Loading...
Showing posts with label 057 AL-HADIID. Show all posts
Showing posts with label 057 AL-HADIID. Show all posts

57 Surat Al-Hadiid - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

1:14 PM Add Comment


57. SURAT AL-HADID


تَفْسِيرُ سُورَةِ الْحَدِيدِ

(Besi)

Makkiyyah atau Madaniyyah, 29 ayat Turun sesudah surat Az-Zalzalah

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، حَدَّثَنَا بَقِيَّة بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَان، عن بن أَبِي بِلَالٍ، عَنْ عِرْبَاض بْنِ سَارِيَةَ، أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ الْمُسَبِّحَاتِ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ، وَقَالَ: "إِنَّ فِيهِنَّ آيَةً أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdu Rabbih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepadaku Bujair ibnu Sa'd, dari Khalid ibnu Ma'dan, dari Ibnu Abu Bilal, dari Irbad ibnu Sariyah; dia telah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah Saw. acapkali membaca surat-surat Musabbihat (yang diawali dengan sabbaha) sebelum tidurnya, dan beliau Saw. bersabda mengenainya: Sesungguhnya di dalam surat-surat Musabbihat terdapat suatu ayat yang lebih utama daripada seribu ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi, dan Nasai melalui berbagai jalur dari Baqiyyah dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib. Imam Nasai meriwayatkannya dari Abus Sarh, dari Ibnu Wahb, dari Mu'awiyah ibnu Saleh, dari Bujair ibnu Sa'id, dari Khalid ibnu Ma'dan yang mengatakan bahwa adalah Rasulullah Saw., hingga akhir hadis, Nasai menuturkannya secara mursal tanpa menyebutkan nama Abdullah ibnu Abu Bilal, juga tidak menyebutkan nama Al-Irbad ibnu Sariyah.

Ayat yang diisyaratkan oleh hadis di atas —hanya Allah Yang Maha Mengetahui—adalah firman Allah Swt.:

{هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, YangZahir dan YangBatin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)

Sebagaimana yang akan dijelaskan nanti insya Allah pada tempatnya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

