Loading...
Showing posts with label 050 QAAF. Show all posts
Showing posts with label 050 QAAF. Show all posts

50 Surat Qaaf - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

6:20 AM Add Comment


50. SURAT QAF

تَفْسِيرُ سُورَةِ ق

Makkiyyah, 45 ayat, kecuali ayat 38 Madaniyyah Turun sesudah Surat Al-Mursalat

Surat ini merupakan mula-mula kelompok surat Mufassal (surat yang pendek-pendek) menurut pendapat yang sahih, dan menurut pendapat yang lain dimulai dari surat Al-Hujurat. Sedangkan mengenai pendapat kalangan awam yang mengatakan bahwa surat-surat yang pendek itu dimulai dari 'Amma (surat An-Naba'), maka tiada dasar dalilnya dan tiada seorang ulama pun yang mengatakannya dari kalangan mereka yang dapat dipegang pendapatnya sepanjang pengetahuan kami.

Dalil yang menunjukkan bahwa surat Qaf ini adalah permulaan surat-surat Mufassal ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya, Bab "Tahzibul Qur'an" (Pengelompokkan Al-Qur'an). Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Qirab ibnu Tamam, dan telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa'id Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Hibban, yang hadis berikut berdasarkan teks yang ada padanya, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Ya'la, dari Usman ibnu Abdullah ibnu Aus, dari kakeknya. Abdullah ibnu Sa'id mengatakan bahwa hadis berikut diceritakan kepadaku oleh Aus ibnu Huzaifah, kemudian keduanya sama-sama menceritakan hadis berikut. Disebutkan bahwa kami datang menghadap kepada Rasulullah Saw. sebagai delegasi dari Bani Saqif. Kemudian sekutu-sekutu kaum muslim bertempat tinggal di perumahan Al-Mugirah ibnu Syu'bah r.a. Dan Rasulullah Saw. sendiri menempatkan Bani Malik di suatu kemah miliknya.

Musaddad mengatakan bahwa di antara delegasi yang datang kepada Rasulullah Saw. terdapat orang-orang dari Bani Saqif.

Tersebutlah bahwa Rasulullah Saw. setiap malam selalu mendatangi kami sesudah salat Isya dan berbincang-bincang dengan kami. Abu Sa'id hanya berdiri saja hingga kedua kakinya saling bergantian menopang tubuhnya karena lamanya berdiri.

Kebanyakan pembicaraan beliau Saw. kepada kami ialah menceritakan perlakuan yang menyakitkan dari kaumnya terhadap dirinya, kemudian beliau Saw. bersabda, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa karena kami saat itu (di Mekah) dalam keadaan lemah dan terhina. Dan ketika kami hijrah ke Madinah, terjadilah peperangan di antara kami secara bergantian; kadang kala kami beroleh kemenangan atas mereka, dan kadang kala mereka beroleh kemenangan atas kami."

Dan di suatu malam Rasulullah Saw. terlambat datang kepada kami tidak seperti biasanya saat beliau mendatangi kami. Maka kami berkata bahwa beliau datang terlambat kepada kami malam ini. Ketika beliau Saw. datang, maka bersabdalah beliau:

"إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَجِيءَ حَتَّى أُتِمَّهُ"

Sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku sekelompok ayat-ayat Al-Qur'an, maka aku tidak mau datang (menemui kalian) sebelum merampungkannya.

Aus berkata, bahwa lalu ia bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah Saw., "Bagaimanakah caranya kalian mengelompokkan Al-Qur'an menjadi beberapa hizib? Maka mereka menjawab, bahwa itu terdiri dari tiga kelompok, lima kelompok, tujuh kelompok, sembilan kelompok, sebelas kelompok, dan tiga belas kelompok, sedangkan hizib (kelompok) Mufassal tersendiri.

Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abu Khalid Al-Ahmar dengan sanad yang sama. Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman alias Ibnu Ya'la At-Ta-ifi dengan sanad yang sama.

Apabila telah diketahui, maka jumlah keseluruhannya ada empat puluh delapan surat, dan surat yang sesudahnya adalah surat Qaf. Untuk lebih jelasnya dapat disebutkan seperti berikut, bahwa yang tiga pertama ialah surat Al-Baqarah, surat Ali-Imran, dan surat An-Nisa. Dan yang lima surat itu ialah Al-Maidah, Al-An'am, Al-A'raf, Al-Anfal, dan At-Taubah. Berikutnya yang tujuh surat ialah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra'd, Ibrahim, Al-Hijr, dan An-Nahl. Yang sembilan ialah Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Taha, Al-Anbiya, Al-Hajj, Al-Mu’minun, An-Nur, Al-Furqan. Yang sebelas surat ialah Asy-Syu'ara, An-Naml, Al-Qashshas, Al-'Ankabut, Ar-Rum, Luqman, As-Sajdah, Al-Ahzab, Saba, Fatir, dan Yasin. Dan yang tiga belas surat ialah Ash-Shaffat, Shad, Az-Zumar, Al-Mu’min, Asy-Syura, Fushshilat, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Muhammad, Al-Fath, dan Al-Hujurat. Sesudah itu adalah hizib Mufassal atau kelompok surat-surat yang pendek-pendek, demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh para sahabat.

Dengan demikian, maka dapat ditentukan bahwa surat Qaf ini adalah permulaan dari surat Mufassal, seperti yang telah kami katakan di atas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Damrah ibnu Sa'id, dari Abdullah ibnu Ubaidillah, bahwa Umar ibnul Khattab pernah bertanya kepada Abu Waqid Al-Laisi mengenai surat yang dibaca oleh Rasulullah Saw. dalam salat hari rayanya. Maka Abu Waqid menjawab, "Qaf dan Al-Qamar."

Imam Muslim dan Ahlus Sunan yang empat orang telah meriwayatkannya melalui hadis Malik dengan sanad yang sama.

Di dalam riwayat Imam Muslim, dari Malik, dari Damrah, dari Abdullah, dari Abu Waqid disebutkan bahwa Umar r.a. pernah bertanya kepadanya tentang hal tersebut, lalu ia menjawabnya dengan jawaban yang tersebut di atas.

