: 34)

Yaitu yang tebal, empuk, lagi lembut.

Imam Nasai dan Abu Isa At-Turmuzi mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب، حَدَّثَنَا رِشْدِِين بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ دَرَّاج، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: {وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ} قَالَ: "ارْتِفَاعُهَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَمَسِيرَةُ مَا بَيْنَهُمَا خَمْسُمِائَةِ عَامٍ"

telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Rasyidin ibnu Sa’d, dari Umar ibnul Haris, dari Darij, dari Abul Hais'am, dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Al-Waqi'ah: 34) Bahwa ketebalannya sama dengan jarak antara langit dan bumi, dan jarak antara keduanya sama dengan perjalanan lima ratus tahun.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui Rasyidin ibnu Sa'd.

Sebagian ahlul 'ilmi mengatakan bahwa makna hadis ini menunjukkan tingginya tingkatan-tingkatan kasur-kasur tersebut dan jarak antara dua tingkatan sama dengan jarak antara langit dan bumi. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa sesungguhnya tiada yang mengenal ini, melainkan hanya melalui riwayat Rasyidin ibnu Sa'd; dia adalah seorang dari Mesir yang berpredikat daif. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Abu Ja'far ibnu Jarir, dari Kuraib, dari Rasyidin dengan sanad yang sama.

Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan pula hadis ini yang keduanya dari Yunus ibnu Abdul A'la, dari Ibnu Wahb. dari Umar ibnul Haris, lalu disebutkan hal yang semisal. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim, dariNa'im ibnu Hammad, dari Ibnu Wahb, dan Ad-Diya telah mengetengahkannya di dalam Sifatul Jannah melalui hadis Harmalah, dari Ibnu Wahb dengan sanad dan lafaz yang semisal. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Hasan, dari Musa, dari Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Darij, lalu disebutkan hal yang semisal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. dari Juwaibir, dari Abu Sahl alias Kasir ibnu Ziad, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Al-Waqi"ah: 34) Bahwa makna yang dimaksud menggambarkan tentang ketinggian kasur seseorang dari ahli surga yang sama dengan jarak perjalanan delapan puluh tahun.

*******************

Firman Allah Swt.:

{إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً. فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا. عُرُبًا أَتْرَابًا. لأصْحَابِ الْيَمِينِ}

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan. (Al-Waqi'ah: 35-38)

Dalam ayat ini damir dialamatkan kepada yang tidak disebutkan; tetapi karena konteks ayat berkaitan dengan kasur-kasur yang menjadi tempat pembaringan para bidadari itu, maka sudah dianggap cukup dengan menyebutkan hal tersebut sebagai ganti dari mereka. Laludamir diulangi lagi penyebutannya dengan merujuk kepada mereka, seperti halnya yang ada di dalam firman Allah Swt.:

{إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ. فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ}

 (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang pada saat berhenti dan cepat saat berlari pada waktu sore, maka ia berkata, "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda)sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.” (Shad: 31 -32)

Menurut pendapat yang terkenal di kalangan ulama tafsir, lafaz tawarat damir yang ada padanya kembali kepada matahari, yakni sampai matahari tenggelam (bukan sampai kuda itu hilang dari pandangan).

Al-Akhfasy mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari). (Al-Waqi'ah:35) Kata ganti mereka disebutkan, padahal sebelumnya tidak disebutkan.

Menurut Abu Ubaidah, mereka (bidadari-bidadari) itu telah disebutkan dalam firman yang jauh sebelumnya, yaitu: Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli. laksana mutiara yang tersimpan baik. (Al-Waqi’ah: 22-23)

Adapun firman Allah Swt.:

{إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ}

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka. (Al-Waqi'ah: 35)

Yakni Kami kembalikan lagi mereka dalam penciptaan yang baru yang sebelumnya mereka telah tua renta, lalu menjadi perawan dan berusia muda kembali. Sesudah mereka tidak perawan lagi, kembali menjadi perawan dan penuh dengan gairah cinta serta disukai oleh suami-suami mereka karena mereka telah berubah rupa menjadi muda, cantik, dan menarik.

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna 'urban ialah manja.

Musa ibnu Ubaidah Ar-Rabzi telah meriwayatkan dari Ar-Raqqasyi, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. (Al-Waqi'ah: 35) Beliau Saw. bersabda:

"نِسَاءٌ عَجَائِزُ كُنّ فِي الدُّنْيَا عُمْشًا رُمْصًا"

Wanita yang dahulunya ketika di dunia telah tua dan matanya telah lamur lagi layu.

Imam Turmuzi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hadis ini, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, Musa dan Yazid keduanya daif.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Jabir, dari Yazid ibnu Murrah, dari Salamah ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menciptakan (bidadari-bidadari) dengan langsung. (Al-Waqi'ah: 35) Yakni janda dan perawan yang dahulunya di dunia.