57 Tafsir Surat Al-Hadiid Ayat 1-3 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

1:12 PM Add Comment


Al-Hadid, ayat 1-3


سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (1) لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (2) هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (3)
Semua yang berada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, YangZahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah Swt. menceritakan bahwa bertasbih kepada-Nya semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, yakni semua makhluk hidup dan tetumbuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا}
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra: 44)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَهُوَ الْعَزِيزُ}
Dan Dialah Yang Mahaperkasa. (Al-Hadid: 1)
yang tunduk patuh kepada-Nya segala sesuatu.
{الْحَكِيمُ}
lagi Mahabijaksana. (Al-Hadid: 1)
terhadap makhluk-Nya lagi Mahabijaksana dalam perintah dan syariat­Nya.
{لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ}
Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan. (Al-Hadid: 2)
Yakni Dialah yang memiliki lagi yang mengatur makhluk-Nya, maka Dia menghidupkan dan mematikan, juga memberikan apa yang dikehendaki-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
{وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}
dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Hadid: 2)
Yaitu apa yang dikehendaki-Nya pasti ada, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tiada.
*******************
Firman Allah Swt.:
{هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ}
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin. (Al-Hadid: 3)
Ayat inilah yang diisyaratkan oleh hadis Irbad ibnu Sariyah, bahwa ayat ini lebih utama daripada seribu ayat.
Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abbas ibnu Abdul Azim, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Abu Zamil yang mengatakan, "Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas, 'Coba terka apakah yang sedang kusimpan di dalam hatiku.' Ibnu Abbas balik bertanya, 'Coba terangkan, apakah itu?' Aku menjawab, 'Demi Allah, aku tidak akan mengutarakannya.' Ibnu Abbas berkata, 'Apakah suatu dosa?" Lalu Ibnu Abbas berkata, 'Tiada seorang pun yang selamat dari dosa.' Ia mengatakan ini sambil tertawa." Ibnu Abbas melanjutkan, bahwa hingga Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu. (Yunus: 94), hingga akhir ayat. Dan Ibnu Abbas berkata lagi kepadaku, "Jika kamu merasakan sesuatu dalam dirimu, maka bacalah firman-Nya: 'Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu' (Al-Hadid: 3)."
Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna ayat ini, pendapat mereka kurang lebih ada belasan.
Imam Bukhari mengatakan bahwa Yahya telah berkata bahwa yang dimaksud dengan Zahirialah mengetahui lahiriah segala sesuatu. Dan yang dimaksud dengan Batin ialah mengetahui apa yang tersimpan dalam diri segala sesuatu.
Guru kami Al-Hafiz Al-Mazi mengatakan bahwa Yahya ini adalah Ibnu Ziad Al-Farra, dia mempunyai sebuah karya tulis yang berjudul Ma'anil Qur'an.
Dan mengenai makna ayat ini banyak hadis yang menerangkannya, antara lain ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ سُهيل بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو عِنْدَ النَّوْمِ: "اللَّهُمَّ، رب السموات السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ. اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ"
telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Iyasy, dari Suhail ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. sering membaca doa ini di saat menjelang tidurnya, yaitu: Ya Allah, Tuhan Yang Menguasai tujuh langit dan Tuhan yang menguasai 'Arasy yang besar. Ya Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Yang menurunkan Taurat, Injil, danAl-Qur’an, Yang membelah biji dan benih, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Engkau adalah Yang Awal, maka tiada sesuatu pun sebelum Engkau. Dan Engkau adalah Yang Akhir, maka tiada sesuatu pun sesudah Engkau. Dan Engkau Yang Zahir, maka tiada sesuatu pun di atas Engkau. Dan Engkau Yang Batin, maka tiada sesuatu pun di balik Engkau. Tunaikanlah dari kami utang-utang kami, dan berilah kami kecukupan dari kefakiran.
وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيل قَالَ: كَانَ أَبُو صَالِحٍ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ: أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ، ربّ السموات وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ، أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ.
Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepadaku Zuhair ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Suhail yang mengatakan bahwa dahulu Abu Saleh menganjurkan kepada kami bahwa apabila seseorang dari kami hendak tidur, hendaklah ia berbaring pada lambung kanannya, kemudian mengucapkan doa berikut: Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit, Tuhan yang menguasai bumi, Tuhan yang menguasai Arasy yang besar. Ya Tuhan kami dan Tuhan yang menguasai segala sesuatu, Yang membelah biji dan benih, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan setiap makhluk yang jahat yang ubun-ubunnya berada di genggaman-Mu. Ya Allah, Engkau adalah Yang Awal, maka tiada sesuatu pun sebelum Engkau; dan Engkau Yang Akhir, maka tiada sesuatu pun sesudah Engkau; dan Engkau YangZahir, maka tiada sesuatu pun di atas Engkau; dan Engkau Yang Batin, maka tiada sesuatu pun di balik Engkau. Maka tunaikanlah dari kami utang-utang kami dan berilah kami kecukupan dari kefakiran.
Tersebutlah bahwa Abu Saleh meriwayatkan hadis ini dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw.
Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli telah meriwayatkan di dalam kitab musnadnya, dari Aisyah Ummul Mu’minin hal yang semisal dengan hadis ini. Untuk itu dia mengatakan:
حَدَّثَنَا عُقْبَةُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا السَّرِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِفِرَاشِهِ فَيُفْرَشُ لَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، فَإِذَا أَوَى إِلَيْهِ تَوَسَّدَ كَفَّهُ الْيُمْنَى، ثُمَّ هَمَسَ-مَا يُدْرَى مَا يَقُولُ-فَإِذَا كَانَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ رفع صوته فقال: "اللهم، رب السموات السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، إِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ، وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ، أَنْتَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ"
telah menceritakan kepada kami Uqbah, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Ismail, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw. memerintahkan kepadanya untuk menggelarkan kasurnya, maka digelarkanlah kasurnya dengan menghadap ke arah kiblat. Dan apabila beliau Saw. merebahkan diri di atasnya, maka beliau jadikan telapak tangan kanannya sebagai bantal, lalu bergumam yang tidak kuketahui apa yang dibacanya. Dan apabila malam hari menjelang akhirnya, maka beliau Saw. mengeraskan suaranya seraya membaca doa berikut: Ya Allah, Tuhan Yang menguasai tujuh langit, Tuhan Yang menguasai Arasy yang besar, Tuhan segala sesuatu dan Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, Yang membelah biji dan benih, aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau adalah Yang Awal yang tiada sesuatu pun sebelum Engkau, dan Engkau adalah Yang Akhir yang tiada sesuatu pun sesudah Engkau; dan Engkau Yang Zahir, maka tiada sesuatu pun di atas Engkau; dan Engkau Yang Batin, maka tiada sesuatu pun di balik Engkau. Tunaikanlah dari kami utang-utang kami, dan berilah kami kecukupan dari kefakiran.