Hadis lainImam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar ibnu Amr ibnu Hazm, dari Yahya ibnu Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu As'ad ibnu Zurarah, dari Ummu Hisyam binti Harisah yang mengatakan bahwa dahulu dapur kami dan dapur Nabi Saw. menjadi satu selama satu atau dua tahun atau satu setengah tahun, dan tidaklah aku menerima surat Qaf melainkan langsung dari lisan Rasulullah Saw. Beliau Saw. selalu membacanya setiap hari Jumat di atas mimbarnya apabila berkhotbah.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui hadis Ibnu Ishaq dengan sanad yang sama.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Habib ibnu Abdullah ibnu Muhammad Ibnu Ma'an, dari Bintil Haris ibnun Nu'man yang menceritakan bahwa tidaklah aku hafal surat Qaf melainkan langsung dari lisan Rasulullah Saw. yang beliau bacakan di setiap hari Jumat dalam khotbahnya. Bintil Haris mengatakan bahwa dahulu dapur kami dan dapur Rasulullah Saw. pernah bersatu.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang sama.

Tujuan utama dari pengetengahan semua riwayat di atas ialah untuk membuktikan bahwa Rasulullah Saw. sering membaca surat Qaf ini di hari-hari besar, seperti hari raya dan salat-salat Jumat. Karena di dalam surat ini terkandung permulaan kejadian, kebangkitan, hisab, surga, neraka, pahala, azab, dan targibserta tarhib. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

50 Tafsir Surat Qaaf Ayat 1-5 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

6:19 AM Add Comment


Qaf, ayat 1-5

{ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ (1) بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ (2) أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ (3) قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الأرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ (4) بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ (5) }

Qaf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia.(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib.” Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.

Qaf adalah salah satu dari huruf Hijaiah yang telah disebutkan pada permulaan surat-surat Al-Qur'an, sama halnya dengan Shad, Nun, Alif Lam Mim, Ha Mim, Ta Sin, dan lain sebagainya, menurut Qatadah dan lain-lainnya yang keterangannya telah kami kemukakan dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Menurut apa yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf, Qaf adalah nama sebuah gunung. Seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— riwayat ini bersumber dari dongengan-dongengan kaum Bani Israil, lalu diambil oleh sebagian orang karena adanya pembolehan mengambil riwayat dari mereka menyangkut hal-hal yang tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat pula didustakan.

Menurut hemat saya, hal ini dan yang semisal dengannya termasuk salah satu dari buatan kaum zindiq mereka (Bani Israil) yang sengaja mereka sisipkan dalam agama mereka untuk mengelabul urusan agama mereka. Sebagaimana telah dilakukan buatan-buatan seperti ini di kalangan umat ini, padahal banyak memiliki ulama yang agung, para ahli hafal hadis, dan para Imam mujtahidin, yaitu hadis-hadis buatan yang disandarkan kepada Nabi Saw. Padahal masa umat ini dengan nabinya masih belum begitu jauh. Maka terlebih lagi dengan umat Bani Israil yang masanya begitu jauh, sedangkan para ahli hafal kitab yang kritis sangat minim di kalangan mereka. Dan lagi kebiasaan mereka dalam meminum Khamr dan para ulamanya yang berani mengubah kalimat­-kalimat Al-Kitab dari tempat-tempat yang sebenarnya serta berani pula mengganti kitab Allah dan ayat-ayat-Nya.

Sesungguhnya syariat kita memperbolehkan pengambilan riwayat dari mereka (Ahli Kitab) hanyalah sebatas apa yang telah digariskan oleh Nabi Saw. melalui sabdanya:

"وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَلَا حَرَجَ"

Berceritalah dari Bani Israil tidak ada dosa.

Yaitu sebatas apa yang diperbolehkan oleh kaidah rasio. Adapun mengenai hal-hal yang irasional dan jelas batil serta dicurigai dusta, maka hal tersebut bukanlah termasuk ke dalam apa yang diperbolehkan oleh hadis di atas. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Banyak dari kalangan ahli tafsir ulama Salaf dan juga sejumlah besar ulama Khalaf yang meriwayatkan kisah-kisah dari kitab-kitab Ahli Kitab dalam jumlah yang boleh dikata cukup banyak sehubungan dengan tafsir Al-Qur'anul Karim, padahal yang sebenarnya mereka tidak memerlukan berita-berita dari mereka.

Dan ironisnya Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim Ar-Razi sendirirahimahullah sehubungan dengan tafsir ayat ini telah mengetengahkan sebuah atsar yang garib. yang sanadnya tidak sahih sampai pada Ibnu Abbas r.a.

Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku yang mengatakan bahwa ia pernah mendapat cerita dari Muhammad ibnu Ismail Al-Makhzumi, bahwa telah menceritakan kepada kami Lais ibnu Abu Salim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Allah Swt. telah menciptakan lautan di balik bumi ini yang mengelilinginya, kemudian di balik lautan itu Allah menciptakan sebuah gunung yang diberi nama Gunung Qaf; langit yang terdekat mengatapinya. Kemudian di balik gunung itu Allah Swt. menciptakan pula bumi sebesar tujuh kali lipat bumi ini. Kemudian Allah Swt. di balik itu menciptakan lautan yang mengelilinginya, lalu Dia di balik itu menciptakan sebuah gunung yang dinamakan Gunung Qaf, langit yang kedua mengatapinya, hingga hal yang sama diciptakan pada tujuh bumi dan tujuh laut, dan tujuh gunung, serta tujuh langit. Kemudian Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa itulah yang dimaksud oleh firman Allah Swt. yang mengatakan: dan laut itu ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudahnya. (Luqman: 27)

Sanad atsar ini munqati (ada mata rantai yang terputus).

Yang jelas menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dan Ibnu Abbas ra sehubungan dengan Qaf ini, ia adalah salah satu dan Asma Allah Swt.