وَقَالَ عَبْدُ بْنُ حُمَيد: حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ الْمِقْدَامِ، حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: أَتَتْ عَجُوزٌ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ. فَقَالَ: "يَا أُمَّ فُلَانٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لَا تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ". قَالَ: فَوَلَّت تَبْكِي، قَالَ: "أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لَا تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً. فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا}

Abdu ibnu Humaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Al-Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan yang menceritakan bahwa pernah ada seorang nenek-nenek berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia memasukkan aku ke dalam surga." Maka Rasulullah Saw. menjawab: Hai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh nenek-nenek. Maka nenek-nenek itu pergi seraya menangis. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: Beritahukanlah kepadanya bahwa dia tidak dapat memasukinya dalam keadaan nenek-nenek. Sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan ciptaan yang baru, maka Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi di dalam Asy-Syama-il melalui Abdu ibnu Humaid.

قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ سَهْلٍ الدِّمْيَاطِيُّ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ هَاشِمٍ الْبَيْرُوتِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَبِي كَرِيمَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِ اللَّهِ: {وَحُورٌ عِينٌ} [الْوَاقِعَةِ: 22] ، قَالَ: "حُورٌ: بِيضٌ، عِينٌ: ضِخَامُ الْعُيُونِ، شُفْر الْحَوْرَاءِ بِمَنْزِلَةِ جَنَاحِ النَّسْرِ". قُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِهِ: {كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ} [الْوَاقِعَةِ: 23] ، قَالَ: "صَفَاؤُهُنَّ صفاءُ الدَّرِّ الَّذِي فِي الْأَصْدَافِ، الَّذِي لَمْ تَمَسّه الْأَيْدِي". قُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِهِ: {فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ} [الرَّحْمَنِ:70] . قَالَ: "خَيّراتُ الْأَخْلَاقِ، حِسان الْوُجُوهِ". قُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِهِ: {كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ} [الصَّافَّاتِ: 49] ، قَالَ: "رِقَّتُهُنَّ كَرِقَّةِ الْجِلْدِ الَّذِي رَأَيْتَ فِي دَاخِلِ الْبَيْضَةِ مِمَّا يَلِي الْقِشْرَ، وَهُوَ: الغِرْقئُ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ قَوْلِهِ: {عُرُبًا أَتْرَابًا} . قَالَ: "هُنَّ اللَّوَاتِي قُبِضْنَ فِي دَارِ الدُّنْيَا عَجَائِزَ رُمْصًا شُمطًا، خَلَقَهُنَّ اللَّهُ بَعْدَ الْكِبَرِ، فَجَعَلَهُنَّ عَذَارَى عُرُبًا مُتَعَشِّقَاتٍ مُحَبَّبَاتٍ، أَتْرَابًا عَلَى مِيلَادٍ وَاحِدٍ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نِسَاءُ الدُّنْيَا أَفْضَلُ أَمِ الْحُورُ الْعِينِ؟ قَالَ: "بَلْ نِسَاءُ الدُّنْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، كَفَضْلِ الظِّهَارَةِ عَلَى الْبِطَانَةِ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَبِمَ ذَاكَ؟ قَالَ: "بِصَلَاتِهِنَّ وَصِيَامِهِنَّ وَعِبَادَتِهِنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، أَلْبَسَ اللَّهُ وُجُوهَهُنَّ النُّورَ، وَأَجْسَادَهُنَّ الْحَرِيرَ، بِيضُ الْأَلْوَانِ، خُضْرُ الثِّيَابِ، صُفْرُ الْحُلِيِّ، مَجَامِرُهُنَّ الدُّرّ، وَأَمْشَاطُهُنَّ الذَّهَبُ، يَقُلْنَ: نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نَمُوتُ أَبَدًا، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ أَبَدًا، وَنَحْنُ الْمُقِيمَاتُ فَلَا نَظْعَنُ أَبَدًا، أَلَا وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ أَبَدًا، طُوبَى لِمَنْ كُنَّا لَهُ وَكَانَ لَنَا". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْمَرْأَةُ مِنَّا تَتَزَوَّجُ زَوْجَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ وَالْأَرْبَعَةَ، ثُمَّ تَمُوتُ فَتَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَيَدْخُلُونَ مَعَهَا، مَنْ يَكُونُ زَوْجَهَا؟ قَالَ: "يَا أُمَّ سَلَمَةَ، إِنَّهَا تُخَيَّر فَتَخْتَارُ أَحْسَنَهُمْ خُلُقًا، فَتَقُولُ: يَا رَبِّ، إِنَّ هَذَا كَانَ أَحْسَنَ خُلُقًا مَعِي فَزَوِّجْنِيهِ، يَا أُمَّ سَلَمَةَ ذَهَبَ حُسْنُ الْخُلُقِ بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ"