As-Sirri ibnu Ismail ini adalah anak lelaki pamannya Asy-Sya'bi, dia orangnya daif hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Abu Isa alias Imam Turmuzi dalam tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid dan lainnya yang bukan hanya seorang, tetapi semuanya meriwayatkan hal yang sama. Mereka mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Qatadah yang telah mengatakan bahwa Al-Hasan telah menceritakan dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ketika Nabi Saw. sedang duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba mendung menutupi mereka, maka Nabi Saw. bersabda, "Tahukah kalian, apakah awan ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. menjawab, "Awan inilah yang menyirami bumi, awan ini digiring menuju ke tempat suatu kaum yang tidak mensyukuri Allah dan tidak pernah berdoa kepada Allah." Kemudian Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apakah yang ada di atas kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di atas kalian adalah langit yang tinggi yang merupakan atap yang terpelihara dan gelombang yang tertutup." Kemudian Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian, berapakah jarak antara kalian dan langit itu?" Mereka berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Jarak antara kalian dan langit adalah lima ratus tahun." Kemudian Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apakah yang ada di atasnya?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di atas itu ada langit lagi yang jarak di antara keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun," hingga Nabi Saw. menyebutkannya sampai tujuh langit, dan bahwa jarak antara tiap-tiap dua langit sama dengan jarak antara langit dan bumi. Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apakah yang ada di atas semuanya itu?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di atas semuanya itu terdapat 'Arasy yang jarak antara 'Arasy dan langit (yang ketujuh) sama dengan jarak antara satu langit ke langit yang lainnya. Nabi Saw. bersabda, "Tahukah kalian, apakah yang ada di bawah kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. menjawab, "Sesungguhnya yang di bawah kalian adalah bumi." Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian apa yang ada di bawah bumi?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya di bawah bumi ini terdapat bumi lainnya yang jarak di antara keduanya sama dengan perjalanan lima ratus tahun,"hingga Nabi Saw. menyebutnya sampai tujuh lapis bumi, dan bahwa jarak dari satu bumi ke bumi yang lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun." Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya kalian mengulurkan tambang ke bumi yang paling bawah, tentulah tambang itu akan turun sampai kepada Allah." Lalu Nabi Saw. membaca firman Allah Swt.: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib bila ditinjau dari segi jalurnya. Diriwayatkan pula dari Ayyub, Yunus ibnu Ubaid, dan Ali ibnu Zaid, mereka mengatakan bahwa Al-Hasan belum pernah mendengar dari Abu Hurairah.
Sebagian ahlul 'ilmi menakwilkan makna hadis ini. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan 'turun sampai kepada Allah' ialah ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaruh-Nya. Karena sesungguhnya ilmu, kekuasaan, dan pengaruh Allah Swt. itu berada di mana-mana dan di semua tempat, sedangkan Dia  di atas 'Arasy, sebagaimana yang disebutkan di dalam Kitab-Nya.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini melalui Syuraih, dari Al-Hakam ibnu Abdul Malik, dari Qatadah, dari Al-Hasan dan Abu Hurairah, dari Nabi Saw., lalu disebutkan hal yang semisal. Dalam riwayat ini disebutkan pula bahwa jarak dari satu bumi ke bumi lainnya adalah perjalanan tujuh ratus tahun. Disebutkan juga bahwa seandainya seseorang dari kalian menjulurkan tambang ke bumi lapis yang ketujuh, niscaya sampailah tambang itu kepada Allah. Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)
Ibnu Abu Hatim dan Al-Bazzar meriwayatkan hadis ini melalui Abu Ja'far Ar-Razi, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hadis yang semisal. Tetapi Ibnu Abu Hatim tidak menyebutkan bagian terakhirnya, yaitu bahwa seandainya kamu menjulurkan tambang. Akan tetapi, yang disebutkannya ialah hingga menghitung tujuh lapis bumi yang jarak antara satu lapis bumi ke lapis bumi lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun. Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, YangZahir dan YangBatin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid: 3)
Dan Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada yang meriwayatkan hadis ini dari Nabi Saw. selain Abu Hurairah.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Bisyr, dari Yazid, dari Sa'id, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin. (Al-Hadid: 3) Telah diceritakan kepada kami bahwa ketika Nabi Saw. sedang duduk di antara para sahabatnya, tiba-tiba berlalulah di atas mereka sekumpulan awan. Maka Nabi Saw. bertanya, "Tahukah kalian, awan apakah ini?" Kemudian dilanjutkan seperti konteks yang ada pada hadis Imam Turmuzi, hanya berdasarkan riwayat ini predikat hadis adalah mursal, dan barangkali jalur inilah yang terkenal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Telah diriwayatkan pula hal ini melalui hadis Abu Zar Al-Gifari r.a. yang dikemukakan oleh Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya, dan Imam Baihaqi di dalam Kitabul Asma Was Sifat, tetapi sanadnya masih perlu diteliti dan di dalam matannya terdapat hal yang garib dan munkar; dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Jarir sehubungan dengan firman-Nya: dan seperti itu pula bumi. (Ath-Thalaq: 12) telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Qatadah yang mengatakan bahwa empat malaikat bersua di antara langit dan bumi. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Dari manakah kamu datang?" Seseorang dari mereka menjawab, "Tuhanku telah mengutusku dari langit yang ketujuh dan Dia kutinggalkan di sana." Kemudian yang lainnya berkata, "Tuhanku telah mengutusku dari bumi yang ketujuh, dan Dia kutinggalkan di sana." Yang lainnya berkata, "Tuhanku telah mengutusku dari arah timur dan Dia kutinggalkan di sana." Dan yang lainnya lagi berkata, "Tuhanku telah mengutusku dari arah barat dan Dia kutinggalkan di sana." Hadis ini garib sekali, dan adakalanya hadis yang pertama tadi mauquf hanyasampai pada Qatadah, sebagaimana pula hadis ini, yaitu dari perkataan Qatadah sendiri; dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