Dan menurut riwayat dari Mujahid, Qaf adalah salah satu dan huruf Hijaiah sama halnya dengan firman Allah Swt. lainnya yang mengawal, banyak surat, seperti Shad, Nun, Ha Mim, Ta Sin, Alif Lam Mim dan lain sebagainya. Ini Jelas berbeda jauh sekali dari apa yang dikatakan bersumber dari Ibnu Abbas r.a. di atas.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan Qaf ialah Qudiyal Amru Wallahi, yakni 'Demi Allah, urusan itu telah diputuskan . Dan bahwa firman Allah Swt. ini menunjukkan adanya kalimat yang terbuang yang berkaitan dengannya, semisal dengan apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

قلت لها: قفي فقلت: قَافْ ...

Kukatakan kepadanya.Berhentilah!" Maka dia berkata.Stop!"

Tetapi tafsir seperti ini masih diragukan, karena adanya kalimat yang terbuang hanya dapat ditunjukkan melalui konteks yang menunjuk ke arahnya. Lalu darimanakah pengertian seperti itu dalam huruf Qaf ini?

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ}

Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (Qaf: 1)

Yakni Al-Qur'an yang sangat mulia lagi sangat agung.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42)

Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan jawaban dari sumpah yang disebutkan dalam ayat ini.

Menurut Ibnu Jarir dan sebagian ulama Nahwu, jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.:

{قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الأرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ}

Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). (Qaf: 4)

Tetapi pendapat ini masih diragukan, bahkan sebenarnya jawab qasam-nya telah terkandung di dalam kalimat sesudahnya, yaitu menetapkan kenabian dan hari kemudian, yakni mengukuhkan dan meyakinkan keberadaannya, sekalipun hal tersebut tidak disebutkan secara teks; hal seperti ini banyak didapati dalam qasam-qasam yang ada dalam Al-Qur'an, seperti pada pembahasan yang terdahulu dalam firman-Nya:

{ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ}

Shad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shad: 1-2)

Hal yang sama disebutkan di dalam surat ini melalui firman-Nya:

{ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ}

Qaf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib.” (Qaf: 1-2)

Yakni mereka merasa heran dengan adanya seorang rasul dari kalangan manusia yang diutus kepada mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ}

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia.” (Yunus: 2)

Yaitu hal ini bukanlah merupakan peristiwa yang mengherankan, karena sesungguhnya Allah memilih dari kalangan malaikat dan manusia menjadi utusan-Nya.

Kemudian Allah Swt. berfirman, menceritakan keheranan mereka tentang adanya hari kembali yang mereka anggap sebagai hal yang mustahil:

{أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ}

Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (Qaf: 3)

Mereka mengatakan, "Apakah bila kita telah mati dan menjadi tulang belulang serta semua sendi tulang-tulang kita bercerai-berai, dan kita menjadi tanah, apakah mungkin sesudah itu kita akan dihidupkan kembali seperti semua alam bentuk dan susunan yang sekarang ini seutuhnya?"

{ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ}

Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (Qaf: 3)

Yakni mustahil bisa terjadi. Makna yang dimaksud ialah mereka tidak meyakini adanya hari berbangkit dan beranggapan bahwa itu mustahil. Maka dalam firman selanjutnya Allah Swt. menjawab mereka:

{قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الأرْضُ مِنْهُمْ}

Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka. (Qaf: 4)

Artinya, Kami mengetahui apa yang dimakan oleh bumi dari tubuh-tubuh mereka yang telah hancur, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Kami dimanakah tubuh mereka dan menjadi apakah tubuh mereka.

{وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ}

dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat) (Qaf: 4)

Yakni yang mencatat semuanya itu; ilmu Allah meliputi semuanya dan segala sesuatu telah dicatat di dalam Kitab di sisi-Nya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka. (Qaf: 4) Yaitu bumi yang memakan daging, kulit dan tulang serta rambut mereka.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Kemudian Allah Swt. menjelaskan penyebab kekafiran mereka, keingkaran dan anggapan mustahil mereka terhadap hal yang tidak mustahil. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ}

Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau. (Qaf: 5)

Demikianlah keadaan setiap orang yang menyimpang dari kebenaran, apa pun alasan yang dikatakannya adalah batil belaka sesudah ia menyimpang dari kebenaran. Al-marij artinya pertentangan, kekacauan, kepalsuan, dan kemungkaran, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

{إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ}

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur'an) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 8-9)

50 Tafsir Surat Qaaf Ayat 6-11 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

6:18 AM Add Comment


Qaf, ayat 6-11

{أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ (6) وَالأرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (7) تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ (8) وَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ (9) وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ (10) رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ (11) }

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.

Allah Swt. mengingatkan hamba-hamba-Nya akan kekuasaan-Nya yang Mahabesar melalui ciptaan-ciptaan-Nya yang lebih besar daripada apa yang mereka herankan dan mereka anggap mustahil terjadi. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا}

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya. (Qaf: 6)

Yakni dengan bintang-bintang yang gemerlapan cahayanya bagaikan pelita-pelita.

{وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ}

dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? (Qaf: 6)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah retak-retak, menurut pendapat yang lain belah-belah, dan pendapat yang lainnya lagi menyebutkan pecah-pecah; semuanya berdekatan. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ. ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ}

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. (Al-Mulk: 3-4)

Yakni pandangan matamu akan kelelahan dalam mencari aib atau kekurangan karena hal tersebut tidak didapat dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَالأرْضَ مَدَدْنَاهَا}

Dan Kami hamparkan bumi itu. (Qaf: 7)

Artinya, Kami menjadikannya luas terhampar.

{وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ}

dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh. (Qaf 7)

agar bumi tidak berguncang mengombang-ambingkan penduduknya, karena sesungguhnya bumi itu menetap di atas aliran air yang mengelilinginya dari segala penjuru.

{وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ}

dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. (Qaf: 7)

Yaitu berupa tanam-tanaman dan pepohonan yang beraneka ragam jenis dan macamnya.

{وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat (akan kebesaran Allah). (Adz-Dzariyat: 49)

Firman Allah Swt., "Bahij” artinya indah dipandang mata.

{تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ}

untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (Qaf: 8)

Melalui penciptaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt. pada keduanya berupa tanda-tanda yang besar yang membuktikan kekuasaan Allah. Semuanya itu dijadikan sebagai pelajaran, bukti, dan peringatan bagi setiap hamba yang tunduk, patuh, dan takut kepada Allah Swt.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ}

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon. (Qaf: 9)

Yakni taman-taman, kebun-kebun, dan lain sebagainya.

{وَحَبَّ الْحَصِيدِ}

dan biji-biji tanaman yang diketam. (Qaf: 9)

Maksudnya, tanaman yang menghasilkan biji-bijian yang dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama.

{وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ}

dan pohon kurma yang tinggi-tinggi. (Qaf: 10)

Yaitu yang batangnya tinggi-tinggi.

Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya mengatakan bahwa basiqat artinya tinggi-tinggi.

{لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ}

yang mempunyai mayang yang bersusun-susun. (Qaf: 10)

Yakni bertingkat-tingkat.

{رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا}

untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati. (Qaf: 11)

Yang dimaksud dengan tanah yang mati ialah tanah yang tandus; setelah Allah menurunkan air hujan padanya, maka suburlah tanah itu dan menumbuhkan berbagai macam tetumbuhan yang subur lagi berbunga dan lain sebagainya yang memukaukan pandangan mata keindahannya, padahal sebelum itu tanah tersebut tidak ada tetumbuhannya. Maka setelah hujan diturunkan kepadanya, menjadi subur dan hijaulah karena tumbuh-tumbuhannya. Demikianlah perumpamaan hari berbangkit sesudah mati, dan demikianlah perumpamaan Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati di hari kemudian nanti.

Pemandangan serta bukti yang nyata ini merupakan sebagian dari kekuasaan Allah Swt. Yang Mahabesar, bahkan lebih besar daripada apa yang diingkari oleh orang-orang yang tidak percaya dengan adanya hari berbangkit. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{لَخَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ}

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia. (Al-Mu’min: 57)

{أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Ahqaf: 33)

Dan firman Allah Swt.:

{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنزلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}

Dan sebagian dari tanda-tanda-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Fushshilat: 39)

50 Tafsir Surat Qaaf Ayat 12-15 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

6:17 AM Add Comment


Qaf, ayat 12-15

{كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ (12) وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ (13) وَأَصْحَابُ الأيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ (14) أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الأوَّلِ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ (15) }

Sebelumnya mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Samud, dan kaum ‘Ad, kaum Fir'aun dan kaum Lut, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba', semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.

Allah Swt. mengancam orang-orang kafir Quraisy melalui apa yang telah Dia timpakan kepada orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang yang mendustakan para rasul sebelum mereka, bahwa Dia telah menimpakan azab yang pedih di dunia atas mereka seperti kaum Nuh. Bukan hanya mereka saja yang tertimpa azab Allah, bahkan seluruh penduduk bumi terkena ulah mereka, karena Allah menenggelamkan semuanya. Juga azab yang ditimpakan oleh Allah atas penduduk Rass yang kisahnya telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Furqan.

وَثَمُودُ. وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ}

dan kaum Samud, kaum 'Ad, kaum Fir'aun dan kaum Lut. (Qaf: 12-13)

Yang dimaksud dengan ikhwan lut ialah umat Nabi Lut yang dia diutus kepada mereka dari kalangan penduduk Sodom dan Al-Gur (Gomorah), bagaimanakah Allah membenamkan mereka ke dalam bumi dan mengubah tempat tinggal mereka menjadi laut mati yang berbau disebabkan kekafiran dan perbuatan mereka yang melampaui batas serta selalu menentang perkara yang hak.

{وَأَصْحَابُ الأيْكَةِ}

dan penduduk Aikah. (Qaf: 14)

mereka adalah kaumnya Nabi Syu'aib a.s.

{وَقَوْمُ تُبَّعٍ}

serta kaum Tubba'. (Qaf: 14)

Yaitu di negeri Yaman, yang kisahnya telah kami sebutkan di dalam surat Ad-Dukhan sehingga tidak perlu diulangi lagi.

{كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ}

semuanya telah mendustakan rasul-rasul. (Qaf: 14)

Yakni semua umat yang telah disebutkan di atas adalah generasi-generasi yang mendustakan rasul mereka masing-masing; dan barang siapa yang mendustakan seorang rasul, maka seakan-akan sama saja dengan mendustakan semua rasul, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

{كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ}

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. (Asy-Syu'ara: 105)

Padahal sesungguhnya yang datang kepada mereka hanyalah seorang rasul. Tetapi seandainya datang semua rasul kepada mereka, maka mereka akan bersikap sama, yaitu mendustakan semuanya.

{فَحَقَّ وَعِيدِ}

maka sudah semestinya mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. (Qaf: 14)

Yakni sudah seharusnya mereka tertimpa apa yang telah diancamkan oleh Allah kepada mereka akibat kedustaan mereka, yaitu berupa azab dan pembalasan-Nya. Karena itu, berhati-hatilah orang-orang yang diajak bicara oleh ayat ini, janganlah mereka sampai tertimpa azab yang telah menimpa kaum-kaum terdahulu; sebab mereka sama dengan umat-umat terdahulu, yakni mendustakan rasul-rasul mereka.

*******************

Firman Allah Swt.:

{أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الأوَّلِ}

Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? (Qaf:15)

Yaitu apakah Kami mereka anggap tidak mampu untuk memulai penciptaan hingga mereka meragukannya.

{بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ}

Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru. (Qaf: 15)

Makna yang dimaksud ialah permulaan penciptaan tidaklah membuat Kami letih, sedangkan mengembalikannya seperti semula adalah hal yang jauh lebih mudah daripada penciptaan yang pertama kali. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ}

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah. (Ar-Rum: 27)

Dan firman Allah Swt.:

{وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ}

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah, "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya yang pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin: 78-79)

Dalam hadis sahih telah disebutkan:

"يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَقُولُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بأهون علي من إعادته"

Allah Swt. berfirman, "Anak Adam menyakiti-Ku, dia mengatakan bahwa Aku tidak akan dapat mengembalikannya (hidup lagi) seperti pada permulaan Aku menciptakannya, padahal permulaan penciptaan itu tidaklah lebih mudah daripada mengembalikannya.”