Abul Qasim Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bakar ibnu Sahl Ad-Dimyati, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hasyim Al-Bairuni, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Abu Karimah, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Al-Hasan, dari ibunya, dari Ummu Salamah yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang makna firman-Nya: 'Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli' (Al-Waqi'ah:22)." Maka Rasulullah Saw. menjawab: "Berkulit putih, bermata jeli, lagi berbulu mata lentik seperti sayap burung elang.” Ia (Ummu Salamah) bertanya kembali, "Sebutkanlah kepadaku makna firman Allah Swt.: 'laksana mutiara yang tersimpan baik' (Al-Waqi'ah: 23)." Nabi Saw. menjawab: "Beningnya seperti mutiara yang berada dalam kerangnya lagi belum pernah tersentuh oleh tangan.” Ia bertanya, "Ceritakanlah kepadaku tentang makna firman-Nya: Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik' (Ar-Rahman: 70)." Maka beliau Saw. menjawab: "Akhlaknya baik-baik dan rupanya cantik-cantik.” Ia bertanya kembali, "Ceritakanlah kepadaku tentang makna firman Allah Swt.: 'Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik' (Ash-Shaffat: 49)." Nabi Saw. menjawab: "Kelembutan kulit bidadari-bidadari itu sama dengan kulit air telur yang kamu lihat berada di balik kulit luarnya.” Ia bertanya kembali tentang makna firman-Nya: penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi'ah: 37) Nabi Saw. menjawab: Mereka itu adalah wanita-wanita yang ketika di dunia meninggal dalam keadaan nenek-nenek, matanya lamur dan sudah peot. Lalu Allah menciptakan mereka kembali sesudah mereka tua menjadi perawan, penuh gairah cinta lagi dicintai, sedangkan usia mereka sebaya (muda-muda). Aku (Ummu Salamah) bertanya, "Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama antara wanita dunia dan bidadari?" Rasulullah Saw. menjawab: Tidak, wanita dunialah yang lebih utama daripada bidadari yang bermata jeli, seperti keutamaan bagian luar atas bagian dalam. Aku bertanya, "Mengapa demikian?" Beliau Saw. menjawab: "Berkat salat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah Swt. Allah memakaikan nur pada wajah mereka, dan pada tubuh mereka kain sutra yang putih dan pakaian mereka hijau dengan perhiasan berwarna kuning. Pedupaan mereka terbuat dari mutiara, dan sisir mereka dari emas. Mereka mengatakan. Kami adalah wanita-wanita yang kekal dan tidak akan mati selama-lamanya, kami adalah wanita-wanita yang hidup senang, maka kami tidak akan sengsara selama-lamanya. Kami adalah wanita-wanita yang selalu berada di tempat, maka kami tidak akan bepergian selama-lamanya; dan kami adalah wanita-wanita yang hidup dengan puas, maka kami tidak akan marah selama-lamanya. Beruntunglah bagi orang yang kami adalah istri-istrinya dan dia menjadi suami kami.” Aku bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, seseorang dari kami mengalami kawin dengan dua orang atau tiga atau empat orang lelaki, kemudian ia mati dan masuk surga, dan bekas suami-suaminya pun masuk surga pula bersamanya, maka siapakah di antara mereka yang menjadi suami kekalnya?" Rasulullah Saw. menjawab: hai Ummu Salamah, sesungguhnya dia disuruh memilih mana dari mereka yang paling baik akhlaknya. Maka ia akan berkala.”Ya Tuhanku, sesungguhnya orang ini adalah orang yang paling baik akhlaknya bersamaku, maka kawinkanlah aku dengan dia.” Hai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Di dalam hadis tentang sangkakala yang cukup panjang lagi terkenal disebutkan bahwa Rasulullah Saw. memberikan syafaat kepada semua orang-orang mukmin agar mereka dimasukkan ke dalam surga. Maka Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku telah mengizinkanmu untuk memberi syafaat, dan Aku izinkan bagi mereka untuk memasukinya." Dan tersebutlah bahwa Rasulullah Saw. sehubungan dengan hal ini bersabda:

"وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ، مَا أَنْتُمْ فِي الدُّنْيَا بِأَعْرَفَ بِأَزْوَاجِكُمْ وَمَسَاكِنِكُمْ من أهل الجنة بأزواجهم ومساكنهم، فَيَدْخُلُ الرَّجُلُ مِنْهُمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً، سَبْعِينَ مِمَّا يُنْشِئُ اللَّهُ، وَثِنْتَيْنِ مَنْ وَلَدِ آدَمَ لَهُمَا فَضْلٌ عَلَى مَنْ أَنْشَأَ اللَّهُ، بِعِبَادَتِهِمَا اللَّهَ فِي الدُّنْيَا، يَدْخُلُ عَلَى الْأُولَى مِنْهُمَا فِي غُرْفَةٍ مِنْ يَاقُوتَةٍ، عَلَى سَرِيرٍ مِنْ ذَهَبٍ مُكَلَّل بِاللُّؤْلُؤِ، عَلَيْهِ سَبْعُونَ زَوْجًا مِنْ سُنْدُس وَإِسْتَبْرَقٍ وَإِنَّهُ لَيَضَعُ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهَا، ثُمَّ يَنْظُرُ إِلَى يَدِهِ مِنْ صَدْرِهَا مِنْ وَرَاءِ ثِيَابِهَا وَجِلْدِهَا وَلَحْمِهَا، وَإِنَّهُ لَيَنْظُرُ إِلَى مُخِّ سَاقِهَا كَمَا يَنْظُرُ أَحَدُكُمْ إِلَى السِّلْكِ فِي قَصَبَةِ الْيَاقُوتِ، كَبِدُهُ لَهَا مِرْآةٌ -يَعْنِي: وَكَبِدُهَا لَهُ مِرْآةٌ-فَبَيْنَمَا هُوَ عِنْدَهَا لَا يَمَلُّهَا وَلَا تَمَلُّهُ، وَلَا يَأْتِيهَا مِنْ مَرَّةٍ إِلَّا وَجَدَهَا عَذْرَاءَ، مَا يَفْتُرُ ذَكَرُه، وَلَا تَشْتَكِي قُبُلها إِلَّا أَنَّهُ لَا مَنِيَّ وَلَا مَنيَّة، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ نُودِيَ: إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا أَنَّكَ لَا تَمَلُّ وَلَا تُمَلُّ، إِلَّا أَنَّ لَكَ أَزْوَاجًا غَيْرَهَا، فَيَخْرُجُ، فَيَأْتِيهِنَّ وَاحِدَةً وَاحِدَةً، كُلَّمَا جَاءَ وَاحِدَةً قَالَتْ: وَاللَّهِ مَا فِي الْجَنَّةِ شَيْءٌ أَحْسَنُ مِنْكَ، وَمَا فِي الْجَنَّةِ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْكَ".

