Loading...
Showing posts with label 038 SHAAD. Show all posts
Showing posts with label 038 SHAAD. Show all posts

38 Surat Shaad, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

12:27 PM Add Comment


38. SURAT SHAD

تَفْسِيرُ سُورَةِ ص

Makkiyah, 86 atau 88 ayat Turun sesudah surat Al-Qamar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

38 Tafsir Surat Shaad Ayat 1-3, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

12:26 PM 2 Comments


Shad, ayat 1-3

{ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ (1) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ (2) كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلاتَ حِينَ مَنَاصٍ (3) }

Shad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.

Penjelasan mengenai huruf-huruf hijaiah ini telah disebutkan di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah dengan keterangan yang sudah cukup hingga tidak perlu diulangi lagi di sini.

Firman Allah Swt.:

{وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ}

demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan. (Shad: l)

Yakni Al-Qur'an yang mengandung peringatan bagi hamba-hamba-Nya dan manfaat bagi kehidupan mereka di dunia dan di hari kemudian nanti.

Ad-Dahhak telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Ziz zikr" bahwa makna yang dimaksud sama dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya:

{لَقَدْ أَنزلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ}

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. (Al-Anbiya: 10)

Yaitu peringatan bagi kalian.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abbas r.a., Sa'id ibnu Jubair, Ismail ibnu Abu Khalid, Ibnu Uyaynah, Abu Husain, Abu Saleh, dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Ziz zikr" bahwa makna yang dimaksud ialah yang mempunyai keagungan, kemuliaan, dan kehormatan.

Tidak ada pertentangan di antara kedua pendapat tersebut, karena memang sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah Kitab yang mulia yang di dalamnya terkandung peringatan, alasan, dan pelajaran.

Para ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan jawab dari qasam-nya; sebagian di antara mereka mengatakan bahwa jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.:

{إِنْ كُلٌّ إِلا كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ}

Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku. (Shad: 14)

Menurut pendapat lain, jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.:

{إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ}

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka. (Shad: 64)

Kedua pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dan pendapat yang kedua ini jauh dari kebenaran, dan dinilai da’if oIeh Ibnu jarir.

Qatadah mengatakan bahwa jawab qasam-nya ialah:

{بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ}

Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shad: 2)

Ibnu Jarir memillih pendapat ini.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian ahli bahasa yang telah mengatakan sehubungan dengan jawab qasam ini, bahwa jawab-nya adalah Shad yang artinya benar lagi hak.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, jawab-nya adalah apa yang terkandung di dalam surat ini secara keseluruhan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

**********

Firman Allah Swt.:

{بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ}

Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shad: 2)

Yakni sesungguhnya Al-Our'an ini benar-benar merupakan peringatan bagi orang yang mau menerima peringatan dan menjadi pelajaran bagi orang yang mau menjadikannya sebagai pelajaran; dan sesungguhnya yang tidak mau mengambil manfaat dari Al-Qur'an itu hanyalah orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka selalu berada di dalam kesombongan, yakni sombong tidak mau menerimanya; dan lagi mereka berada dalam permusuhan yang sengit, yakni sangat menentang, mengingkari dan memusuhinya.

Kemudian Allah Swt. mempertakuti mereka dengan apa yang telah Dia lakukan terhadap umat-umat terdahulu sebelum mereka yang mendustakan rasul-rasul-Nya. Allah telah membinasakan mereka disebabkan mereka menentang para rasul dan mendustakan kitab-kitab yang diturunkan dari langit. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ}

Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan (Shad: 3)

Maksudnya, umat-umat yang mendustakan rasul-rasulnya.

{فَنَادَوْا}

lalu mereka meminta tolong (Shad: 3)

Yaitu pada saat azab datang menimpa mereka, mereka meminta tolong dan menyeru kepada Allah Swt. Tetapi hal itu tidak memberi faedah apa pun bagi mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ}

Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka lari tergesa-gesa darinya. (Al-Anbiya: 12)

Yakni melarikan diri dari azab itu.

{لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَى مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ}

Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya (Al-Anbiya: 13)

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari At-Tamimi yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. tentang makna firman-Nya: lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (Shad: 3) Yakni bukan saatnya berseru meminta tolong, bukan pula saatnya melarikan diri dari azab.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa makna yang dimaksud ialah bukan saatnya meminta tolong.

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa mereka berseru meminta tolong di saat tiada gunanya lagi meminta tolong, lalu ia mengutip ucapan penyair, "Laila ingat di saat tiada lagi gunanya mengingat."

Muhammad ibnu Ka'b telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (Shad: 3) Mereka menyerukan kalimah tauhid saat dunia berpaling dari mereka dan bertekad untuk bertobat saat dunia berpaling dari mereka.

Qatadah mengatakan bahwa ketika mereka menyaksikan datangnya azab, tergeraklah mereka untuk bertobat, tetapi bukan pada saatnya untuk berseru meminta pertolongan.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu mereka meminta tolong, padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (Shad: 3) Yaitu bukan saatnya, untuk melarikan diri, bukan pula saatnya tobat diperkenankan.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abu Malik, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Al-Hasan, dan Qatadah.

Telah diriwayatkan pula dari Malik, dari Zaid ibnu Aslam tentang makna firman-Nya: padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melarikan diri. (§ad:3) Yakni meminta pertolongan di saat bukan waktunya meminta tolong.

Lafaz lata ini terdiri dari la nafi, lalu ditambahkan huruf ta, sebagaimana huruf ta, ditambahkan pada lafaz summa. Mereka mengatakan summata, dan ditambahkan pula pada rubba sehinggga menjadi rubbata: huruf ta ini bukan dari asalnya, dan boleh dilakukan waqaf terhadapnya. Di antara mereka ada yang meriwayatkan dari Mushaf Al-Imam (yakni Mushaf Usmani) menurut apa yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir, bahwa huruf ta ini bersatu dengan hina, sehingga tulisannya menjadi seperti berikut:

وَلَا تَحِينَ مَنَاصٍ

padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri (Shad: 3)

Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Kemudian jumhur "ulama membaca nasab pada lafaz hina, yang arti panjangnya adalah "padahal saat itu bukanlah saat untuk melepaskan diri".