50 Tafsir Surat Qaaf Ayat 16-22 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

6:15 AM Add Comment


Qaf, ayat 16-22

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18) وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ (19) وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ (21) لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ (22) }

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia satu malaikat penggiring dan satu malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.

Allah Swt. menceritakan tentang kekuasaan-Nya atas manusia, bahwa Dialah yang menciptakannya, dan pengetahuan-Nya meliputi semua urusannya. Hingga Allah Swt. mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati manusia kebaikan dan keburukannya. Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَقُلْ أَوْ تَعْمَلْ"

Sesungguhnya Allah Swt. memaafkan terhadap umatku apa yang dibisikkan oleh hatinya selama dia tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.

Firman Allah Swt.:

{وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ}

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf: 16)

Yakni malaikat-malaikat Allah Swt. lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Dan menurut pendapat ulama yang menakwilkannya dengan pengertian ilmu Allah, sesungguhnya yang dimaksud hanyalah untuk menghapuskan pengertian dugaan adanya bertempat atau ke­manunggalan, karena kedua sifat tersebut merupakan hal yang mustahil bagi Allah Swt. menurut kesepakatan semua ulama, Mahasuci Allah dari keduanya. Akan tetapi bila ditinjau dari segi teks, ayat tidak menunjukkan ke arah pengertian pengetahuan Allah, karena Allah Swt. tidak mengatakan, "Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." Dan yang Dia katakan hanyalah: dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf: 16)

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. dalam ayat lain sehubungan dengan orang yang sedang meregang nyawanya:

{وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ}

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (Al-Waqi'ah: 85)

Yaitu malaikat-malaikat-Nya. Dan sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

{إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9)

Para malaikatlah yang turun membawa wahyu Al-Qur'an dengan seizin Allah Swt. Demikian pula para malaikatlah yang lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya berkat kekuasaan Allah Swt. yang diberikan kepada mereka untuk hal tersebut. Maka malaikat itu mempunyai jalan masuk ke dalam manusia sebagaimana setan pun mempunyai jalan masuk ke dalam manusia melalui aliran darahnya, seperti yang telah diberitakan oleh Nabi Saw. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

{إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ}

(yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya (Qaf: 17)

Yakni dua malaikat yang ditugaskan oleh Allah Swt. untuk mencatat amal perbuatan manusia.

{عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ}

yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (Qaf: 17)

Artinya, keduanya selalu mengawasi.

{مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ}

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18)

Yaitu tiada suatu kalimat pun yang dikatakannya, melainkan ada malaikat yang selalu mengawasinya dan mencatatnya; tiada suatu kalimat pun yang tertinggal, dan tiada suatu gerakan pun yang tidak tercatat olehnya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ}

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithar: 10-12)

Para ulama berselisih pendapat mengenai masalah pekerjaan malaikat ini, apakah ia mencatat semua kalimat yang diucapkan.

Al-Hasan dan Qatadah mengiakan. Atau yang dicatatnya hanyalah hal-hal yang ada kaitannya dengan pahala dan siksaan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas; ada dua pendapat mengenai masalah ini. Tetapi makna lahiriah ayat berpihak kepada pendapat yang pertama, mengingat keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya: Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ اللَّيْثِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ عَلْقَمَةَ، عَنْ بِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُزَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالَى مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، يَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ. وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، يَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا (سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ".

قَالَ: فَكَانَ عَلْقَمَةُ يَقُولُ: كَمْ مِنْ كَلَامٍ قَدْ مَنَعَنِيهِ حَدِيثُ بِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah Al-Lais'i, dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah, dari Bilal ibnul Haris Al-Muzani r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridai oleh Allah Swt. tanpa diduganya dapat menghantarkan kepada kedudukan yang diraihnya hingga Allah mencatatkan baginya keridaan dari-Nya untuk dia, berkat kalimat itu hingga hari ia menghadap kepada-Nya. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang membuat Allah Swt. murka tanpa diduganya dapat menjerumuskan dirinya ke dalam kemurkaan-Nya, hingga Allah Swt. mencatatkan kemurkaan-Nya terhadap dia disebabkan kalimat itu hingga hari ia menghadap kepada-Nya.

Tersebutlah pula bahwa Alqamah pernah mengatakan berapa banyak kata-kata yang hendak diungkapkannya, tetapi ia tahan karena adanya hadis Bilal ibnul Haris tersebut.

Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih, dan mempunyai syahid dalam kitab sahih.

Al-Ahnaf ibnu Qais mengatakan bahwa malaikat sebelah kanan tugasnya mencatat kebaikan, dan dia adalah kepercayaan malaikat yang sebelah kiri. Apabila hamba yang bersangkutan melakukan suatu dosa, malaikat yang di sebelah kanan berkata, "Tahan dulu," jika dia memohon ampun kepada Allah, maka malaikat sebelah kanan melarangnya mencatat. Tetapi jika hamba yang bersangkutan tidak memohon ampun, maka malaikat sebelah kiri mencatatnya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (Qaf: 17) Lalu ia mengatakan, "Hai anak Adam, lembaran catatan telah dibuka untukmu dan telah ditugaskan kepadamu dua malaikat yang mulia; salah satunya berada di sebelah kananmu dan yang lain berada di sebelah kirimu. Malaikat yang ada di sebelah kananmu bertugas mencatat semua amal baikmu, dan yang di sebelah kirimu bertugas mencatat dosa-dosamu. Maka beramallah menurut kehendakmu, sedikit atau banyak; apabila kamu telah mati, lembaran itu ditutup, lalu dibebankan di lehermu bersama­ sama denganmu di dalam kubur, hingga kamu keluar dari kubur dengan membawanya di hari kiamat nanti." Hal inilah yang dimaksud oleh firman-Nya:

{وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا}

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka, "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Al-Isra: 13-14)

Kemudian Al-Hasan mengatakan, "Demi Allah, benar-benar adil, orang yang menyerahkan perhitungan kepada diri yang bersangkutan."