Demi Tuhan yang telah mengutusku dengan benar, tidaklah kalian lebih mengetahui terhadap istri-istri dan tempat-tempat tinggal kalian daripada ahli surga terhadap istri-istri dan tempat-tempat tinggal mereka.  Seseorang lelaki dari mereka masuk menemui tujuh puluh dua orang istri dari bidadari yang telah diciptakan oleh Allah, dan.dua orang wanita dari kalangan manusia; keduanya mempunyai keutamaan yang melebihi bidadari yang diciptakan oleh Allah Swt. secara langsung, berkat ibadah keduanya semasa di duniaDan ia masuk menemui salah seorang istri dari wanita dunia di dalam sebuah gedung yang terbuat dari yaqut berada di atas dipan dari emas yang bertahtakan mutiara. Di atas dipan itu terdapat tujuh puluh macam pakaian yang terbuat dari kain sutra tebal dan tipis. Dan sesungguhnya ia benar-benar meletakkan tangannya di antara kedua tulang belikat istrinya, lalu ia melihat tangannya dari balik dada istrinya yang terlindung oleh pakaian, kulit dan dagingnya, tetapi ia dapat melihat tangannya dari balik kesemuanya itu. Dan bahkan ia dapat melihat kepada sumsum betisnya sebagimana seseorang dari kalian dapat melihat seutas benang yang berada di dalam lubang untaian yaqut. Dan hatinya mempunyai cermin, ketika ia sedang berasyik maksyuk dengannya yang kedua belah pihak tidak merasa bosan-bosan, ia merasa kaget karena tidak sekali-kali ia mendatanginya ternyata menjumpainya dalam keadaan perawan. Penisnya tidak pernah mengendur dan vaginanya tidak pernah merasa sakit, hanya saja persetubuhan itu tidak mengeluarkan air mani dari kedua belah pihak. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara memanggil yang mengatakan, "Sesungguhnya Kami mengetahui kamu tidak pernah merasa bosan darinya dan dia tidak merasa bosan pula darimu, hanya saja kamu masih mempunyai istri-istri lain selain dia." Maka untuk itu ia keluar dan mendatangi mereka seorang demi seorang, setiap kali ia mendatangi seseorang dari mereka, istri yang didatanginya mengatakan.”Demi Allah, tiada di dalam surga ini sesuatu pun yang lebih tampan daripada kamu. dan tiada sesuatu pun di dalam surga ini yang lebih aku cintai selain kamu."

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ: أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ دَرَّاج، عَنِ ابْنِ حُجَيرة، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَهُ: أَنَطأ فِي الْجَنَّةِ؟ قَالَ: "نَعَمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ دَحْمًا دَحْمًا، فَإِذَا قَامَ عَنْهَا رَجَعتْ مُطهَّرة بِكْرًا"

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris. dari Darij, dari Abu Hujairah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw., bahwa Abu Hurairah pernah bertanya, "Apakah kita bersetubuh di dalam surga?" Maka Rasulullah Saw. menjawab: Ya, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, dengan dorongan yang kuat dan kuat sekali, manakala ia berdiri darinya (lalu mengulanginya), ia menjumpainya dalam keadaan perawan kembali seperti semula.

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ جَابِرٍ الْفَقِيهُ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الدَّقِيقُ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ إِذَا جَامَعُوا نِسَاءَهُمْ عُدن أَبْكَارًا"

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Jabir Al-Faqih Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Malik Ad-Daqiqi Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ma'la ibnu Abdur Rahman Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Asim Al-Ahwal, dari Abul Mutawakkil, dari Abu Sa'id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya ahli surga itu setiap kali menyetubuhi istri-istri mereka, dia menjumpainya dalam keadaan perawan.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا عِمْران، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا وَكَذَا فِي النِّسَاءِ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَيُطِيقُ ذَلِكَ؟ قَالَ: "يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ".

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran, dari Qatadah, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Seorang mukmin di dalam surga diberi kekuatan sebanyak anu dan anu terhadap wanita.” Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah dia kuat melakukannya?” Rasulullah Saw. menjawab, ' Dia diberi kekuatan seratus kali lipat.”

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Abu Daud, dan ia mengatakan bahwa hadis ini sahih garib.