Di antara mereka ada yang membolehkan nasab berdasarkan dalil syair yang mengatakan:

تَذَكَّر حُب لَيْلَى لاتَ حِينَا ... وأَضْحَى الشَّيْبُ قَدْ قَطَع القَرينا

Engkau teringat akan cinta Laila, padahal bukan saatnya untuk bercinta, dan uban (usia tua) telah menjadi pemutus hubungan.

Di antara mereka ada yang membolehkannya dibaca jar berdasarkan dalil syair yang mengatakan:

طَلَبُوا صُلْحَنَا ولاتَ أوانٍ ... فأجَبْنَا أن ليس حينُ بقاءِ

Mereka meminta perdamaian dengan kami, padahal sudah bukan masanya lagi perdamaian. Maka kami jawab, bahwa tiada waktu lagi untuk melestarikan perdamaian.

Sebagian ulama mengatakan, "Padahal sudah bukan saatnya bagi penyesalan" (nasi telah menjadi bubur); dengan men-jar-kan lafaz As­ sa'ah. Ahli bahasa mengatakan An-Naus artinya terlambat, dan Al-bus maju. Disebutkan oleh firman-Nya:

{وَلاتَ حِينَ مَنَاصٍ}

padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (Shad: 3)

Yakni waktu itu bukanlah lagi saatnya melarikan diri dari azab.

38 Tafsir Surat Shaad Ayat 4-11, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

12:25 PM Add Comment


Shad, ayat 4-11

{وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) وَانْطَلَقَ الْمَلأ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ (7) أَؤُنزلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ (8) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ (9) أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَلْيَرْتَقُوا فِي الأسْبَابِ (10) جُنْدٌ مَا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ مِنَ الأحْزَابِ (11) }

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengheran­kan.” Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata),"Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah(dusta) yang diada-adakan, mengapa Al-Qur'an itu diturunkan kepadanya di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al-Qur’an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi. Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? (Jika ada),maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit). Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan.

Allah Swt. berfirman, menceritakan perihal orang-orang musyrik yang merasa heran dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ}

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada menusia dan gembirakanlah orang-orang beriman, bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.” Orang-orang kafir berkata, "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.” (Yunus: 2)

Adapun firman Allah Swt.:

{وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ}

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka (Shad: 4)

Yakni manusia sama dengan mereka. Dan orang-orang kafir berkata:

{وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا}

Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu suja? (Shad: 4-5)

Maksudnya, apakah dia mengira bahwa Tuhan yang wajib disembah itu hanya satu saja, yang tidak ada Tuhan selain Dia? Hal ini diungkapkan oleh orang-orang musyrik sebagai ungkapan rasa ingkar mereka terhadap keesaan Tuhan, semoga Allah melaknat mereka. Mereka merasa heran bila kemusyrikan yang selama ini harus mereka tinggalkan karenanya, padahal mereka telah menerimanya dari nenek moyang mereka —yaitu menyembah berhala-berhala—yang telah menjadi kecintaan mereka.

Ketika Rasulullah Saw. menyeru mereka untuk melenyapkan kecintaan menyembah berhala dari hati mereka, lalu menggantinya dengan mengesakan Allah Swt., maka mereka merasa heran dan merasa berdosa besar dengan hal tersebut. Karenanya mereka mengatakan:

{أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ وَانْطَلَقَ الْمَلأ مِنْهُمْ}

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka. (Shad: 5-6)

Yang dimaksud dengan al-mala ialah pemuka, pemimpin, dan pembesar mereka. Mereka pergi seraya mengatakan:

{ [أَنِ] امْشُوا}

Pergilah kamu (Shad: 6)

Yakni tetaplah pada agama kalian

{وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ}

dan bertahanlah (menyembah) tuhan-tuhanmu (Shad: 6)

Artinya, janganlah kamu menuruti ajaran tauhid yang diserukan oleh Muhammad kepada kamu.

***********

Firman Allah Swt.:

{إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ}

sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki (Shad: 6)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesungguhnya ajaran tauhid yang diserukan oleh Muhammad kepada kita benar-benar dijadikannya sebagai sarana untuk meraih kedudukan yang tinggi di atas kalian, juga agar kalian semua menjadi pengikutnya, dan kita tidak akan mau menerima seruannya itu.

Latar Belakang Turunnya Ayat yang Mulia Ini

As-Saddi menceritakan bahwa sesungguhnya sejumlah orang Quraisy mengadakan suatu pertemuan, yang antara lain dihadiri oleh Abu Jahal ibnu Hisyam, Al-As ibnu Wa'il, Al-Aswad ibnu Muttalib, dan Al-Aswad ibnu Abdu Yagus bersama sejumlah pemuka kabilah Quraisy.

Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain.”Marilah kita berangkat menuju tempat Abu Talib, kita harus berbicara kepadanya tentang keponakannya itu, mudah-mudahan kita terbebas dari gangguannya dan dia tidak lagi mencaci maki sembahan-sembahan kita, maka kita akan membiarkan dia dan Tuhan yang disembahnya. Karena sesungguhnya kita khawatir bila syekh (Abu Talib) ini mati, lalu dia (Nabi Saw.) harus kita tangkap, maka orang-orang Arab akan mencela kita semua. Mereka akan mengatakan bahwa kita membiarkannya. Dan manakala Abu Talib mati meninggalkannya, baru kita berani menangkapnya.

Maka mereka mengutus seorang lelaki dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Al-Muttalib, lalu Al-Muttalib meminta izin masuk kepada Abu Talib untuk mereka, seraya mengatakan, "Mereka adalah para tetua kaummu dan para hartawannya ingin bertemu denganmu." Abu Talib menjawab, "Persilakanlah mereka masuk."

Setelah menemui Abu Talib, mereka berkata, "Hai Abu Talib, engkau adalah pemimpin dan penghulu kami, bebaskanlah kami dari ulah keponakanmu itu, perintahkanlah kepadanya agar dia menahan diri dan tidak lagi mencaci maki sembahan-sembahan kami, maka kami akan membiarkan dia bebas bersama Tuhan yang disembahnya."

