35 Tafsir Surat Faathir Ayat 1, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap
035 FAATHIR{الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1) }
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Ibrahin ibnu Muhajir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa ia masih belum mengerti makna Fathirus samawati wal ardi sebelum ada dua orang Badui yang datang kepadanya mempersengketakan sebuah sumur. Maka salah seorangnya berkata kepada yang lain (seterunya), "Akulah yang mulai membuatnya," dengan ungkapan 'ana fatartuha.'
Ibnu Abbas mengatakan pula sehubungan dengan makna firman-Nya: Pencipta langit dan bumi. (Fathir: 1) Yakni Yang menciptakan langit dan bumi.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa semua lafaz Fathir yang ada di dalam Al-Qur'an bermakna menciptakan.
**********
Firman Allah Swt.:
{جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلا}
Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan. (Fathir: 1)
yang antara Dia dan nabi-nabi-Nya.
{أُولِي أَجْنِحَةٍ}
yang mempunyai sayap. (Fathir: 1)
yang dengan sayap itu mereka terbang untuk mencapai tempat yang diperintahkan kepada mereka untuk sampai kepadanya dengan cepat.
{مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ}
masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. (Fathir: 1)
Yakni di antara mereka ada yang mempunyai dua buah sayap, ada yang mempunyai tiga buah sayap, dan ada yang mempunyai empat buah sayap, ada pula yang mempunyai sayap lebih banyak dari itu. Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. melihat Malaikat Jibril a.s. di malam Isra dalam rupa aslinya dengan enam ratus sayap, lebar antara kedua sayapnya sama dengan jarak antara timur dan barat. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
{يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}
Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (Fathir: 1)
As-Saddi mengatakan bahwa Allah Swt. menambahkan sayap para malaikat-Nya dan menciptakan mereka menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Az-Zuhri dan Ibnu Juraij mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. (Fathir: 1) Yakni keindahan suara.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalamKitabul Adab dan Ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya melalui Az-Zuhri. Menurut qiraat yang syaz disebutkan dengan bacaan fil halqi dengan memakai ha (yang artinya menambah jangkauan terbangnya, pent.); hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
35 Tafsir Surat Faathir Ayat 2, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap
035 FAATHIR{مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (2) }
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Allah Swt. menyebutkan bahwa apa saja yang dikehendaki-Nya pasti ada, dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak ada. Tiada seorang pun yang dapat mencegah apa yang Dia berikan, dan tiada seorang pun yang dapat memberi apa yang Dia cegah.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ، حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ، أَخْبَرَنَا عَامِرٌ، عَنْ ورَّاد -مَوْلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ-قَالَ: كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ: اكْتُبْ لِي بِمَا سمعتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَدَعَانِي الْمُغِيْرَةُ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ من الصلاة قال: "لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الجَدّ مِنْكَ الجَدّ"، وَسَمِعْتُهُ يَنْهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ، وَعَنْ وَأْدِ الْبَنَاتِ، وَعُقُوقِ الْأُمَّهَاتِ، ومَنْع وهَات.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Mugirah, telah menceritakan kepada kami Amir, dari Warid maula Al-Mugirah ibnu Syu'bah yang mengatakan, bahwa sesungguhnya Mu'awiyah pernah berkirim surat kepada Al-Mugirah ibnu Syu'bah r.a. yang isinya menyebutkan, "Tuliskanlah buatku apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Saw.”Maka Al-Mugirah berdoa untukku, lalu aku berkirim surat dengan menuliskan, "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. apabila telah selesai dari salat mengucapkan doa berikut: 'Tidak ada Tuhan selain Allah semata,tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya Kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada seorang pun yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tiada seorang pun yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau cegah, dan tiada seorang pun yang dapat memberikan suatu manfaat tanpa seizin dari-Mu betapapun besarnya dia.' Dan aku pernah mendengar beliau Saw. melarang banyak bicara, banyak bertanya, menghambur-hamburkan harta, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menyakiti ibu, bersifat kikir, serta suka meminta-minta.
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui berbagai jalur dari orang yang menyampaikannya.