وَرَوَى أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ نَصِلُ إِلَى نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ؟ قَالَ: "إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ فِي الْيَوْمِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ"

Abul Qasim At-Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Husain ibnu Ali Al-Ju'fi, dari Zaidah, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah, apakah kita dapat menyetubuhi istri-istri kita di dalam surga?" Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar setiap harinya dapat menggauli seratus orang perawan.

Al-Hafiz Abu Abdullah Al-Maqdisi mengatakan bahwa hadis ini menurut hemat saya dengan syarat disebutkan di dalam kitab sahih; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

Firman Allah Swt.:

{عُرُبًا}

penuh cinta. (Al-Waqi'ah: 37)

Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah dicintai oleh suami-suami mereka, tidakkah engkau lihat unta yang cepat larinya, maka bidadari itu sama sepertinya (yakni disukai oleh pemiliknya).

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al-'urb artinya mencintai suami-suami mereka dan suami-suami mereka mencintai mereka. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Sarjis. Mujahid, Ikrimah, Abul Aliyah, Yahya ibnu Abu Kasir, Atiyyah, Al-Hasan. Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Saur ibnu Yazid telah meriwayatkan dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang makna firman-Nya: penuh cinta. (Al-Waqi'ah: 37) Yakni sangat mencintai suaminya.

Syu'bah telah meriwayatkan dari Sammak, dari Ikrimah, bahwa makna yang dimaksud ialah manja kepada suaminya. Al-Ahlaj ibnu Abdullah telah meriwayatkan dari Ikrimah. bahwa makna yang dimaksud ialah manja.

Saleh ibnu Hassan telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Buraidah sehubungan dengan makna firman-Nya: penuh cinta. (Al-Waqi'ah: 37) artinya syakilah menurut dialek penduduk Mekah dan ganjah menurut dialek penduduk Madinah. Artinya sama, yaitu manja. Menurut Tamim ibnu Hazlam, makna yang dimaksud ialah wanita yang bersikap baik kepada suaminya.

Zaid ibnu Aslam dan anaknya (yaitu Abdur Rahman) mengatakan bahwa al-'urb artinya baik dan indah tutur katanya.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: ذُكِرَ عَنْ سَهْلِ بْنِ عُثْمَانَ الْعَسْكَرِيِّ: حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم: {عُرُبًا} قَالَ: "كَلَامُهُنَّ عَرَبِيٌّ".

Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Sahl ibnu Usman Al-Askari. bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ali, dari Ja'far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: 'Urban artinya pembicaraan mereka memakai bahasa Arab.

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{أَتْرَابًا}

lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi'ah: 37)

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah usia mereka sama tiga puluh tiga tahun.

Mujahid mengatakan bahwa al-atrab artinya rata sebaya, dan menurut riwayat lain yang bersumber darinya semuanya berusia sama. Atiyyah mengatakan sepantar.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi'ah: 37) Yaitu akhlak mereka di antara sesamanya rukun dan damai, tiada permusuhan dan tidak ada rasa dengki atau iri hati di antara sesama mereka. Tidak sebagaimana halnya apa yang terjadi di antara para madu di dunia ini, yakni saling bermusuhan dan saling bersaing.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Abdullah ibnul Kahf, dari Al-Hasan dan Muhammad sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi'ah: 37)

Keduanya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka berusia sebaya dan semuanya hidup dengan rukun dan main bersama-sama.

قَدْ رَوَى أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ، عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مَنِيعٍ، عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَمُجْتَمَعًا لِلْحُورِ الْعِينِ، يَرْفَعْنَ أَصْوَاتًا لَمْ تَسْمَعِ الْخَلَائِقُ بِمِثْلِهَا، يَقُلْنَ نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نبِيد، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ، طُوبَى لِمَنْ كَانَ لَنَا وكُنَّا لَهُ"

Abu Isa At-Turmuzi telah meriwayatkan dari Ahmad ibnu Mani', dari Abu Mu'awiyah, dari Abdur Rahman ibnu Ishaq, dari An-Nu'man ibnu Sa'd. dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga benar-benar terdapat tempat pertemuan bagi para bidadari yang bermatajeli, mereka bernyanyi dengan suara merdu yang oleh semua makhluk belum pernah terdengar suara semerdu suara mereka. Mereka mengatakan, "Kami wanita-wanita yang kekal dan tidak akan binasa, kami wanita-wanita yang hidup senang dan tidak akan sengsara, kami wanita-wanita yang hidup puas dan tidak akan marah, maka beruntunglah bagi orang yang kami adalah istrinya dan dia adalah suami kami.”

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمة، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ فُلَانِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ، عَنْ بَعْضِ وَلَدِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الْحُورَ الْعِينَ لَيُغَنِّينَ فِي الْجَنَّةِ، يَقُلْنَ نَحْنُ خَيِّرات حِسان، خُبِّئنا لأزواج كرام"

Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zi-b, dari Fulan alias Abdullah ibnu Rafi', dari salah seorang putra Anas ibnu Malik, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya bidadari-bidadari yang bermata jeli itu benar-benar bernyanyi di dalam surga seraya mengatakan, "Kami adalah wanita-wanita yang baik-baik lagi cantik-cantik yang disimpan untuk suami-suami yang mulia.”