Abu Talib memanggil Nabi Saw. Ketika Rasulullah Saw. telah masuk menemuinya, maka Abu Talib berkata, "Hai Keponakanku, mereka adalah tetua kaummu dan orang-orang terhormatnya, mereka telah meminta agar kamu menahan diri dan menghentikan caci makimu terhadap sembahan-sembahan mereka, maka mereka akan membiarkanmu dan sembahanmu." Rasulullah Saw menjawab, "Hai Paman, apakah tidak boleh aku menyeru mereka kepada sesuatu yang lebih baik bagi mereka?" Abu Talib bertanya, "Apakah yang engkau serukan kepada mereka (untuk mengikutinya)?" Rasulullah Saw. menjawab, "Aku ajak mereka untuk mengucapkan suatu kalimah, yang dengan kalimah itu semua orang Arab akan tunduk kepada mereka dan mereka dapat menguasai orang-orang Ajam (non-Arab)."

Abu Jahal laknatullah yang ada di antara kaum berkata, Demi ayahmu, katakanlah apakah kalimah itu, sungguh kami akan memberikannya kepadamu dan sepuluh kali lipatnya."

Rasulullah Saw. bersabda:

تَقُولُونَ: "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ"

Kalian ucapkan, "Tidak ada Tuhan melainkan Allah.”

Mereka menolak dan mereka berkata, "Mintalah kepada kami selainnya!" Rasulullah Saw. bersabda:

"لَوْ جِئْتُمُونِي بِالشَّمْسِ حَتَّى تَضَعُوهَا فِي يَدِي مَا سَأَلْتُكُمْ غَيْرَهَا"

Sekiranya kalian dapat mendatangkan matahari kepadaku, lalu kalian letakkan di tanganku, aku tidak akan meminta kepada kalian selain darinya (kalimah tauhid itu)

Maka mereka pergi darinya dalam keadaan marah seraya berkata, "Demi Tuhan, kami benar-benar akan mencaci maki kamu dan Tuhanmu yang telah memerintahkanmu menyampaikan hal ini."

{وَانْطَلَقَ الْمَلأ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ}

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki" (Shad: 6)

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini, dan Ibnu Jarir dalam riwayatnya menambahkan, bahwa setelah para pemimpin Quraisy keluar, Rasulullah Saw. menyeru pamannya untuk mengucapkan kalimah, "Tidak ada Tuhan melainkan Allah Swt." Tetapi Abu Talib menolak, bahkan berkata, "Tidak, bahkan tetap pada agama para tetua." Lalu turunlah firman-Nya:

{إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau sukai (Al-Qasas: 56)

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Ibnu Waki'. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa ketika Abu Talib sakit keras, serombongan orang-orang Quraisy datang menjenguknya, di antaranya terdapat Abu Jahal. Mereka berkata, "Sesungguhnya keponakanmu telah mencaci maki sembahan-sembahan kami dan melakukan serta mengatakan anu dan anu. Maka sebaiknya engkau panggil dia, lalu kita suruh dia agar menghentikan perbuatannya itu."

Abu Talib menyuruh seseorang untuk memanggilnya, dan ia (Nabi Saw) datang dan masuk ke dalam rumah. Saat itu terdapat jarak yang cukup untuk duduk seseorang antara mereka dan Abu Talib. Melihat kedatangan Nabi Saw, Abu Jahal merasa khawatir jika Nabi Saw. duduk di dekat Abu Talib. Maka Abu Talib akan lebih kasihan kepada keponakannya dan akan memihaknya. Abu Jahal cepat-cepat melompat dan menempati tempat itu, sehingga Rasulullah Saw. tidak menemukan tempat duduk yang terdekat dengan pamannya. Maka beliau terpaksa duduk di dekat pintu.

Abu Talib berkata kepadanya, "Hai Anak Saudaraku, mengapa kaummu ini mengadukan perihalmu, dan mereka menuduh bahwa kamu telah mencaci maki sembahan-sembahan mereka dan kamu katakan anu dan anu?" Maka berhamburanlah dari mereka kata-kata yapg menyudutkan Rasulullah Saw. Akhirnya Rasulullah Saw. angkat bicara dan berkata, "Hai paman, sesungguhnya aku menginginkan mereka kepada suatu kalimah yang harus mereka katakan, maka semua orang Arab akan tunduk patuh kepadanya dan orang-orang Ajam akan membayar Jizyah (upeti) kepada mereka berkat kalimah itu."

Mereka terkejut dengan jawaban yang dikemukakan oleh Rasulullah Saw dan suatu kalimah yapg dikehendakinya itu. Maka mereka mengatakan, "Hanya satu kalimah saja, baiklah. Demi ayahmu, sepuluh pun kami sanggup." Mereka berkata, "Kalimah apakah itu?" Dan Abu Talib pun bertanya, "Benar, hai keponakanku, kalimah apakah itu?" Rasulullah Saw. menjawab: Tidak ada Tuhan melainkan Allah. Maka mereka berdiri dengan terkejut seraya menepiskan baju mereka, lalu berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Shad: 8)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikianlah kisah turunnya ayat ini sampai dengan firman-Nya: dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku (Shad: 8)

Menurut lafaz yang dikemukakan oleh Abu Kuraib. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasai melalui hadis Muhammad ibnu Abdullah ibnu Namir; keduanya dari Abu Usamah, dari Al-A'masy, dari Abbad tanpa dinisbatkan kepadanya dengan lafaz yang semisal.

Imam Turmuzi, Imam Nasai, Ibnu Abu Hatim, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula hadis ini, semuanya mengetengahkannya di dalam kitab tafsir masing-masing melalui Sufyan As-Sauri, dari Al-A'masy, dari Yahya ibnu Imarah Al-Kufi, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a., lalu disebutkan hal yang semisal. Imam Turmuzi mengatakan hadis ini hasan.

Firman Allah Swt. yang menyitir ucapan mereka, yaitu:

{مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الآخِرَةِ}

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. (Shad: 7)

Yakni kami belum pernah mendengar ajaran tauhid yang diserukan oleh Muhammad ini dalam agama yang terakhir.

Menurut Mujahid, Qatadah, dan Abu Zaid, yang mereka maksudkan adalah agama orang-orang Quraisy.

Selain mereka mengatakan bahwa agama yang dimaksud adalah agama Nasrani, menurut Muhammad ibnu Ka'b dan As-Saddi. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa makna yang dimaksud ialah, "Kami belum pernah mendengar ini dalam agama yang terakhir, yakni agama Nasrani." Dan mereka mengatakan bahwa sekiranya Al-Qur'an ini benar, tentulah orang-orang Nasrani menceritakannya kepada kami.

{إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ}

Ini tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan. (Shad: 7)

Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa ikhtilaq ialah dusta. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ikhtilaq ialah dugaan.

**********

Firman Allah:

{أَؤُنزلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا}

mengapa Al-Qur'an itu diturunkan kepadanya di antara kita? (Shad: 8)

Mereka menganggap mustahil bila Al-Qur'an hanya diturunkan kepada Muhammad saw.secara khusus di antara mereka semuanya. Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

{لَوْلا نزلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ}

Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari  salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini (Az-Zukhruf: 3,)

Dan firman Allah Swt.:

{أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ}

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam hidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat (Az-Zukhruf: 32)

Karena itulah ketika mereka mengatakan jawaban tersebut yang menunjukkan kebodohan mereka sendiri dan betapa dangkalnya akal mereka, sebab mereka menganggap mustahil Al-Qur'an diturunkan kepada rasul yang ada di antara mereka. Maka Allah Swt. berfirman.

{بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ}

sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. (Shad: 8)

Yakni sesungguhnya mereka mengatakan demikian hanyalah karena sampai saat mereka mengucapkan kata-katanya itu masih belum merasakan azab dan pembalasan Allah. Maka kelak mereka akan mengetahui akibat dari apa yang mereka katakan dan apa yang; mereka dustakan itu, yaitu pada hari ketika itu mereka diseret ke neraka Jahanam dengan sebenar-benarnya.

Selanjutnya Allah Swt. berfirman, menjelaskan bahwa Dialah Yang mengatur kerajaan-Nya lagi Maha Berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya. Yang memberi siapa yang dikehendaki-Nya apa yang dikehendaki­Nya, Yang memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya, Yang menghinakan siapa Yang dikehendaki-Nya, Yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya,-dan Yang menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dia menurunkan Malaikat Jibril membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia pulalah yang mengunci mati kalbu siapa yang dikehendaki-Nya. Karena itu, tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk selain Allah. Dan sesungguhnya semua hamba itu tidak memiliki sesuatu pun dari urusan ini, mereka tidak berhak untuk mengatur kerajaan ini, dan mereka tidak memiliki barang secuil pun dari apa yang ada padanya. Karena itulah maka Allah Swt. berfirman mengingkari kata-kata mereka itu:

{أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ}

Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi (Shad: 9)

Yakni Mahaperkasa yang Zat-Nya tidak dapat dijangkau lagi Maha Pemberi Yang memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Ayat ini mirip maknanya dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

{أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا}

Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan)kepada manusia, ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepada manusia itu? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu) ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahanam yang menyala-nyala apinya. (An-Nisa: 53-55)

Firman Allah Swt.:

{قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا}

Katakanlah, "Kalau seandainya kamu mengusai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al-Isra: 100)

Demikian itu diungkapkan sesudah menceritakan perihal orang-orang yang kafir, bahwa mereka mengingkari diutusnya rasul manusia Saw. Hal yang sama disebutkan dalam kisah-Nya tentang kaum Saleh a.s. ketika mereka mengatakan:

{أَؤُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الأشِرُ}

Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (Al-Qamar: 25-26)

**********

Adapun firman Allah Swt.:

{أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَلْيَرْتَقُوا فِي الأسْبَابِ}

Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? (Jika ada) maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit). (Shad: 10)

Yakni jika mereka mempunyai hal tersebut, hendaklah mereka menaiki tangga menuju ke langit.

Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan makna yang dimaksud ialah jalan-jalan menuju ke langit.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa hendaklah mereka menaiki langit sampai lapis yang ketujuh.

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{جُنْدٌ مَا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ مِنَ الأحْزَابِ}

Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang bersekutu, pasti akan dikalahkan. (Shad: 11)

Yakni bala tentara yang mendustakan itu yang sekarang berada dalam kejayaan, kelak akan dikalahkan dan dihancurkan sebagaimana telah dihancurkan orang-orang yang sebelum mereka dari kalangan golongan-golongan yang bersekutu lagi mendustakan. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ}

Atau apakah mereka mengatakan, "Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang.” Golongan itu pasti akan di­kalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Al-Qamar: 44-45)

Hal tersebut terjadi dalam Perang Badar, lalu dalam firman selanjutnya disebutkan.

{بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ}

Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka, dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (Al-Qamar: 46)

38 Tafsir Surat Shaad Ayat 12-17, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

12:24 PM Add Comment


Shad, ayat 12-17

{كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ ذُو الأوْتَادِ (12) وَثَمُودُ وَقَوْمُ لُوطٍ وَأَصْحَابُ الأيْكَةِ أُولَئِكَ الأحْزَابُ (13) إِنْ كُلٌّ إِلا كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ (14) وَمَا يَنْظُرُ هَؤُلاءِ إِلا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ (15) وَقَالُوا رَبَّنَا عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ (16) اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ (17) }

Telah mendustakan (rasul-rasul) sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Samud, kaum Lut dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul). Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku. Tidaklah yang mereka tunggu, melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang. Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab.” Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan.

Allah Swt. berfirman, menceritakan perihal umat-umat terdahulu dan apa yang telah menimpa mereka berupa azab, pembalasan, dan siksaan, karena mereka menentang para rasul dan mendustakan nabi-nabi Allah. Kisah-kisah mereka telah dijelaskan secara panjang lebar di berbagai tempat.

Firman Allah Swt.:

{أُولَئِكَ الأحْزَابُ}

Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul). (Shad: 13)

Yakni mereka lebih banyak bilangannya daripada kalian (orang-orang Quraisy) dan lebih kuat serta lebih banyak harta dan anak-anaknya, tetapi semuanya itu tidak dapat menolak mereka (menyelamatkan mereka) dari azab Allah barang sedikit pun, ketika datang kepada mereka azab Allah. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

{إِنْ كُلٌّ إِلا كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ}

Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku (Shad: 14)

Penyebab yang membinasakan mereka ialah karena mendustakan para rasul. Maka hendaklah waspada orang-orang yang diajak bicara oleh ayat ini, yakni janganlah mereka berbuat hal yang serupa.