57 Tafsir Surat Al-Hadiid Ayat 4-6 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

1:11 PM Add Comment


Al-Hadid, ayat 4-6


{هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (4) لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (5) يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (6) }
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Allah menceritakan penciptaan langit dan bumi yang dilakukan-Nya selama enam hari (masa); kemudian Allah memberitahukan tentang bersemayam-Nya di atas 'Arasy sesudah Dia menciptakan semuanya. Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan penjelasan mengenai makna ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang semisal sehingga tidak perlu diulang lagi.
Firman Allah Swt.:
{يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ}
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi. (Al-Hadid: 4)
Yakni mengetahui jumlah biji dan benih yang dimasukkan ke dalam bumi.
{وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا}
dan apa yang keluar darinya. (Al-Hadid: 4)
Yaitu berupa tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan, dan buah-buahan yang dihasilkan darinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ}
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya(pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Al-An'am: 59)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَمَا يَنزلُ مِنَ السَّمَاءِ}
dan apa yang turun dari langit. (Al-Hadid: 4)
Yakni berupa hujan, salju, embun, takdir, dan hukum-hukum serta para malaikat yang mulia-mulia. Dalam pembahasan terdahulu —yaitu tafsir surat Al-Baqarah— telah disebutkan bahwa tiada setetes hujan pun yang diturunkan dari langit melainkan bersama malaikat yang menjatuhkannya di tempat yang diperintahkan oleh Allah Swt. sesuai dengan kehendak­Nya.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا}
dan apa yang naik kepadanya. (Al-Hadid: 4)
Maksudnya, malaikat-malaikat dan amal-amal perbuatan yang dibawanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih yang mengatakan:
"يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ اللَّيْلِ"
Dinaikkan (dilaporkan) kepada-Nya amal perbuatan malam hari sebelum siang hari, dan amal siang hari sebelum malam hari.
Firman Allah Swt.:
{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 4)
Yakni Dia Maha Mengawasi kalian lagi Maha Menyaksikan semua amal kalian di mana pun kalian berada, baik di daratan ataupun di lautan, baik di malam ataupun siang hari, baik di dalam rumah maupun di tengah hutan. Semuanya itu bagi ilmu Allah sama saja dan berada di bawah penglihatan dan pendengaran-Nya. Maka Dia mendengar pembicaraan kalian dan melihat tempat kalian dan mengetahui rahasia dan apa yang dibisikkan oleh kalian, seperti yang diterangkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَلا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ أَلا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ}
Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri darinya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain. Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Hud: 5)
Dan firman Allah Swt. lainnya yang menyebutkan:
{سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ}
Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. (Ar-Ra'd: 10)
Maka tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan tidak ada Penguasa (Rabb) selain Dia. Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada Malaikat Jibril saat Jibril menanyakan kepadanya tentang ihsan:
"أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ".
Hendaklah engkau sembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.
وَرَوَى الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيُّ مِنْ حَدِيثِ نَصْرِ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ جُنَادَةَ بْنِ مَحْفُوظِ بْنِ عَلْقَمَةَ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ نَصْرِ بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَخِيهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَائِذٍ قَالَ: قَالَ عُمَرَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: زَوِّدْنِي كَلِمَةً أَعِيشُ بِهَا فَقَالَ: "اسْتَحِ اللَّهَ كَمَا تَسْتَحِي رَجُلًا مِنْ صَالِح عَشِيرَتِكَ لَا يُفَارِقُكَ"
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Isma'ili telah meriwayatkan melalui hadis Nasr ibnu Khuzaimah ibnu Junadah ibnu Mahfuz ibnu Alqamah, bahwa telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Nasr ibnu Alqamah, dari saudaranya (yaitu Abdur Rahman ibnu Amir) yang mengatakan bahwa Umar pernah bercerita bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu berkata, "Bekalilah aku dengan hikmah yang akan kuamalkan sepanjang hayat dikandung badan." Maka Nabi Saw. bersabda: Malulah kamu kepada Allah sebagaimana malumu kepada seorang yang saleh dari kalangan kaum kerabatmu yang selamanya tidak berpisah darimu.
Hadis ini garib.
Abu Na'im telah meriwayatkan pula melalui hadis Abdullah ibnu Alawaih Al-Amiri secara marfu':
"ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ طَعِمَ الْإِيمَانَ: مَنْ عَبَدَ اللَّهَ وَحْدَهُ، وَأَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ، وَلَمْ يُعْطِ الهَرَمة وَلَا الدَرنة، وَلَا الشَّرط اللَّئِيمَةَ وَلَا الْمَرِيضَةَ وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ. وَزَكَّى نَفْسَه" وَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا تَزْكِيَةُ الْمَرْءِ نَفْسَهُ؟ فَقَالَ: "يَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ"
Ada tiga hal yang bila dikerjakan pelakunya berarti telah merasakan manisnya iman, yaitu jika ia selalu beribadah kepada Allah dalam kesendiriannya, dan menyerahkan zakat hartanya dengan hati yang tulus ikhlas setiap tahunnya, dan tidak membayarnya dengan ternak yang sudah tua, ternak yang buruk, ternak yang cacat parah, dan tidak pula ternak yang sakit, tetapi dari standar harta yang dimilikinya dan menyucikan dirinya. Lalu ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan pengertian seseorang menyucikan dirinya?" Rasulullah Saw. menjawab: Bila dia selalu merasakan bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada.
قَالَ نُعَيْم بْنُ حَمّاد، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارِ الْحِمْصِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُهَاجِرٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنُ رُوَيم، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنم، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ أَفْضَلَ الْإِيمَانِ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ مَعَكَ حَيْثُمَا كنت"
Na'im ibnu Hammad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Sa'Md ibnu Kasir ibnu Dinar Al-Himsi, dari Muhammad ibnu Muhajir, dari Urwah ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Ganam, dari Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya iman yang paling utama ialah bila engkau mengetahui bahwa Allah selalu bersamamu di mana pun engkau berada.
Hadis ini garib.
Dan tersebutlah bahwa Imam Ahmad rahimahullah mengucapkan kedua bait syair berikut:
إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلا تَقُلْ ...خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ: عَلَيَّ رَقِيبُ ...
وَلا تَحْسَبَنَّ اللهَ يَغْفَلُ سَاعَةً ... وَلا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيبُ ...
Jika di suatu hari engkau merasa sendirian, maka janganlah kamu anggap dirimu sendirian, tetapi resapilah oleh dirimu bahwa kamu berada dalam pengawasan Tuhan Yang Maha Mengawasi. Dan jangan sekali-kali kamu mengira Allah lalai dalam suatu saat, dan jangan pula beranggapan bahwa apa yang engkau sembunyikan itu tidak kelihatan (oleh-Nya).
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ}
Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Al-Hadid: 5)
Yakni Dialah Yang memiliki dunia dan akhirat, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَإِنَّ لَنَا لَلآخِرَةَ وَالأولَى}
dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. (Al-Lail: 13)
Dan Dialah Yang Terpuji atas semuanya itu, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lainnya:
{وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الأولَى وَالآخِرَةِ}
Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat. (Al-Qashash: 70)
Dan firman Allah Swt.:
{الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ}
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pu la) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Saba': 1)
Maka semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya, dan para penghuninya adalah hamba-hamba-Nya yang tunduk patuh di hadapan­Nya. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا}
Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam: 93-95)
Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:
{وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ}
Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Al-Hadid: 5)
Yakni hanya kepada-Nyalah semuanya dikembalikan pada hari kiamat nanti, lalu Dia menghukumi makhluk-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dia Mahaadil dan tidak akan lalim, tidak pula melampaui batas barang seberat zarrah pun. Bahkan jika seseorang dari mereka melakukan suatu kebaikan, Dia melipat gandakan pahalanya sampai sepuluh kali lipatnya.
{وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا}
dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (An-Nisa: 40)
Semakna pula dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ}
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nyaDan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (Al-Anbiya: 47)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ}
Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. (Al-Hadid: 6)
Yaitu Dialah Yang mengatur makhluk, membolak-balikkan malam dan siang hari, dan menentukan kadar waktu masing-masing dengan kebijaksanaan-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya. Adakalanya malam hari berwaktu panjang dan siang hari menjadi pendek, dan adakalanya sebaliknya, adakalanya pula Dia membiarkan keduanya pertengahan. Dialah yang menjadikan musim, adakalanya musim dingin, lalu musim semi, musim panas, dan musim gugur. Semaunya itu berdasarkan kebijaksaan dan ukuran-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya.
{وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ}
Dan Dia mengetahui segala isi hati. (Al-Hadid: 6)
Artinya, Dia mengetahui semua rahasia, betapapun kecil dan tersembunyinya.