Aku berkata kepada Ismail ibnu Umar, bahwa Abul Munzir ini adalah salah seorang yang berpredikat siqat lagi sabat. 

Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Abdur Rahim ibnu Ibrahim yang dijuluki dengan sebutan Dahim, dari Abu Abu Fudaik, dari Ibnu AbuZ'ib, dari Aun ibnul Khattab ibnu Abdullah ibnu Rafi', dari salah seorang anak Anas, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"إِنَّ الْحُورَ الْعِينَ يُغَنِّينَ فِي الْجَنَّةِ: نَحْنُ الْجِوَارُ الْحِسَانُ، خُلِقْنَا لِأَزْوَاجٍ كِرَامٍ"

Sesungguhnya bidadari-bidadari yang bermata jeli itu bernyanyi di dalam surga, "Kami adalah bidadari bermata jeli yang cantik-cantik diciptakan untuk suami-suami yang mulia.”

*******************

Firman Allah Swt.:

{لأصْحَابِ الْيَمِينِ}

(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan. (Al-Waqi'ah: 38)

Yakni kami diciptakan untuk golongan kanan, atau disimpan untuk golongan kanan, atau dikawinkan untuk golongan kanan. Yang jelas ayat ini berkaitan dengan firman Allah Swt.:

{إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً. فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا. عُرُبًا أَتْرَابًا. لأصْحَابِ الْيَمِينِ}

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan. (Al-Waqi'ah: 35-38)

Dengan demikian, berarti artinya ialah Kami ciptakan mereka untuk golongan kanan. Ini menurut alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir.

Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah menurut suatu riwayat yang bersumber darinya menyebutkan bahwa ia salat di suatu malam, lalu duduk berdoa, sedangkan malam itu cuacanya sangat dingin, hingga ia terpaksa berdoa hanya dengan satu tangan. Lalu rasa kantuk menyerangnya hingga ia tertidur. Dalam tidurnya ia melihat bidadari yang bermata jeli yang kecantikannya tiada taranya, sedangkan ia mengatakan kepadanya, "Hai Abu Sulaiman, tegakah engkau berdoa kepada Allah hanya dengan satu tangan, sedangkan aku telah hidup dalam kenikmatan sejak lima ratus tahun yang lalu untukmu."

Menurut hemat saya, barangkali firman-Nya: untuk golongan kanan. (Al-Waqi'ah: 38) berkaitan dengan firman-Nya: lagi sebaya umurnya dengan golongan kanan. (Al-Waqi'ah: 37­-38) Yakni mereka dan suami-suami mereka dari golongan kanan sebaya usianya.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Jarir. dari Imarah ibnul Qa'qa', dari Abu Zar'ah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"أَوَّلُ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى ضَوْءِ أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرّيّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً، لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَتْفُلُونَ وَلَا يَتَمَخَّطُونَ، أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمُ الألُوّة، وأزواجهم الحور العين، أخلاقهم على خَلْق رَجُلٍ وَاحِدٍ، عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ، سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ"

Rombongan yang pertama masuk surga rupa mereka seperti rembulan di malam purnama, dan orang-orang yang sesudah mereka rupanya seperti bintang yang paling kuat cahayanya di langit. Mereka tidak buang air kecil dan air besar, dan tidak meludah serta tidak pula mengeluarkan ingus. Sisir mereka dari emas dan keringat mereka adalah minyak kesturi, pedupaan mereka adalah getah kayu uluwwah(yang sangat harum baunya), dan istri-istri mereka adalah bidadari yang bermata jeli. Akhlak mereka sama dengan akhlak satu orang (yakni sama), sedangkan rupa mereka seperti bapak moyang mereka Adam dengan tinggi enam puluh hasta menjulang ke langit.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun dan Affan, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah.

وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ، وَاللَّفْظُ لَهُ، مِنْ حَدِيثِ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ-عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَان، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَدْخُلُ أهلُ الجنةِ الجنةَ جُردا مُردًا بِيضًا جِعادًا مُكَحَّلين، أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ، وَهُمْ عَلَى خَلْق آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعَةِ أَذْرُعٍ"

Imam Tabrani telah meriwayatkan yang lafaz hadis berikut menurut yang ada padanya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ahli surga masuk ke dalam surga dalam keadaan tidak berpakaian, tampan, berkulit putih, berambut keriting, lagi bercelak mata dalam usia tiga puluh tiga tahun, bentuk mereka seperti bentuk bapak moyang mereka Adam dengan tinggi enam puluh hasta dan ketebalan tubuh tujuh hasta.

وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي دَاوُدَ الطَّيَالِسِيِّ، عَنْ عِمَرَانَ الْقَطَّانِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ شَهْر بْنِ حَوْشب، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْم، عَنْ مُعَاذ بْنِ جَبَل، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "يَدْخُلُ أهلُ الجنةِ الجنةَ جُردًا مُردًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ، أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً"

Imam Turmuzi meriwayatkan melalui Abu Daud At-Tayalisi, dari Imran Al-Qattan, dari Qatadah dan Syahr ibnu Hausyab, dari Abdur Rahman ibnu Ganam, dari Mu'az ibnu Jabal, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ahli surga masuk ke dalam surga dalam keadaan tidak berpakaian, dengan penampilan yang tampan lagi bercelak mata semuanya berusia tiga puluh tiga tahun.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

قَالَ ابْنُ وَهْبٍ: أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ دَرَّاجًا أَبَا السَّمْحِ حَدَّثه عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنْ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ، يُرَدون بَنِي ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ فِي الْجَنَّةِ، لَا يَزِيدُونَ عَلَيْهَا أَبَدًا، وَكَذَلِكَ أَهْلُ النَّارِ".