Firman Allah Swt.:

{وَمَا يَنْظُرُ هَؤُلاءِ إِلا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ}

Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang. (Shad: 15)

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, makna yang dimaksud ialah tiada masa tangguh bagi mereka melainkan saat (detik-detik) datangnya kiamat menimpa mereka dengan sekonyong-konyong, karena sesungguhnya semua pertandanya telah ada. Dengan kata lain, hari kiamat itu telah dekat masanya. Dan teriakan yang dimaksud adalah tiupan yang mengejutkan, Allah memerintahkan kepada Malaikat Israfil agar memperpanjang tiupan yang pertama ini, sehingga tiada seorang pun dari kalangan penduduk langit dan bumi, melainkan terkejut terkecuali orang-orang yang dikecualikan oleh Allah Swt.

Firman Allah Swt. mengutip ucapan mereka:

{وَقَالُوا رَبَّنَا عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ}

Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab " (Shad: 16)

Hal ini merupakan ungkapan rasa tidak percaya kaum musyrik tehadap azab yang dijanjikan oleh Allah buat mereka, karenanya mereka meminta agar siksaan itu disegerakan bagi mereka. Lafaz qittun artinya ketetapan, menurut pendapat yang lain artinya bagian.

Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang menyebutkan bahwa mereka meminta agar azab disegerakan bagi mereka.

Qatadah menambahkan, bahwa semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya.

{اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ}

Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah azab yang pedih. (Al-Anfal: 32)

Menurut pendapat lain, mereka memita agar bagian dari surga disegerakan buat mereka, jika surga itu memang ada, agar mereka dapat merasakannya di dunia. Sesungguhnya hal ini diungkapkan oleh mereka hanyalah sebagai reaksi dari ketidakpercayaan mereka terhadapnya, dan bahwa itu mustahil terjadi.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa mereka meminta agar kebaikan atau keburukan yang berhak mereka terima disegerakan di dunia ini. Pendapat yang dikemukakannya cukup baik, dan berkisar pada pengertian inilah apa yang diikatakan oleh Ad-Dahhak dan Ismail ibnu Abu Khalid. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Mengingat ucapan yang dikeluarkan oleh kaum musyrik ini mengandung cemoohan dan ungkapan rasa tidak percaya, maka Allah Swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya agar bersabar dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan itu, dan memberi kabar gembira kepadanya bahwa dengan kesabarannya itu iaakan mendapat kesudahan yang baik, pertolongan dari Allah, dan kemenangan.

38 Tafsir Surat Shaad 17-20, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

12:23 PM Add Comment


Shad, ayat 17-20

{وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُدَ ذَا الأيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ (17) إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإشْرَاقِ (18) وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ (19) وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ (20) }

dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.

Allah Swt. menceritakan perihal hamba dan rasul-Nya, Daud a.s., bahwa dia telah dianugerahi kekuatan; di sini diungkapkan dengan memakai kata al-aid yang artinya kekuatan dalam masalah ilmu dan amal.

Ibnu Abbas r.a., As-Saddi, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-aid artinya kekuatan.

Ibnu Zaid sehubungan dengan pengertian ini membacakan firman-Nya:

{وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ}

Dan langit itu kami bangun dengan kekuatan (Kami) dan sesunggguhnya Kami benar-benar berkuasa (Az-Zariyat: 47)

Mujahid mengatakan bahwa al-aid artinya kekuatan dalam ketaatan.

Qatadah mengatakan bahwa Daud a.s., dianugerahi kekuatan dalam mengerjakan ibadah dan memberinya pengetahuan tentang Islam.

Telah diceritakan pula kepada kami bahwa Nabi Daud a.s. selalu mengerjakan salat pada sepertiga malamnya, dan puasa setengah tahun. Hal ini telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui salah satu hadisnya dari Rasulullah Saw. yang menyebutkan bahwa beliau Saw. telah bersabda:

"أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَلَا يَفِرُّ إِذَا لَاقَى"

Salat yang paling disukai Allah ialah salatnya Daud, dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud. Dia tidur sampai tengah malam, lalu bangun sepertiganya (mengerjakan salat), dan tidur seperenamnya. Dan dia puasa sehari dan buka sehari, dia tidak pernah lari bila bersua dengan musuh (dalam peperangan) dan ia adalah seorang, yang amat taat kepada Allah.

Yang dimaksud dengan awwab ialah selalu taat kepada Allah dalam semua urusan dan perkaranya:

********

Firman Allah Swt.:

{إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإشْرَاقِ}

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi. (Shad: 18)

Yakni Allah Swt. menundukkan gunung-gunung bagi Daud di saat matahari terbit dan di penghujung siang hari, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ}

Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah ber­ulang-ulang bersama Daud. (Saba: 10)

Demikian pula burung-burung ikut bertasbih bersama Daud bila Daud bertasbih, dan menjawab tasbih yang diucapkannya bila burung-burung itu sedang terbang di atasnya. Lalu apabila mendengar Daud sedang membaca kitab Zabur, maka burung-burung itu berhenti di angkasa, tidak mau pergi, bahkan diam dan ikut bertasbih bersamanya. Gunung-gunung yang tinggi-tinggi pun membalas tasbihnya dan mengikuti tasbih yang diucapkannya.

Ibnu Janr mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, dari Mis'ar, dari Abdul Karim, dari Musa ibnu Abu Kasir, dari Ibnu Abbas r.a., yang pernah mendengar Ummu Hani' r.a. pernah bercerita, bahwa di hari jatuhnya kota Mekah Rasulullah Saw. mengerjakan salat duha sebanyak delapan rakaat. Maka Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ia mengetahui ada saat untuk salat di waktu duha itu, karena Allah Swt. telah berfirman: bertasbih di waktu petang dan pagi (Shad: 18)

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya lagi melalui hadis Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Abul Mutawakkil, dari Ayyub ibnu Safwan. dari maulanya-yaitu Abdullah ibnul Haris Ibnu Naufal, bahwa sahabat Ibnu Abbas pada mulanya tidak pernah mengerjakan salat duha.