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan firman Allah Swt.: Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 18) Bahwa semua yang diucapkan oleh hamba Allah berupa kebaikan atau keburukan dicatat, hingga benar-benar dicatat ucapannya yang mengatakan, "Aku telah makan dan minum, aku telah pergi dan aku baru datang, dan aku telah melihat anu," dan lain sebagainya. Apabila hari Kamis, maka ucapan dan amal perbuatannya itu ditampilkan di hadapannya, lalu ia mengakuinya, apakah itu yang baik ataupun yang buruk, sedangkan selain dari itu tidak dianggap. Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya:

{يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ}

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Manfuz). (Ar-Ra'd: 39)

Telah diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa ia merintih di saat sakitnya, lalu disampaikan kepadanya berita dari Tawus yang mengatakan bahwa malaikat pencatat amal perbuatan menulis segala sesuatu hingga rintihan. Maka sejak saat itu Imam Ahmad tidak merintih lagi sampai ia meninggal dunia, rahimahullah.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ}

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19)

Allah Swt. berfirman, "Hai manusia, datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya." Yakni Aku tampakkan kepadamu dengan meyakinkan apa yang selama ini kamu meragukannya.

{ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ}

Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19)

Maksudnya, inilah kematian yang selama ini kamu lari darinya. Ia datang menjemputmu, maka tiada jalan lari dan tiada jalan selamat bagimu untuk menghindarinya. Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai lawan bicara yang dimaksud oleh ayat ini, yaitu firman-Nya:

{وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ}

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19)

Menurut pendapat yang sahih, orang yang diajak bicara oleh ayat ini adalah manusia itu sendiri. Menurut pendapat yang lain, dia adalah orang kafir, dan pendapat yang lainnya mengatakan selain itu.

Abu Bakar ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ziad Sablan, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Abbad, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah ibnu Waqqas yang menceritakan bahwa Aisyah r.a. pernah mengatakan bahwa ia menjenguk ayahnya yang sedang menghadapi kematiannya, saat itu ia duduk di dekat kepala ayahnya. Dan suatu ketika Abu Bakar pingsan, maka Aisyah r.a. mengucapkan suatu bait syair: Hai orang yang air matanya selalu ditahan-tahan, sesungguhnya sesekali pasti ia akan tercurahkan (tanpa bisa ditahan). Maka Abu Bakar r.a. sadar dari pingsannya dan mengangkat kepalanya seraya mengatakan, "Hai putriku, bukan demikian, melainkan ucapkanlah firman Allah Swt.: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.' (Qaf: 19).”

Telah menceritakan pula kepada kami Khalaf ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Abu Syihab Al-Khayyat, dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Al-Bahi yang mengatakan bahwa ketika Abu Bakar r.a. sakit keras, Aisyah r.a. datang menjenguknya, lalu mengutip bait syair berikut: Demi usiamu, tiadalah kekayaan dapat memberi manfaat kepada seseorang bila di suatu hari sakaratul maut datang menjemputnya dan membuat dadanya sesak. Maka Abu Bakar r.a. membuka penutup wajahnya dan mengatakan, "Bukan demikian, tetapi ucapkanlah firman Allah Swt.: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.' (Qaf: 19).”

Asar ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur yang cukup banyak dalam sirah Abu Bakar As-Siddiq r.a. pada kisah menjelang kewafatannya.

Di dalam hadis sahih dari Nabi Saw. disebutkan bahwa ketika beliau Saw. mengalami sakaratul maut, maka beliau mengusap keringat dari wajahnya, kemudian bersabda:

"سُبْحَانَ اللَّهِ! إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ".

Mahasuci Allah, sesungguhnya kematian itu benar-benar mempunyai sakarat.

*******************

Firman Allah Swt.:

{ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ}

Itulah yang kamu selalu lari darinya. (Qaf: 19)

Ada dua pendapat mengenai takwilnya. Pertama mengatakan bahwa huruf ma dalam ayat ini adalah mausulah, yang artinya ialah yang kamu selalu lari darinya dan menjauh darinya, kini telah datang menjemput dirimu. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa huruf ma di sini adalah nafiyah, yakni inilah hal yang kamu tidak dapat melarikan diri darinya dan tidak dapat pula mengelak darinya.

Imam Tabrani mengatakan di dalam kitab Mu’jamui Kabir-nya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ الْمَكِّيُّ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحُدَيُّ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُحَمَّدٍ الهُذَلي، عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنِ سَمُرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَثَلُ الَّذِي يَفِرُّ مِنَ الْمَوْتِ مَثَلُ الثَّعْلَبِ، تَطْلُبُهُ الْأَرْضُ بدَيْن، فَجَاءَ يَسْعَى حَتَّى إِذَا أَعْيَى وَأَسْهَرَ دَخَلَ جُحْرَهُ، فَقَالَتْ لَهُ الْأَرْضُ: يَا ثَعْلَبُ، دَيْنِي. فَخَرَجَ وَلَهُ حِصَاصٌ، فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى تَقَطَّعَتْ عُنُقُهُ وَمَاتَ"

telah menceritakan kepada kami Mu'ammal ibnu Ali As-Sa'ig Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Hafs, dari Ibnu Umar Al-Haddi, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Muhammad Al-Huzali, dari Yunus ibnu Ubaid, dari Al-Hasan, dari Samurah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:Perumpamaan orang yang lari dari kematian sama dengan musang yang dituntut oleh bumi untuk membayar utang, maka musang itu keluar berusaha; dan manakala telah lelah dan kecapaian, ia masuk ke dalam liangnya. Lalu bumi berkata kepadanya, "hai musang, bayarlah piutangku!" Maka musang keluar dengan nafas yang terengah-engah, ia terus berusaha dalam keadaan demikian hingga urat lehernya terputus dan matilah ia.