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, bahwa Darij alias Abus Saman pernah menceritakan hadis ini dari Abul Hais'am, dari Abu Sa'id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang mati sebagai calon penghuni surga, baik dalam usia masih muda atau sudah tua, semuanya dijadikan berusia tiga puluh tiga tahun di dalam surganya, usia mereka tidak bertambah untuk selama-lamanya; demikian pula keadaan ahli neraka.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini dari Suwaid ibnu Nasr, dari Ibnul Mubarak, dari Rasyidin ibnu Sa'd, dari Amr ibnul Haris dengan sanad yang sama.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ بْنُ أَبِي الدُّنْيَا: حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا روَّاد بْنُ الْجَرَّاحِ الْعَسْقَلَانِيُّ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ هَارُونَ بْنِ رِئَابٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَدْخُلُ أهلُ الجنةِ الجنةَ عَلَى طُولِ آدَمَ سِتِّينَ ذِرَاعًا بِذِرَاعِ الْمَلِكِ! عَلَى حُسْن يُوسُفَ، وَعَلَى مِيلَادِ عِيسَى ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً، وَعَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ، جُرْدٌ مُرْدٌ مُكَحَّلُون"

Abu Bakar ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Hasyim, telah menceritakan kepada kamiSafwan ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Rawwad ibnul Jarrah Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Harun ibnu Zi'ab, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ahli surga masuk ke dalam surga dengan tinggi badan seperti Adam. yaitu enam puluh hasta dengan ukuran hasta malaikat, ketampanannya seperti Yusuf, usianya seperti Isa yaitu tiga puluh tiga tahun, dan bahasanya seperti Muhammad (bahasa Arab), dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berjenggot, lagi bercetak mata.

قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ وَعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ قَالَا حَدَّثَنَا عُمَرُ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ هَارُونَ بْنِ رِئَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: "يُبعث أَهْلُ الْجَنَّةِ عَلَى صُورَةِ آدَمَ فِي مِيلَادِ ثلاثٍ وَثَلَاثِينَ، جُردًا مُردًا مُكَحَّلِينَ، ثُمَّ يُذْهَبُ بِهِمْ إِلَى شَجَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ فَيُكْسَوْنَ مِنْهَا، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ"

Abu Bakar ibnu Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Khalid dan Abbas ibnul Walid. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar, dari Al-Auza'i, dari Harun ibnu Zi'ab, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ahli surga dibangkitkan dalam rupa seperti Adam dan usia seperti Isa, yaitu tiga puluh tiga tahun, dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berjenggot, dan bercetak mata. Kemudian mereka diberangkatkan menuju ke sebuah pohon di dalam surga, lalu mereka mengenakan pakaian darinya, pakaian mereka tidak akan rusak dan usia muda mereka tidak akan lenyap.

*******************

Firman Allah Swt.:

{ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ}

(yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40)

Yakni segolongan dari orang-orang dahulu dan segolongan dari orang-orang terkemudian.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ شَاذَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدِ بْنِ بَشير، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَين، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ -قَالَ: وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَأْخُذُ عَنْ بَعْضٍ-قَالَ: أَكْرَيْنَا ذَاتَ لَيْلَةٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ غَدَوْنَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: "عُرضت عليَّ الْأَنْبِيَاءُ وَأَتْبَاعُهَا بِأُمَمِهَا، فَيَمُرُّ عَلَيَّ النَّبِيُّ، وَالنَّبِيُّ فِي الْعِصَابَةِ، وَالنَّبِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ، وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ -وَتَلَا قَتَادَةُ هَذِهِ الْآيَةَ: {أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} [هُودٍ: 78]-قَالَ: حَتَّى مرَّ عليَّ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ فِي كَبْكَبَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قلتُ: رَبِّي مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ". قَالَ: "قُلْتُ: رَبِّ فَأَيْنَ أُمَّتِي؟ قَالَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ فِي الظِّرَابِ. قَالَ: "فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ". قَالَ: "قَالَ: أَرَضِيتَ؟ " قَالَ: قُلْتُ: "قَدْ رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ عَنْ يَسَارِكَ فَإِذَا وُجُوهُ الرِّجَالِ. قَالَ: أَرَضِيتَ؟ قُلْتُ: "رَضِيتُ، رَبِّ". قَالَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعِينَ أَلْفًا، يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ". قَالَ: وَأَنْشَأَ عُكَّاشة بْنُ مُحْصَن مِنْ بَنِي أَسَدٍ -قَالَ سَعِيدٌ: وَكَانَ بَدْريًّا-قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: فَقَالَ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ". قَالَ: أَنْشَأَ رَجُلٌ آخَرُ، قال: يا نبي الله، ادع الله أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ: "سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ" قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ -فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي-أَنْ تَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّبْعِينَ فَافْعَلُوا وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الظِّرَابِ ، وَإِلَّا فَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ الْأُفُقِ، فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ نَاسًا كَثِيرًا قَدْ تأشَّبوا حَوْلَهُ". ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". فَكَبَّرْنَا، ثُمَّ قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا، قَالَ: "إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ". قَالَ: فَكَبَّرْنَا. ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} قَالَ: فَقُلْنَا بَيْنَنَا: مَنْ هَؤُلَاءِ السَّبْعُونَ أَلْفًا؟ فَقُلْنَا: هُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يُشْرِكُوا. قَالَ: فَبَلَغَهُ ذَلِكَ فَقَالَ: "بَلْ هُمُ الَّذِينَ لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ".