Kemudian aku (Abdullah ibnul Haris ibnu Naufal) membawanya masuk menemui Ummu Hani' r.a., dan aku berkata kepadanya.”Ceritakanlah kepadanya apa yang telah engkau ceritakan kepadaku." Maka Ummu Hani' menceritakan hadis berikut:  Pada hari jatuhnya kota Mekah Rasulullah Saw. masuk ke dalam rumahku, kemudian meminta air sebanyak satu mangkuk besar, lalu memerintahkan agar dibuat penghalang dari kain antara aku dan dia. Maka beliau mandi, lalu mengeringkan tubuhnya di salah satu sudut di rumahku, sesudah itu beliau salat delapan rakaat. Salat itu adalah salat duha yang berdiri, rukuk, sujud, dan julus (duduk)nya hampir sama lamanya yang satu dengan yang lainnya.

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً}

dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul (Shad: 19)

Maksudnya, tertahan di udara.

{كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ}

Masing-masingnya amat, taat kepada Allah.(Shad: 19)

Artinya, taat kepada Allah Swt.

********

firman Allah Swt,.

{وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ}

Dan Kami kuatkan kerajaannya. (Shad: 20)

Yaitu Kami jadikan baginya kerajaan yang sempurna dari semua apa yang diperlukan oleh para raja.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Daud adalah seorang penduduk dunia yang paling kuat kekuasaannya. As-Saddi mengatakan bahwa dia selalu dijaga oleh empat ribu orang personel prajurit setiap harinya. Menurut sebagian ulama Salaf, telah sampai kepadanya suatu riwayat yang menyebutkan bahwa Daud setiap malamnya dijaga oleh tiga puluh tiga ribu pasukan yang sampai tahun mendatang prajurit yang telah berjaga tidak kebagian giliran lagi. Pendapat yang lain menyebutkan empat puluh ribu prajurit yang lengkap dengan senjatanya.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah menceritakan melalui riwayat Ulya ibnu Ahmar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas a.s. yang telah mengatakan bahwa pernah terjadi dua orang Bani Israil bersengketa di masa Nabi Daud a.s., lalu keduanya melaporkan perkaranya kepada Daud a.s. Salah seorang dari keduanya mengatakan bahwa lawan perkaranya itu telah mencuri seekor sapi miliknya, sedangkan yang tertuduh mengingkarinya. Pihak penuntut tidak mempuyai saksi yang memperkuat tuduhannya, maka Nabi Daud a.s. menangguhkan keduanya.

Pada malam harinya Nabi Daud a.s. bermimpi diperintahkan untuk membunuh si penuntut. Dan pada siang harinya ia memanggil keduanya, lalu memerintahkan agar pihak penuntut dibunuh, maka si penuntut berkata, "Hai Nabi Allah, mengapa engkau akan menjatuhkan hukuman mati kepadaku, padahal lawanku ini telah merampas sapiku?" Nabi Daud a.s. menjawab, "Sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan kepadaku untuk menjatuhkan hukuman mati atas dirimu, maka aku harus membunuhmu, tidak ada jalan lain."

Pihak penuntut akhirnya berkata, "Demi Allah, hai Nabi Allah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadamu untuk membunuhku karena kasus orang ini yang telah kutuduh". Sesungguhnya aku benar-benar jujur dalam tuduhanku itu, tetapi dahulu aku pernah menculik ayahnya dan membunuhnya tanpa ada seorang pun yang mengetahui pelakunya." Maka Nabi Daud a.s., memerintahkan agar dia dieksekusi, lalu dihukum matilah ia.

Ibnu Abbas a.s. melanjutkan, bahwa sejak saat itu wibawa Nabi Daud a.s. di kalangan Bani Israil makin kuat dan makin disegani. Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman-Nya: Dan Kami kuatkan kerajaannya. (Shad: 20)

Adapun firman Allah Swt::

{وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ}

dan Kami berikan kepadanya hikmah. (Shad: 20)

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah pemahaman, akal, dan kepandaian. Di lain kesempatan ia mengatakan kebijaksanaan dan keadilan, dan di lain kesempatan lagi Mujahid mengatakan akal sehat.

Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Kitabullah dan mengikuti apa yang terkandung di dalamnya.

As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan hikmah ialah kenabian.

**********

Firman Allah Swt.:

{وَفَصْلَ الْخِطَابِ}

dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (Shad: 20)

Syuraih Al-Qadi dan Asy-Sya'bi mengatakan, persaksianku sumpah dalam menyelesaikan perselisihan.

Qatadah mengatakan dua orang saksi dibebankan atas pihak tertuduh. Berdasarkan patokan inilah keputusan dalam perselisihan ditetapkan oleh para nabi dan para rasul sebagai penggantinya, juga oleh orang-orang mukmin dan orang-orang saleh. Dan pegangan keadilan dari umat ini sampai hari kiamat nanti. Hal yang sama dikatakan oleh Abu Abdur Rahman As-Sulami

Mujahid dan As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah tepat dalam memutuskan peradilan dan memahami.

Mujahid mengatakan pula bahwa yang dimaksud dengan  khitab ialah kebijaksanaan dalam berbicara dan memutuskan ini mencakup semua pengertian pendapat di atas, dan inilah makna yang dimaksud dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

ibnu Syabbah An-Namiri. telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibnul Munzir, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Abu Sabit, dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Bilal ibnu Abu Burdah, dari ayahnya, dari Abu Musa r.a. yang mengatakan bahwa orang yang mula-mula mengucapkan kalimat 'Amma Ba'du' adalah Daud a.s. Inilah yang dimaksud dengan faslul khitab.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Asy-Sya'bi, bahwa yang dimaksud dengan faslul khitab ialah ucapan Amma Ba'du.

38 Tafsir Surat Shaad Ayat 21-25, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

12:21 PM Add Comment


Shad, ayat 21-25

{وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ (21) إِذْ دَخَلُوا عَلَى دَاوُدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لَا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاءِ الصِّرَاطِ (22) إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ (23) قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُدُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ (24) فَغَفَرْنَا لَهُ ذَلِكَ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ (25) }

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk(menemui) Daud, lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, "Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; muka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, "Serahkanlah kambing itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” Daud berkata.”Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya, lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Para ulama tafsir sehubungan dengan ayat ini telah mengetengahkan suatu kisah yang kebanyakan sumbernya berasal dari kisah-kisah Israiliyat, dan tidak ada suatu hadis pun dari Nabi Saw. yang menerangkannya hingga dapat dijadikan sebagai pegangan. Akan tetapi, Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan masalah ini telah mengetengahkan sebuah hadis yang sanadnya tidak sahih, melalui riwayat Yazid Ar-Raqqasyi dari Anas r.a. Dan Yazid sekalipun ia termasuk orang yang saleh, tetapi dalam periwayatan hadis predikatnya lemah menurut penilaian para imam ahli hadis. Maka bisikan yang paling utama ialah hanya membatasi diri terhadap kisah ini sebagai bahan bacaan semata, mengenai pengetahuan yang sebenarnya kita kembalikan kepada Allah Swt. Yang Maha Mengetahui. Karena sesungguhnya Al-Qur'an merupakan hal yang hak, dan apa yang terkandung di dalamnya pun adalah hak.