57 Tafsir Surat Al-Hadiid Ayat 7-11 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

1:10 PM Add Comment


Al-Hadid, ayat 7-11


{آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ (7) وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (8) هُوَ الَّذِي يُنزلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (9) وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (10) مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ (11) }
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.
Allah Swt. memerintahkan kepada manusia agar beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya dengan iman yang sempurna, terus-menerus, lagi teguh dan kokoh. Dan Allah menganjurkan kepada kalian untuk membelanjakan hartamu yang telah dijadikan oleh Allah kepadamu sebagai pengganti-Nya dalam mengelolanya. Yakni harta itu yang ada pada kalian merupakan pinjaman dari Allah, karena sesungguhnya pada asal mulanya berada di tangan orang-orang sebelum kalian, lalu beralih ke tangan kalian. Maka Allah Swt. memberi petunjuk kepada kalian agar menggunakan harta yang dititipkan kepadamu untuk dibelanjakan pada jalan ketaatan kepada-Nya. Jika mereka mau mengerjakan hal ini, maka manfaatnya bagi mereka; dan jika tidak, maka perhitungan mereka berada pada-Nya dan Dia kelak akan menghukum mereka karena meninggalkan kewajiban-kewajiban mereka pada hartanya.
Firman Allah Swt.:
{مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ}
yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. (Al-Hadid: 7)
Di dalam ayat ini terkandung isyarat yang menunjukkan bahwa kelak harta itu pada akhirnya akan ditinggalkan juga olehmu. Dan beruntunglah jika ahli warismu menggunakannya untuk jalan ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, berarti ahli warismu lebih beruntung daripada kamu dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Tetapi bila ahli warismu menggunakan harta yang diwarisnya darimu untuk tujuan durhaka kepada Allah, berarti kamu telah membantunya untuk berbuat dosa dan kedurhakaan.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ، عَنْ مُطَرَّف-يَعْنِي بْنَ عَبْدِ الله بن الشخير-عن أبيه قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم وَهُوَ يَقُولُ: " {أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ} [التَّكَاثُرِ:1] ، يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي! وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟ ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Qatadah menceritakan dari Mutarrif ibnu Abdullah ibnusy Syikhkhir, dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa ketika ia sampai kepada Rasulullah Saw., ia dengar Rasulullah Saw. sedang bersabda: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; anak Adam berkata, "Hartaku, hartaku!" Padahal tidak ada bagimu dari hartamu kecuali apa yang kamu makan, lalu lenyap; atau yang kamu pakai, lalu rusak; atau yang kamu sedekahkan, maka kamu teruskan.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syu'bah dengan sanad yang sama, dan dalam riwayatnya ditambahkan:
"وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ"
Dan adapun yang selain itu, maka lenyap dan ditinggalkannya untuk orang lain.
Firman Allah Swt.:
{فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ}
Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Al-Hadid: 7)
Ini mengandung anjuran untuk beriman dan membelanjakan harta untuk jalan ketaatan.
Kemudian Allah Swt. berfirman:
{وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ}
Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. (Al-Hadid: 8) '
Yakni faktor apakah yang menghalang-halangi kamu untuk beriman, padahal Rasul ada di antara kamu yang menyeru kamu ke arah itu, dan menjelaskan kepada kamu alasan-alasan dan bukti-bukti yang membenarkan apa yang dia sampaikan kepadamu.
Telah diriwayatkan pula kepada kami sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dalam permulaan Syarah Kitabul Iman dari kitab Sahih Bukhari, bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. telah bersabda kepada para sahabatnya:
"أيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟ " قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ. قَالَ: "وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ " قَالُوا: فَالْأَنْبِيَاءُ. قَالَ: "وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟ ". قَالُوا: فَنَحْنُ؟ قَالَ: "وَمَا لَكَمَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ وَلَكِنْ أَعْجَبُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا قَوْمٌ يجيؤون بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا"
"Orang mukmin manakah yang imannya paling kalian kagumi?” Mereka menjawab, "Para malaikat.” Nabi Saw. bersabda, "Dan mengapa mereka tidak beriman, sedangkan mereka berada di sisi Tuhan mereka.” Mereka berkata, "Kalau begitu, para nabi.” Nabi Saw. menjawab,"Mengapa mereka tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka?” Mereka berkata, "Kalau begitu, kami.” Nabi Saw. bersabda, "Mengapa kamu tidak beriman, sedangkan aku berada di antara kalian? Tetapi orang mukmin yang paling menakjubkan keimanannya ialah suatu kaum yang datang sesudah kalian; mereka hanya menjumpai lembaran-lembaran (mushaf), lalu mereka beriman dengan semua yang terkandung di dalamnya.”
Kami telah menyebutkan sebagian dari masalah ini di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah, yaitu pada firman-Nya:
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ}
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib. (Al-Baqarah: 3)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ}
Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu. (Al-Hadid: 8)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا}
Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, "Kami dengar dan kami taati.” (Al-Maidah: 7)
Yakni baiat (janji setia) mereka kepada Rasulullah Saw. Tetapi Ibnu Jarir mempunyai dugaan bahwa makna yang dimaksud dengan perjanjian ini adalah yang diambil dari mereka saat mereka masih berada di dalam sulbi Adam; dan ini menurut pendapat Mujahid, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{هُوَ الَّذِي يُنزلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ}
Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an). (Al-Hadid: 9)
Yaitu alasan-alasan yang jelas, dalil-dalil yang cemerlang, dan bukti-bukti yang akurat.
{لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ}
supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. (Al-Hadid: 9)
Yakni dari kegelapan kebodohan, kekufuran, dan pendapat-pendapat yang bertentangan kepada cahaya petunjuk, keyakinan, dan keimanan.
{وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ}
Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (Al-Hadid: 9)
Maka Dia menurunkan kitab-kitab dan mengutus rasul-rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia dan melenyapkan semua penyakit dan semua keraguan.
Dan setelah memerintahkan mereka untuk beriman serta membelanja­kan harta di jalan Allah, kemudian Allah kembali menganjurkan mereka kepada keimanan dan menjelaskan bahwa semua yang menghambat mereka untuk beriman telah dilenyapkan, sebagaimana dianjurkan pula untuk berinfak. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ}
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? (Al-Hadid: 10)
Yaitu berinfaklah dan janganlah kamu takut jatuh miskin dan kekurangan karena sesungguhnya Tuhan yang kamu berinfak di jalan-Nya adalah Yang memiliki langit dan bumi dan di tangan kekuasaan-Nyalah keduanya dikendalikan, dan di sisi-Nyalah semua perbendaharaan keduanya. Dialah Yang memiliki 'Arasy dengan semua yang dikandungnya, dan Dia pulalah yang berfirman:
{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba':39)
Dan firman Allah Swt.:
{مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ}
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. (An-Nahl: 96)
Maka barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya dia wajib berinfak dan tidak merasa takut akan kekurangan demi melaksanakan perintah Tuhan Yang mempunyai 'Arasy, dan ia merasa yakin bahwa Allah Swt. pasti akan memberikan gantinya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ}