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Munzir ibnu Syazan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir, dari Qatadah. dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa dahulu sebagian dari mereka (sahabat) menerima hadis dari sebagian yang lainnya. Disebutkan bahwa pada suatu malam kami dijamu oleh Rasulullah Saw., kemudian pada pagi harinya kami kembali kepada beliau Saw., lalu beliau Saw. bersabda: bahwa tadi malam ditampilkan kepada beliau (dalam mimpinya) para nabi dan para pengikutnya berikut semua umatnya masing-masing. Maka lewatlah di hadapan beliau seorang nabi yang diikuti oleh segolongan manusia, dan nabi yang hanya diikuti oleh tiga orang serta nabi yang tidak diikuti oleh seorang jua pun. Qatadah membacakan ayat berikut, yaitu firman-Nya: Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? (Hud: 78)  (menceritakan siapa dia yang tidak diikuti oleh seorang pun). Akhirnya lewatlah di hadapan beliau Saw. Musa ibnu Imran bersama sejumlah besar kaum Bani Israil. Nabi Saw. bertanya, "Ya Tuhanku, siapakah orang ini?" Allah Swt. menjawab, "Ini adalah saudaramu Musa ibnu Imran dan orang-orang yang mengikutinya dari kaum Bani Israil." Aku bertanya.”Lalu manakah umatku?" Allah Swt. berfirman, "Lihatlah ke arah kananmu gelombang manusia yang banyak itu," dan ternyata mereka itu adalah manusia yang jumlahnya sangat besar. Allah berfirman, "Puaskah kamu?" Aku menjawab, "Aku telah puas, ya Tuhanku." Allah Swt. kembali berfirman, "Lihatlah ke cakrawala yang ada di sebelah kirimu," tiba-tiba terlihat gelombang manusia yang amat besar jumlahnya. Allah berfirman, "Puaskah kamu?" Aku menjawab, "Aku telah puas, ya Tuhanku." Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab." Saat itu juga Ukasyah ibnu Mihsan dari Bani Asad —yang menurut Sa'id adalah seorang yang ikut dalam Perang Badar— bangkit, lalu berkata, "Wahai Nabi Allah, doakanlah kepada Allah, semoga Dia menjadikan diriku termasuk di antara mereka yang tujuh puluh ribu itu." Maka Nabi Saw. berdoa: Ya Allah, jadikanlah dia seorang dari mereka. Kemudian bangkit pula lelaki lainnya dan berkata, "Wahai Nabi Allah, doakanlah kepada Allah, semoga Dia menjadikan diriku termasuk dari mereka." Nabi Saw. menjawab: Kamu telah kedahuluan oleh Ukasyah untuk mendapatkannya. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, "Jika kalian mampu, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, untuk menjadi orang-orang yang termasuk ke dalam yang tujuh puluh itu, berbuatlah. Jika tidak dapat, jadilah kalian termasuk orang-orang yang ada di sebelah kananku itu. Dan jika tidak dapat, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang ada di cakrawala sebelah kiriku. Karena sesungguhnya aku telah melihat banyak orang yang keadaan mereka digabungkan." Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat ahli surga. Lalu kami bertakbir, kemudian beliau Saw. bersabda: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah sepertiga ahli surga. Maka kami bertakbir, dan beliau Saw. bersabda lagi: Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah separo ahli surga. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Rasulullah Saw. membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan besar dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi’ah: 39-40); Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa lalu kami saling bertanya di antara sesama kami (para sahabat) menanyakan tentang siapa sajakah mereka yang termasuk di dalam tujuh puluh ribu orang itu. Akhirnya kami sepakat untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang dilahirkan di masa Islam dan tidak mengalami masa kemusyrikan. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah Saw., maka beliau Saw. bersabda: Tidak, mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan setrika, tidak meminta ruqyah dan tidak tatayyur (percaya kepada takhayul), dan hanya kepada Tuhan mereka saja mereka bertawakal.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui dua jalur lain dari Qatadah dengan sanad yang semisal dan lafaz yang serupa. Hadis ini mempunyai jalur periwayatan yang banyak selain dari jalur ini di dalam kitab-kitab sahih dan kitab-kitab hadis lainnya.

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مِهْرَان، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ. وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ} قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هُمَا جَمِيعًا مِنْ أُمَّتِي"

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Aban ibnu Abu Iyasy, dari Sa'id ibnu Jubair. dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan yang besar dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi'ah: 39-40) Bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Kedua-duanya dari kalangan umatku.