Firman Allah Swt.:

فَفَزِعَ مِنْهُمْ

ia terkejut karena (kedatangan) mereka.  (Shad: 22)

Disebutkan demikian tiada lain karena saat itu Daud a.s. sedang berada di mihrabnya yang merupakan tempat yang paling dimuliakan di dalam rumahnya; dan sebelum itu Daud telah memerintahkan kepada para pengawalnya agar tidak mengizinkan seorang pun masuk menemuinya di hari itu. Tanpa sepengetahuannya tiba-tiba ada dua orang yang memanjat tombol menemuinya di mihrab, yakni keduanya menginginkan agar kasus keduanya tidak diketahui oleh orang lain kecuali hanya Daud a.s.

Firman Allah Swt.:

{وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ}

dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan. (Shad: 23)

Yakni aku tidak dapat menandinginya dalam bersilat lidah; dikatakan 'Azza Ya'uzzu artinya mengalahkan.

Firman Allah Swt.:

{وَظَنَّ دَاوُدُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ}

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya. (Shad: 24 )

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r a bahwa makna yang dimaksud ialah Kami mengujinya. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَخَرَّ رَاكِعًا} {وَأَنَابَ}

lalu ia menyungkur sujud dan bertobat. (Shad: 24)

Dari kata raki'an yang artinya rukuk dapat ditakwilkan bahwa bisa saja pada awal mulanya Daud rukuk, setelah itu dia sujud. Menurut suatu riwayat, Daud pernah bersujud terus-menerus selama empat puluh pagi hari.

{فَغَفَرْنَا لَهُ ذَلِكَ}

Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. (Shad: 25)

Yakni semua amal perbuatan yang telah dilakukannya. Hal ini termasuk ke dalam pengertian kaidah yang mengatakan:

إِنَّ حَسَنَاتِ الْأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan orang-orang yang berbakti itu merupakan keburukan-keburukan orang-orang yang mendekatkan dirinya (Kepada Allah Swt).

Para imam berselisih pendapat tentang ayat sajdah yang terdapat di dalam surat Shad ini, apakah ia termasuk ayat sajdah yang dianjurkan bagi pembacanya melakukan sujud tilawah? Ada dua pendapat mengenainya.

Menurut qaul jadid dari mazhab Imam Syafii r.a., ia bukan termasuk ayat sajdah yang dianjurkan sujud tilawah padanya, melainkan hanyalah sujud syukur. Sebagai dalilnya ialah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Aliyyah, dari Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa ayat sajdah di dalam surat Shad bukan termasuk 'azaimis sujud (sujud tilawah), tetapi ia pernah melihat Rasulullah Saw. melakukan sujud padanya.

Hadis yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya melalui riwayat Ayyub dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Imam Nasai telah mengatakan pula di dalam kitab tafsirnya sehubungan dengan makna ayat ini:

أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ -هُوَ الْمِقْسَمِيُّ-حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنُ ذَرٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ فِي "ص" وَقَالَ: "سَجَدَهَا دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلَامُ تَوْبَةً وَنَسْجُدُهَا شُكْرًا".

telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnul Hasan (yakni Al-Miqsami), telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Muhammad, dari Umar ibnu Zar, dari ayahnya, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi Saw. melakukan sujud dalam surat Shad, lalu beliau Saw. bersabda: Daud a.s. telah melakukan sujud padanya sebagai ungkapan tobat, dan kami melakukan sujud padanya sebagai ungkapan rasa syukur (sujud syukur).

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Nasai secara tunggal, dan semua perawinya berpredikat siqah.

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepadaku guru kami (yaitu Al-Hafiz Abul Hajjaj Al-Mazi) yang dibacakan hadis ini kepadanya, sedangkan aku mendengarkannya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Madraji, telah menceritakan kepada kami Zahir ibnu Abu Tahir As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Zahir ibnu Abu Tahir Asy-Syahhami, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'd Al-Kanjadarwazi, telah menceritakan kepada kami Al-Hakim Abu Ahmad Muhammad ibnu Muhammad Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas As-Siraj, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yazid ibnu Khunais, dari Al-Hasan ibnu Muhammad ibnu Ubaidillah ibnu Abu Yazid yang mengatakan bahwa Ibnu Juraij pernah berkata kepadanya, "Hai Hasan, kakekmu (yakni Ubaidillah ibnu Abu Yazid) telah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bermimpi seakan-akan aku sedang salat di belakang sebuah pohon, lalu aku membaca surat yang di dalamnya ada ayat sajdah dan aku melakukan sujud, maka pohon itu ikut sujud bersama denganku, dan aku mendengarnya mengucapkan doa berikut dalam sujudnya, yaitu:

اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ.

"Ya Allah, catatkanlah suatu pahala bagiku di sisi-Mu, dan jadikanlah sujud ini sebagai simpanan (pahala) di sisi-Mu, dan hapuskanlah karenanya suatu dosa dariku, dan terimalah sujud ini sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Daud.”

Ibnu Abbas r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia melihat Nabi Saw. berdiri dan membaca surat yang ada ayat sajdahnya, kemudian beliau melakukan sujud, dan ia mendengarnya mengucapkan doa dalam sujudnya itu seperti doa yang dikisahkan oleh lelaki itu tentang apa yang dibaca oleh pohon tersebut.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini dari Qutaibah, sedangkan Ibnu Majah dari Abu Bakar ibnu Khallad. Keduanya menerima hadis ini dari Muhammad ibnu Yazid, dari Khunais dengan lafaz yang semisal. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui jalur ini.