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). (Al-Hadid: 10)
Yakni tidaklah sama orang tersebut dan orang yang tidak berbuat seperti dia, karena dalam masa sebelum penaklukan Mekah keadaannya sangatlah berat. Pada masa itu tidaklah beriman kecuali hanya orang-orang yang berpredikatsiddiqin. Lain halnya sesudah masa penaklukan Mekah, karena Islam telah menang dan pengaruhnya sangat besar lagi luas serta manusia mulai masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:
{أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى}
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Al-Hadid: 10)
Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-fath ialah penaklukan kota Mekah dan jatuh ke tangan kaum muslim. Tetapi menurut riwayat yang bersumber dari Asy-Sya'bi dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah Perjanjian Hudaibiyah. Dan barangkali pendapat yang demikian berdalilkan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا زُهَير، حَدَّثَنَا حُمَيد الطَّوِيلُ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ كَلَامٌ، فَقَالَ خَالِدٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ: تَسْتَطِيلُونَ عَلَيْنَا بِأَيَّامٍ سَبَقْتُمُونَا بِهَا؟ فَبَلَغَنَا أَنَّ ذَلِكَ ذُكر لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: " دَعُوا لِي أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ-أَوْ مِثْلَ الْجِبَالِ-ذَهَبًا، مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ"
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas yang mengatakan bahwa pernah terjadi perdebatan antara Khalid ibnul Walid dan Abdur Rahman ibnu Auf. Khalid berkata kepada Abdur Rahman, "Kamu mempunyai pengaruh atas kami berkat hari-hari yang kamu lebih mendahuluinya daripada kami." Kemudian hal tersebut diceritakan kepada Nabi Saw. Maka beliau Saw. bersabda: Biarkanlah aku dan sahabat-sahabatku, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya kamu berinfak sebanyak seperti Bukit Uhud atau seperti gunung berupa emas, maka kamu tetap masih belum dapat mencapai amal perbuatan mereka (para sahabatku yang terdahulu masuk Islamnya).
Dan telah dimaklumi bahwa masuk Islamnya Khalid yang menjadi lawan bicara hadis ini adalah di masa antara Perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan kota Mekah. Pertengkaran yang terjadi di antara keduanya ialah di tempat Bani Juzaimah, yang Rasulullah Saw. mengutus Khalid ibnul Walid bersama sejumlah pasukan kaum muslim kepada mereka sesudah jatuhnya Mekah ke tangan kaum muslim. Dan ketika mereka kedatangan Khalid bersama pasukannya, mereka mengatakan, "Saba­na, saba-na (kami masuk agama baru, kami masuk agama baru)." Mereka tidak pandai mengucapkan, "Kami masuk Islam, kami masuk Islam," padahal yang mereka maksudkan adalah Islam. Maka Khalid memerintahkan kepada pasukannya untuk memerangi mereka, dan menghukum mati sebagian dari mereka yang tertawan. Sikap Khalid yang demikian itu ditentang oleh Abdur Rahman ibnu Auf dan Abdullah ibnu Umar serta sahabat lainnya; maka bertengkarlah antara Khalid dan Abdur Rahman dalam masalah tersebut.
Tetapi menurut apa yang terdapat di dalam kitab sahih disebutkan dari Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah bersabda:
" لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصيفه"
Janganlah kamu mencaci sahabat-sahabatku, maka demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang dari kamu menginfakkan emas sebanyak Bukit Uhud, niscaya hal itu masih belum dapat menyamai satu mud (kati) mereka dan tidak pula separonya.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Wahb, bahwa telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang menceritakan bahwa kami keluar (dari Madinah) bersama Rasulullah Saw. di tahun Hudaibiyah, hingga manakala kami sampai di Asfan, Rasulullah Saw. bersabda:
"يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ تُحَقِّرُونَ أَعْمَالَكُمْ مَعَ أَعْمَالِهِمْ" فَقُلْنَا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُرَيْشٌ؟ قَالَ: لَا وَلَكِنْ أَهْلُ الْيَمَنِ، هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوبًا". فَقُلْنَا: أَهُمْ خَيْرٌ مِنَّا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "لَوْ كَانَ لِأَحَدِهِمْ جَبَلٌ مِنْ ذَهَبٍ فَأَنْفَقَهُ، مَا أَدْرَكَ مُدّ أَحَدِكُمْ وَلَا نَصيفه، أَلَا إِنَّ هَذَا فَضْلُ مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ النَّاسِ، {لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
Sudah dekat masanya kedatangan suatu kaum yang kamu pandang kecil amalmu bila dibandingkan dengan amal mereka. Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu? Apakah dari kalangan Quraisy?" Rasulullah Saw. menjawab: Bukan, tetapi mereka adalah penduduk Yaman, mereka mempunyai perasaan dan hati yang lebih lembut (daripada kamu). Kami bertanya, "Apakah mereka lebih baik daripada kami, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab: Seandainya seseorang dari mereka mempunyai gunung emas, lalu mereka infakkan semuanya, maka hal itu masih belum mencapai satu mud seseorang dari kamu dan tidak pula separonya; hanya itulah keutamaan yang membedakan antara kita dan orang-orang lain. Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 10)
Konteks hadis ini berpredikat garib, karena yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Jamaah dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa'id konteks ini berkaitan dengan kisah orang-orang Khawarij (yang akan muncul sesudah itu). Bunyinya:
"تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمْيَةِ"  الْحَدِيثَ.
"Kamu menganggap kecil salatmu bila dibandingkan dengan salat mereka dan juga puasa kamu bila dibandingkan dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang menembus sasarannya," hingga akhir hadis.
Tetapi Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain, untuk itu ia menceritakan bahwa:
حَدَّثَنِي بْنُ الْبَرْقِيِّ، حَدَّثَنَا بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ التَّمَّارِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ تُحَقِّرُونَ أَعْمَالَكُمْ مَعَ أَعْمَالِهِمْ". قُلْنَا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قُرَيْشٌ؟ قَالَ: "لَا وَلَكِنْ أَهْلُ الْيَمَنِ، لِأَنَّهُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً، وَأَلْيَنُ قُلُوبًا". وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْيَمَنِ، فَقَالَ: "هُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ، أَلَا إِنَّ الْإِيمَانَ يَمَانٍ، وَالْحِكْمَةَ يَمَانِيَةٌ". فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هُمْ خَيْرٌ مِنَّا؟ قَالَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ لِأَحَدِهِمْ جَبَلٌ مِنْ ذَهَبٍ يُنْفِقُهُ مَا أَدَّى مُدّ أَحَدِكُمْ وَلَا نَصِيفَهُ". ثُمَّ جَمَعَ أَصَابِعَهُ وَمَدَّ خِنْصَرَهُ، وَقَالَ: "أَلَا إِنَّ هَذَا فضلُ مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ النَّاسِ، {لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
telah menceritakan kepadaku Ibnul Burqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Abu Sa'id At-Tammar, dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Hampir tiba masanya kedatangan suatu kaum yang kamu anggap kecil amalmu bila dibandingkan dengan amal mereka. Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu, apakah mereka adalah orang-orang Quraisy?" Rasulullah Saw. menjawab: Bukan, tetapi mereka adalah penduduk Yaman, karena mereka me­miliki perasaan yang lebih lembut dan hati lebih lunak (daripada kamu). Beliau Saw. mengatakan ini seraya menunjuk ke arah negeri Yaman, lalu beliau bersabda: Mereka adalah penduduk Yaman, ingatlah, sesungguhnya iman itu dari Yaman dan hikmah itu dari Yaman (pula). Maka kami bertanya, "Apakah mereka lebih baik daripada kami?" Rasulullah Saw. menjawab: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang dari mereka mempunyai gunung emas yang mereka infakkan, niscaya hal itu masih belum dapat mencapai satu mud seseorang dari kamu dan tidak pula separonya. Kemudian beliau Saw. menggenggamkan semua jari jemarinya dan memanjangkan jari manisnya seraya bersabda, "Ingatlah, sesungguhnya seperti inilah keutamaan antara kita dan orang-orang lain." Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 10)