Disebutkan pula di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Sa’id Al-Khudri r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. apabila mengangkat kepalanya dari rukuk mengucapkan doa berikut:
"سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمْدُهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مَلْءَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمَلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. اللَّهُمَّ، أهلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ. أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الجَدّ مِنْكَ الْجَدُّ"
Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya, Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mulah segala puji sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari sesuatu sesudahnya. Ya Allah, Pemilik segala pujian dan keagungan, sebagai perkataan yang paling berhak diucapkan oleh seorang hamba, dan kami semua adalah hamba-Mu. Ya Allah, tiada seorang pun yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tiada seorang pun yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak dapat memberi manfaat apa pun keagungan seseorang di hadapan keagungan-Mu.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Al-An'am: 17)
Ayat yang semakna masih banyak.
Dan Imam Malik rahimahullah telah mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a. pernah mengatakan bahwa dahulu apabila diberi hujan, mereka mengatakan, 'Kita diberi hujan oleh bintang Fat-h (yakni munculnya bintang itu sebelumnya)," lalu Abu Hurairah membacakan firman-Nya: Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Fathir: 2)
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Abu Hurairah r.a.:
35 Tafsir Surat Faathir Ayat 3, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap
035 FAATHIR{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (3) }
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan dari bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?
Allah Swt. mengingatkan hamba-hamba-Nya dan memberi mereka petunjuk kepada hal-hal yang mengarahkan mereka untuk mengakui keesaan Allah dan menyembah hanya kepada-Nya. Sebagaimana Allah sendirilah Yang menciptakan dan Yang memberi rezeki, maka sudah sepantasnya bila Allah sematalah yang disembah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain, seperti dengan berhala-berhala, tandingan-tandingan, dan sesembahan-sesembahan lainnya yang batil. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ}
Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (Fathir: 3)
Yakni mengapa kalian berpaling dari mengesakan Allah sesudah adanya penjelasan dan bukti-bukti yang terang ini, lalu kalian menyembah sesudah itu tandingan-tandingan dan berhala-berhala; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
35 Tafsir Surat Faathir Ayat 4-6, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap
035 FAATHIR{وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (4) يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (6) }
Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan), maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
Allah Swt. berfirman, jika mereka mendustakan kamu, hai Muhammad, yaitu mereka yang musyrik kepada Allah, dan mereka menentang ajaran yang engkau sampaikan kepada mereka berupa ajaran tauhid, maka ketahuilah engkau mempunyai suri teladan dari para rasul yang ada sebelum kamu. Karena sesungguhnya mereka pun mengalami nasib yang serupa; mereka datang kepada kaumnya dengan membawa ayat-ayat Allah yang jelas dan memerintahkan mereka untuk mengesakan Allah, tetapi mereka menentangnya dan mendustakannya.
{وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ}
Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Fathir: 4)
Yakni kelak Kami akan membalas mereka atas hal tersebut dengan balasan yang sempurna.
Kemudian Allah Swt. menyebutkan dalam firman selanjutnya:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ}
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. (Fathir: 5)
Artinya, hari berbangkit itu pasti terjadi dan tidak bisa dielakkan lagi.
{فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا}
maka sekali-sekali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu. (Fathir: 5)
Yaitu kehidupan yang rendah bila dibandingkan dengan pahala yang telah disediakan oleh Allah bagi kekasih-kekasih-Nya dan para pengikut rasul-rasul-Nya, berupa kebaikan yang sangat besar. Karena itu, janganlah kalian melupakan kebahagiaan yang abadi itu karena adanya perhiasan duniawi yang fana ini.
{وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}
dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. (Fathir: 5)
Yakni setan.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sekali-kali jangan kamu biarkan setan menipu kalian dan memalingkan kalian dari mengikuti utusan-utusan Allah dan membenarkan kalimah-kalimah-Nya. Karena sesungguhnya setan itu pada hakikatnya adalah penipu, pendusta, dan pembual. Makna ayat ini sama dengan ayat yang ada di dalam surat Luqman melalui firman-Nya:
{فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}
maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (Luqman: 33)
Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa yang dimaksud dengan penipu di sini adalah setan, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir kelak di hari kiamat ketika diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat, dan disebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, "Bukankah kami dahulu bersama dengan kamu?"
{قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}
Mereka menjawab, "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. (Al-Hadid: 14)
Kemudian Allah Swt. menjelaskan permusuhan iblis terhadap anak Adam melalui firman-Nya:
{إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا}
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). (Fathir: 6)
Setan itu adalah musuh kalian yang terang, maka musuhilah setan itu oleh kalian dengan permusuhan yang keras. Tentanglah mereka dan dustakanlah mereka bila membujuk kalian untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran.
{إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ}
karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fathir: 6)
Yakni sesungguhnya tujuan setan menyesatkan kalian hanyalah agar kalian masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala bersama-sama dengan mereka; setan adalah musuh yang jelas. Kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita sebagai musuh-musuh setan dan hendaknyalah Dia memberi taufik kepada kita untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an-Nya dan mengikuti jejak Rasul-Nya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang dikehendaki-Nya dan Mahakuasa untuk memperkenankan doa yang dipanjatkan kepada-Nya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا}
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam, "maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al-Kahfi: 50)
35 Tafsir Surat Faathir Ayat 7-8, Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap
035 FAATHIR{الَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ (7) أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (8) }
Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Setelah menyebutkan perihal para pengikut iblis dan tempat kembali mereka di dalam neraka yang menyala-nyala, lalu Allah Swt. menyebutkan bahwa orang-orang yang kafir itu bagi mereka azab yang keras disebabkan mereka taat kepada setan dan durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
{وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ}
dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan. (Fathir: 7)
Mereka beroleh ampunan terhadap dosa-dosa yang mereka lakukan di masa silam.
{وَأَجْرٌ كَبِيرٌ}
dan pahala yang besar. (Fathir: 7)
sebagai balasan dari amal perbuatan mereka, yaitu pahala yang baik.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا}
Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk. (Fathir: 8)
Yakni seperti halnya orang-orang kafir dan orang-orang pendurhaka, mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk, sedangkan mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan baik. Dengan kata lain, apakah orang yang telah disesatkan oleh Allah seperti itu, kamu mempunnyai cara untuk memberinya petunjuk? Tidak ada jalan bagimu untuk memberinya petunjuk.
{فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}
Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (Fathir: 8)
Yaitu dengan kekuasaan-Nya, maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.
{فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}
maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. (Fathir: 8)
Maksudnya, janganlah kamu merasa kecewa dengan hal tersebut, karena sesungguhnya Allah Mahabijaksana dalam menentukan takdir-Nya. Sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang sesat dan memberi petunjuk orang yang mendapat petunjuk hanyalah karena pengetahuanNya yang sempurna dan hujah-Nya yang tiada taranya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
{إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ}
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (Fathir: 8)
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عِنْدَ هَذِهِ الْآيَةِ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ الحِمْصي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيباني -أَوْ: رَبِيعَةَ-عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ قَالَ: أَتَيْتُ عبد الله بن عمرو، وهو في حائط بِالطَّائِفِ يُقَالُ لَهُ: الْوَهْطُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ، ثُمَّ أَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ، فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ يَوْمَئِذٍ فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ أَخْطَأَهُ مِنْهُ ضَلَّ، فَلِذَلِكَ أَقُولُ: جَفَّ الْقَلَمُ عَلَى مَا عَلِمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ".
Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan makna ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, dari Al-Auza'i, dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani atau Rabi'ah, dari Abdullah ibnu Ad-Dailami yang mengatakan bahwa ia datang kepada Abdullah ibnu Amr r.a. yang saat itu sedang berada di sebuah kebun di Taif yang dikenal dengan nama Al-Waht. Lalu Abdullah ibnu Amr berkata, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Dia melemparkan sebagian dari cahaya-Nya kepada mereka, maka barang siapa yang terkena cahaya-Nya pada hari itu, berarti dia mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang luput dari cahaya-Nya berarti ia akan sesat. Karena itulah aku hanya dapat mengatakan, "Keringlah pena untuk mencatat apa yang diketahui oleh Allah Swt.
Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدَكَ الْقَزْوِينِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بن حسان الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ الْقُرَشِيُّ، عَنْ سَعْدِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَهْدِي مِنَ الضَّلَالَةِ، وَيُلْبِسُ الضَّلَالَةَ عَلَى مَنْ أَحَبَّ".
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdah Al-Qazuwaini, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Hassan Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu'in, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Qurazyi, dari Sa'id ibnu Syurahbil, dari Zaid Abu Aufa r.a. yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah Saw. keluar menemui kami (para sahabat), lalu beliau bersabda: Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk dari kesesatan dan menghindarkan kesesatan dari orang yang disukai-Nya.
Hadis ini garib sekali.