قَالَ الْبُخَارِيُّ عِنْدَ تَفْسِيرِهَا أَيْضًا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبِيدِ الطَّنَافِسِيُّ عَنِ الْعَوَامِّ قَالَ: سَأَلْتُ مُجَاهِدًا عَنْ سَجْدَةِ "ص" فَقَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ: مِنْ أين سجدت؟ فقال: أو ما تَقْرَأُ: {وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ} [الْأَنْعَامِ:84] {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ} [الْأَنْعَامِ:90] فَكَانَ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِمَّنْ أُمِرَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْتَدِيَ بِهِ فَسَجَدَهَا دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَسَجَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid At-Tayalisi, dari Al-Awwam yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Mujahid tentang ayat sajdah yang ada di dalam surat Shad, maka Mujahid menjawab bahwa ia pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas r.a. (saat ia melakukan sijud), "Mengapa engkau bersujud?" Ibnu Abbas menjawab, bahwa apakah engkau tidak pernah membaca firman-Nya: dan kenapa sebagian dari keturunannya (Nuh), yaitu Daud dan Sulaiman. (Al-An'am: 84) Dan firman-Nya:Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. (Al-An'am: 90) Dan Daud a.s. termasuk salah seorang yang Nabi kalian Saw. telah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti jejaknya. Nabi Daud a.s telah melakukan sujud pada surat Shad, maka Rasulullah Saw. pun melakukan sujud kepadanya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا بَكْرٌ -هُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ-أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَأَى رُؤْيَا أَنَّهُ يَكْتُبُ "ص" فَلَمَّا بَلَغَ إِلَى الَّتِي يَسْجُدُ بِهَا رَأَى الدَّوَاةَ وَالْقَلَمَ وَكُلَّ شَيْءٍ بِحَضْرَتِهِ انْقَلَبَ سَاجِدًا قَالَ: فَقَصَّهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَسْجُدُ بِهَا بَعْدُ.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai', telah menceritakan kepada kami Humaid, telah menceritakan kepada kami Bakar ibnu Abdullah Al-Muzani, bahwa Abu Sa'id Al-Khudri pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bermimpi menulis surat Shad. Dan ketikan tulisannya sampai pada ayat sajdah yang ada padanya, maka ia melihat tempat tinta pena dan segala sesuatu yang ada di hadapannya terbalik bersujud. Lalu ia menceritakan mimpinya itu kepada Nabi Saw.. maka beliau Saw. sesudah mendengar kisah itu selalu melakukan sujud bila membacanya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (tunggal).

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ عن أبي سعيد الخدري رضي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ "ص" فَلَمَّا بَلَغَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ مَعَهُ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمٌ آخَرُ قَرَأَهَا فَلَمَّا بَلَغَ السَّجْدَةَ تَشَزّن النَّاسُ لِلسُّجُودِ، فَقَالَ: "إِنَّمَا هِيَ تَوْبَةُ نَبِيٍّ وَلَكِنِّي رَأَيْتُكُمْ تَشَزّنْتُم". فَنَزَلَ وَسَجَدَ وَسَجَدُوا.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, dari Sa'id ibnu Abu Hilal dari Iyad ibnu Abdullah ibnu Sa'd ibnu Abu Sarh, dari Abu Sa'id r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membaca surat Shad di atas mimbarnya. Ketika bacaan beliau sampai pada ayat sajdah, beliau turun dari mimbarnya dan sujud. Maka orang-orang pun ikut sujud bersamanya. Pada hari yang lain, beliau Saw. membacanya. Dan ketika sampai pada ayat sajdah. orang-orang bersiap-siap untuk melakukan sujud. Maka Rasulullah Saw. bersabda:Sesungguhnya sujud ini merupakan ungkapan tobat seorang nabi, tetapi aku melihat kalian bersiap-siap melakukannya. Maka beliau Saw. turun (dari mimbarnya) dan sujud.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara munfarid, dan sanadnya dengan syarat ada di dalam kitab sahih.

************

Firman Allah Swt.:

{وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ}

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shad: 25)

Yakni sesungguhnya Daud a.s. kelak di hari kiamat mendapat kedudukan yang dekat dengan Allah Swt. dan tempat kembali yang baik, yaitu derajat yang tinggi di surga berkat tobatnya dan keadilannya yang sempurna dalam kerajaannya. Seperti yang disebutkan di dalam kitab sahih:

"الْمُقْسِطُونَ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يُقْسِطُونَ فِي أَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا"

Orang-orang yang adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya (kelak di hari kiamat) berada di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Pemurah, dan yang ada di hadapan-Nya itulah sebelah kanan tempat orang-orang yang berlaku adil terhadap keluarganya dan terhadap kepengurusan yang diserahkan (dipercayakan) kepada mereka.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا فُضَيْلٌ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَإِنَّ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَشَدَّهُمْ عَذَابًا إِمَامٌ جَائِرٌ".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam. telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Atiyyah, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya manusia yang paling disukai oleh Allah di hari kiamat nanti dan yang paling dekat kedudukannya dengan Dia adalah pemimpin yang adil. Dan sesungguhnya manusia yang paling dimurkai Allah kelak di hari kiamat dan paling keras azabnya adalah pemimpin yang zalim.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Fudail ibnu Marzuq Al-Agar, dari Atiyyah dengan sanad yang sama; Imam Turmuzi mengatakan bahwa ia tidak mengenal hadis ini dalam keadaan marfu' kecuali melalui jalur ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ziad, telah menceritakan kepada kami Sayyar. telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Malik ibnu Dinar mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shad: 25 )

Bahwa kelak di hari kiamat Daud a.s. ditempatkan di kaki Arasy (tiangnya). Kemudian Allah Swt. berfirman, "Pujilah Aku pada hari ini dengan suaramu yang indah lagi merdu itu yang biasa engkau gunakan untuk memuji-Ku selama di dunia!" Daud menjawab, "Bagaimanakah caranya, sedangkan Engkau telah mencabutnya?" Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku pada hari ini mengembalikannya kepadamu."

Malik ibnu Dinar melanjutkan, bahwa lalu Daud a.s. mengumandang­kan suaranya yang membuat semua penduduk surga lupa akan kenikmatan yang sedang dialaminya (karena mendengar kemerduan suara Daud a.s).