Konteks riwayat ini tidak menyebutkan Hudaibiyah; dan jika penyebutan itu memang dikenal seperti yang telah tertera di atas, maka takwilnya ialah bahwa wahyu ini diturunkan sebelum penaklukan Mekah sebagai berita tentang apa yang akan terjadi sesudahnya. Perihalnya sama dengan firman Allah Swt. dalam surat Al-Muzammil yang Makkiyyah dan termasuk permulaan wahyu yang diturunkan, yaitu firman-Nya:
{وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ} الْآيَةَ
dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. (Al-Muzammil: 20), hingga akhir ayat.
Hal ini merupakan berita gembira tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang; hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى}
Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. (Al-Hadid: 10)
Yakni orang-orang yang berinfak sebelum penaklukan Mekah dan yang sesudahnya, semuanya mendapat pahala dari amalnya masing-masing, sekalipun di antara mereka terdapat perbedaan dalam keutamaan pahala yang diterimanya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا}
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (An-Nisa: 95)
Demikian pula hadis yang disebutkan di dalam kitab sahih mengatakan:
"الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ"
Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, tetapi masing-masing mempunyai kebaikannya (tersendiri).
Sesungguhnya dikatakan demikian hanyalah agar pihak yang lain tidak diremehkan dengan terpujinya pihak yang pertama, yang berakibat timbulnya dugaan bahwa pihak yang tidak terpuji adalah orang yang tercela. Untuk itu maka dilanjutkan dengan memuji pihak yang lain, tetapi dengan menonjolkan keutamaan yang ada pada pihak yang pertama. Karena itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya:
{وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 10)
Yakni berkat pengetahuan-Nya, maka Dia membedakan antara pahala orang yang menginfakkan hartanya sebelum masa penaklukan Mekah dan berperang di jalan-Nya, dan orang yang melakukan hal tersebut sesudah masa penaklukan Mekah.
Hal tersebut tiada lain karena Allah mengetahui niat golongan yang pertama dan keikhlasan mereka yang sempurna, serta infak mereka di masa susah, sulit, lagi sempit. Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ"
(Sedekah) satu dirham mendahului (sedekah) seratus ribu (dirham).
Tidak diragukan lagi di kalangan ahlul iman, bahwa Abu Bakar As-Siddiqlah yang meraih bagian yang terbesar dan kedudukan yang sangat penting dari ayat ini. Karena sesungguhnya dialah penghulu orang yang beramal demikian di antara umat-umat nabi-nabi lainnya. Dia telah membelanjakan seluruh hartanya karena mengharapkan rida Allah Swt. dan tiada seorang pun yang memiliki nikmat ini rela mengorbankannya demi agama selain dia.
قَدْ قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحُسَيْنُ بْنُ مَسْعُودٍ الْبَغَوِيُّ عِنْدَ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الشُّرَيْحِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاقَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الثَّعْلَبِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَامِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ أَيُّوبَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَمْرٍو الشَّيْبَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ آدَمَ بْنِ عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، وَعَلَيْهِ عَبَاءَةٌ قَدْ خَلَّها فِي صَدْرِهِ بِخِلَالٍ، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَالِي أَرَى أَبَا بَكْرٍ عَلَيْهِ عَبَاءَةٌ قَدْ خَلَّها فِي صَدْرِهِ بِخلال؟ فَقَالَ: "أَنْفَقَ مَالَهُ عليَّ قَبْلَ الْفَتْحِ" قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: اقْرَأْ عَلَيْهِ السَّلَامَ، وَقُلْ لَهُ: أَرَاضٍ أنت عني في فقرك هذا أم ساخط؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: "يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ اللَّهَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ، وَيَقُولُ لَكَ: أَرَاضٍ أنت عَني في فقرك هذا أم ساخط؟ " فَقَالَ: أَبُو بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَسْخَطُ عَلَى رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ؟ إِنِّي عَنْ رَبِّي رَاضٍ
Abu Muhammad alias Al-Husain ibnu Mas'ud Al-Bagawi telah mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ibrahim Asy-Syuraihi, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq alias Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim As-Sa'labi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Hamid ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Amr Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Sa'id, dari Adam ibnu Ali, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa ketika kami sedang berada di hadapan Nabi Saw. dan Abu Bakar As-Siddiq yang pada saat itu sahabat Abu Bakar memakai baju 'aba'ah yang ada tambalan pada bagian dadanya, maka turunlah Jibril dan berkata, "Mengapa kulihat Abu Bakar mengenakan baju 'aba'ah yang ada tambalan pada bagian dadanya?" Nabi Saw. menjawab, "Dia telah menginfakkan semua hartanya sebelum masa penaklukan." Jibril berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Sampaikanlah salam kepadanya dan tanyakanlah kepadanya apakah dia rela terhadap-Ku dalam kemiskinannya ataukah marah'?" Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah mengucapkan salam kepadamu dan berfirman kepadamu, 'Apakah kamu rela dalam kemiskinanmu karena membela agama-Nya ataukah marah'?" Abu Bakar menjawab, "Apakah Tuhanku marah kepadaku?" Sesungguhnya aku rela kepada Tuhanku dengan semuanya ini."
Sanad hadis yang dikemukakan melalui jalur ini daif; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا}
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. (Al-Hadid: 11)
Menurut Umar ibnul Khattab, makna yang dimaksud ialah membelanjakan harta untuk keperluan jalan Allah. Menurut pendapat yang lain, untuk keperluan anak-anak. Menurut pendapat yang benar, makna ayat ini umum mencakup semuanya. Maka tiap-tiap orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan niat yang ikhlas dan tekad yang benar telah termasuk ke dalam makna umum ayat ini. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:
{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ}
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan memperlipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya. (Al-Hadid: 11)
Seperti yang disebutkan dalam ayat lainnya:
{أَضْعَافًا كَثِيرَةً }
dengan lipat ganda yang banyak. (Al-Baqarah: 245)
Adapun firman Allah Swt.:
وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Al-Hadid: 11)
Yakni pahala yang baik dan rezeki yang memukaukan, yaitu surga kelak di hari kiamat.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid Al-A'raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya. (Al-Hadid: 11) Abud Dahdah Al-Ansari berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Allah menghendaki pinjaman dari kita?" Rasulullah Saw. menjawab, "Benar, hai Abud Dahdah." Abu Dahdah berkata, "Wahai Rasulullah, kemarikanlah tanganmu." Maka Abud Dahdah menjabat tangan Rasulullah Saw., lalu berkata, "Sesungguhnya aku pinjamkan kepada Tuhanku kebun kurmaku." Dia mempunyai kebun kurma berisikan enam ratus tangkal kurma, dan Ummu Dahdah bertempat tinggal di dalam kebun itu bersama anak-anaknya. Lalu Abud Dahdah datang dan memanggil istrinya, "Hai Ummu Dahdah." Istrinya menjawab, "Labbaik." Abud Dahdah berkata, "Keluarlah kamu, sesungguhnya kebun ini telah kupinjamkan kepada Tuhanku."
Menurut riwayat yang lain, saat itu juga Ummu Dahdah berkata kepada Abud Dahdah, "Beruntunglah bisnismu, hai Abud Dahdah," lalu Ummu Dahdah memindahkan semua barang dan anak-anaknya dari kebun itu, sedangkan Rasulullah Saw. bersabda:
"كَمْ مِنْ عَذْق رَدَاح فِي الْجَنَّةِ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ"
Betapa banyaknya pohon kurma yang berbuah subur di dalam surga milik Abu Dahdah.
Menurut lafaz yang lain disebutkan:
"رُبَّ نَخْلَةٍ مُدَلَّاةٍ عُرُوقُهَا دُرٌّ وياقوت لأبي الدحداح في الجنة"
Betapa banyak pohon kurma yang berjuntai buahnya berupa intan dan yaqut milik Abud Dahdah di dalam surga.