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ}

Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. (Qaf: 20)

Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan hadis mengenai tiupan sangkakala, kegemparan, kematian, dan berbangkit, yang semuanya itu terjadi pada hari kiamat. Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَحَنَى جَبْهَتَهُ، وَانْتَظَرَ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نَقُولُ؟ قَالَ: "قُولُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ". فَقَالَ الْقَوْمُ: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الوكيل.

Bagaimana aku merasa senang, sedangkan pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakalanya di mulutnya. Keningnya berkerut menunggu diperintahkan untuk meniupnya. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang harus kami ucapkan?" Rasulullah Saw. menjawab: Ucapkanlah oleh kalian, "Hasbunallahu wani'mal wakil" (Cukuplah Allah Penolong kami, Dia adalah sebaik-baik pelindung). Maka para sahabat pun mengucapkan, "Hasbunallahu wani'mal wakil.”

*******************

{وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ}

Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (Qaf: 21)

Yakni malaikat yang menggiringnya ke padang mahsyar dan malaikat yang menjadi saksi terhadap semua amal perbuatan yang telah dilakukannya. Demikianlah makna lahiriah ayat dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan melalui Ismail ibnu Abu Khalid, dari Yahya ibnu Rafi' maula Saqif yang mengatakan bahwa Usman ibnu Affan r.a. berkhotbah, lalu membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi.(Qaf: 21) Lalu Usman r.a. mengatakan bahwa malaikat penggiring yang menggiringnya menghadap kepada Allah dan malaikat penyaksi yang menyaksikan semua amal perbuatannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid.

Mutarrif telah meriwayatkan dari Abu Ja'far maula Asyja',dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa yang menggiringnya adalah malaikat, sedangkan yang menjadi saksinya adalah amal perbuatannya. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan As-Saddi.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang menggiring adalah malaikat, sedangkan yang menjadi saksi adalah dirinya sendiri; ia bersaksi terhadap dirinya sendiri. Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan tiga pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud oleh firman Allah Swt.:

{لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ}

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaf: 22)

Siapakah lawan bicara yang dimaksud dalam ayat ini. Salah satunya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang kafir, ini menurut riwayat Ali ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas r.a. Hal yang sama dikatakan oleh Ad- Dahhak ibnu Muzahim dan Saleh ibnu Kaisan.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa lawan bicara yang dimaksud adalah semua orang, baik yang bertakwa maupun yang durhaka; karena sesungguhnya negeri akhirat itu bila dibandingkan dengan dunia sama dengan melek (bangun), sedangkan negeri dunia sama dengan tidur. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dia menukilnya dari Husain ibnu Abdullah ibnu Ubaidillah, dari Abdullah ibnu Abbas r.a.

Pendapat yang ketiga menyebutkan bahwa lawan bicaranya adalah Nabi Saw. Pendapat ini dikatakan oleh Zaid ibnu Aslam dan anaknya. Makna ayat menurut pendapat keduanya adalah seperti berikut: Sesungguhnya sebelumnya kami dalam keadaan lalai dari Al-Qur'an ini, yaitu sebelum ia diturunkan kepadamu, lalu Kami bukakan darimu penutup yang menutupi dirimu dengan menurunkan Al-Qur'an kepadamu, maka sekarang penglihatanmu menjadi sangat tajam.

Akan tetapi, makna lahiriah ayat yang tersimpulkan dari konteksnya berbeda dengan pengertian tersebut, bahkan lawan bicara yang dimaksud adalah manusia itu sendiri. Makna yang dimaksud oleh firman-Nya:

{لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا}

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini. (Qaf: 22)

Yakni dari hari ini alias hari kiamat.

{فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ}

maka Kami singkapkan terhadapmu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam. (Qaf: 22)

Yaitu amat kuat karena tiap-tiap orang di hari kiamat mempunyai penglihatan yangtajam; sehingga orang-orang kafir ketika di dunia, maka di hari kiamat mereka berada pada jalan yang lurus, tetapi hal itu tidak dapat memberi manfaat sedikit pun bagi diri mereka (karena alam akhirat adalah bukan alam ujian, melainkan alam pembalasan). Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

{أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا}

Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. (Maryam: 38)

Dan firman Allah Swt.:

{وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ}

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya,(mereka berkata), "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah: 12)

50 Tafsir Surat Qaaf Ayat 23-29 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

6:14 AM Add Comment


Qaf, ayat 23-29

{وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ (23) أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ (24) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ (25) الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ (26) قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (27) قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ (28) مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ (29) }

Dan yang menyertai dia berkata, "Inilah(catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.” Allah berfirman, "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” Yang menyertai dia berkata (pula), "Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” Allah berfirman, "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.” Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.

Allah Swt. menceritakan tentang malaikat yang ditugaskan-Nya untuk mencatat amal perbuatannya, bahwa malaikat itu kelak di hari kiamat akan menjadi saksi atas segala perbuatannya.

{هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ}

Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku. (Qaf: 23)

Yakni telah tersedia dan tercatat tanpa tambahan dan tanpa pula pengurangan. Mujahid mengatakan bahwa ini merupakan perkataan malaikat yang menggiring manusia, ia mengatakan, "Inilah anak Adam yang Engkau tugaskan aku untuk mengawasinya, kini kuhadapkan kepada Engkau."

Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa kalimat ini diucapkan oleh malaikat penggiring dan juga malaikat penyaksi. Pendapat Ibnu Jarir cukup beralasan dan kuat. Maka pada saat itulah Allah Swt. memutuskan hukum terhadap makhluk-Nya dengan adil, maka Allah Swt. berfirman:

{أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ}

Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala. (Qaf: 24)

Ulama Nahwu berbeda pendapat sehubungan dengan makna firman Allah Swt., uAlqiya." Sebagian dari mereka mengatakan bahwa kalimat ini menurut dialek sebagian orang Arab yang biasa ber-khitab dengan memakaitasniyah, sedangkan yang dituju adalah mufrad (tunggal), seperti yang diriwayatkan dari Al-Hajjaj, bahwa ia pernah mengatakan, "Hai algojoku, penggallah lehernya!" Dan di antara dalil yang digunakan oleh Ibnu Jarir dalam memperkuat pendapatnya ialah perkataan seorang penyair yang mengatakan:

فإن تزجراني -يا ابن عَفَّانَ-أَنْزَجِرْ ...وَإِنْ تَتْرُكَانِي أَحْمِ عِرْضًا مُمَنَّعًا

Jika engkau melarangku, hai Ibnu Affan, maka aku menahan diri. Tetapi jika engkau membiarkanku, maka aku akan membela kehormatanku dengan kekuatan yang dapat mempertahankan diri.

Menurut pendapat yang lain, huruf alifnya merupakan pergantian dari nun taukid, tetapi pendapat ini jauh dari kebenaran, karena sesungguhnya hal seperti ini hanya digunakan saat waqaf.

Makna lahiriah lafaz ini ditujukan kepada malaikat penggiring dan malaikat penyaksi. Malaikat penggiringlah yang menghadirkannya ke tempat penghisaban; dan setelah malaikat penyaksi mengemukakan persaksian terhadapnya, lalu Allah Swt. memerintahkan kepada keduanya agar mencampakkannya ke dalam neraka Jahanam, dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

{أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ}

Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala. (Qaf: 24)

Yakni sangat kafir dan mendustakan kebenaran, sedangkan 'anid artinya mengingkari kebenaran dan menentangnya dengan kebatilan, padahal dia mengetahui.

{مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ}

yang sangat enggan melakukan kebajikan. (Qaf: 25)

Maksudnya, tidak mau menunaikan kewajiban4^ewajiban yang ada padanya, tidak berbakti, tidak mau bersilahturahmi dan tidak mau pula bersedekah.

Mu'tadin, yakni melanggar batas dalam membelanjakannya dan juga dalam mempergunakannya hingga melampaui garis yang ditentukan.

Qatadah mengatakan bahwa makna mu'tadin ialah orang yang melampaui batas dalam perjalanan dan urusannya.

{مُرِيبٍ}

lagi ragu-ragu. (Qaf : 25)

Yakni ragu dalam urusannya dan mencurigakan orang yang melihat urusannya.

{الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ}

yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah. (Qaf: 26)

Yaitu mempersekutukan Allah dan menyembah selain Allah di samping Dia.

{فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ}

maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat. (Qaf: 26)

Dalam hadis terdahulu telah disebutkan bahwa leher neraka muncul di hadapan semua makhluk, lalu berseru dengan suara yang dapat didengar oleh semua makhluk, "Sesungguhnya aku diperintahkan untuk membakar tiga macam orang, yaitu setiap orang yang sewenang-wenang lagi keras kepala, orang yang menyembah tuhan lain beserta Allah, dan para pembuat patung (berhala)," lalu neraka Jahanam membelit mereka.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ -هُوَ ابْنُ هِشَامٍ-حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ فِراس عَنْ عَطِيَّةَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "يَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَتَكَلَّمُ، يَقُولُ: وُكِّلْتُ الْيَوْمَ بِثَلَاثَةٍ: بِكُلِّ جَبَّارٍ، وَمَنْ جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ. فَتَنْطَوِي عَلَيْهِمْ، فَتَقْذِفُهُمْ فِي غَمَرَاتِ جَهَنَّمَ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Firas, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Kelak akan muncul leher dari neraka yang dapat berbicara, lalu mengatakan, "Pada hari ini akau diperintahkan untuk menangkap tiga macam orang, yaitu tiap-tiap orang yang belaku sewenang-wenang lagi keras kepala, orang yang menjadikan tuhan lain beserta Allah, dan orang yang membunuh seseorang bukan karena dia telah membunuh seseorang.” Maka leher neraka itu membelit mereka dan mencampakkan mereka ke dalam luapan api neraka Jahanam.

*******************

Firman Allah Swt.:

{قَالَ قَرِينُهُ}

Yang menyertai dia berkata (pula). (Qaf: 27)

Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qarin ialah setan yang ditugaskan menemaninya.

{رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ}

Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya. (Qaf: 27)

Yakni Allah menceritakan tentang manusia yang berada di hari kiamat dalam keadaan kafir. Setan yang selalu menemaninya mengatakan:

{رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ}

Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh. (Qaf: 27)

Yaitu bahkan dia sendirilah yang sesat dan menerima yang batil serta menentang kebenaran. Hal yang semisal telah disebutkan melalui ayat lain, yaitu:

{وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِي مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya   aku   tidak   membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim: 22)

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ}

Allah berfirman, "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku " (Qaf: 28)

Allah Swt. berfirman demikian kepada manusia dan teman jinnya, karena keduanya bertengkar di hadapan-Nya. Manusia itu berkata, "Ya Tuhanku, orang ini telah menyesatkan aku dari peringatan-Mu sesudah ia datang kepadaku." Dan setan atau qarin-nya berkata:

{رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ}

Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh. (Qaf: 27)

Yakni sesat dari jalan yang hak, maka Tuhan berfirman kepada keduanya:

{لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ}

Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. (Qaf: 28)

Artinya, Aku telah memberikan kesempatan kepada kalian melalui lisan rasul-rasul-Ku, dan Aku telah menurunkan kitab-kitab serta menegakkan terhadap kalian semua alasan, keterangan, dan bukti-bukti.

{مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ}

Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah. (Qaf: 29)

Mujahid mengatakan, makna yang dimaksud ialah Aku telah memutuskan apa yang Kukehendaki.

{وَمَا أَنَا بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ}

dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (Qaf: 29)

Yakni Aku tidak mengazab seseorang karena dosa orang lain, melainkan tidaklah Aku mengazab seseorang kecuali karena dosanya sendiri sesudah tegaknya hujah terhadapnya, yakni sesudah tegaknya alasan Allah Swt. terhadapnya.