57 Tafsir Surat Al-Hadiid Ayat 12-15 - Tafsir Ibnu Katsir Terlengkap

1:06 PM Add Comment

Al-Hadid, ayat 12-15


{يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12) يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14) فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (15) }
(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab, "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia (neraka) adalah sejahat-jahat tempat kembali.
Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang orang-orang mukmin yang ahli dalam bersedekah, bahwa di hari kiamat kelak nur (cahaya) mereka menyinari bagian depan mereka di tempat pemberhentian hari kiamat sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Mas'ud r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya:
{يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ}
sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan mereka. (Al-Hadid: 12)
Bahwa hal itu sesuai dengan amal perbuatan mereka masing-masing. Mereka berjalan di atas sirat, di antara mereka ada yang nur-nya seperti gunung, ada yang nur-nya seperti pohon kurma, dan ada yang nur-nya seperti seorang lelaki yang berdiri, dan orang yang paling rendah nur-nya dari mereka adalah yang sebesar ibu jarinya, yang kadangkala menyala dan kadangkala padam. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.
Qatadah mengatakan, telah menceritakan kepada kami bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُوره مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى عَدن أَبْيَنَ وَصَنْعَاءَ فَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّى إِنَّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ"
Di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya menerangi antara Madinah dan 'Adn serta San'ah dengan sinar yang sangat terang, dan yang kurang dari itu hingga sesungguhnya di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya hanya dapat menerangi tempat kedua telapak kakinya saja.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Junadah ibnu Abu Umayyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya kalian kelak di hadapan Allah tertulis nama, tanda, pakaian, munajat, dan majelis kalian secara lengkap. Apabila hari kiamat tiba, maka dikatakan, "Hai Fulan, inilah cahayamu. Hai Fulan, tidak ada cahaya bagimu," lalu ia membaca firman-Nya: sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan mereka. (Al-Hadid: 12)
Ad-Dahhak mengatakan bahwa tiada seorang pun melainkan diberi cahaya kelak di hari kiamat. Dan apabila mereka sampai di pinggir sirat, maka padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang mukmin menyaksikan hal itu, mereka merasa takut cahayanya padam seperti yang terjadi pada orang-orang munafik. Maka berkatalah mereka, "Ya Tuhan kamu, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."
Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan mereka. (Al-Hadid: 12) Yakni di sirat yang dilalui mereka.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ ابْنُ أَخِي ابْنِ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا عَمِّي عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ مَسْعُودٍ: أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْر يُحَدِّثُ: أَنَّهُ سَمِع أَبَا الدَّرْدَاءِ وَأَبَا ذَرٍّ يُخْبِرَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالسُّجُودِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فَأَنْظُرُ مِنْ بَيْنِ يَدِي وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ". فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، مَا بَيْنَ نُوحٍ إِلَى أُمَّتِكَ؟ قَالَ: "أَعْرِفُهُمْ، مُحَجَّلون مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَلَا يَكُونُ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ غَيْرِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ يُؤْتَون كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَذُرِّيَّتِهِمْ
Ibnu Abu Hatim rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah anak saudaraku anak Wahb, telah menceritakan kepada kami pamanku, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Sa'id ibnu Mas'ud, bahwa ia pernah mendengar Abdur Rahman ibnu Jubair mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Darda dan Abu Zar menceritakan hadis berikut dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Aku adalah orang yang pertama diizinkan oleh Allah untuk bersujud dan mengangkat kepalanya (dari sujud) pada hari kiamat, lalu aku melihat ke hadapanku, ke belakangku, ke sebelah kananku, dan ke sebelah kiriku; maka aku mengenal umatku di antara umat-umat lainnya. Lalu ada seorang lelaki bertanya kepadanya, "Hai Nabi Allah, bagaimanakah engkau dapat mengenal umatmu di antara umat-umat lainnya yang ada sejak Nabi Nuh sampai dengan umatmu?" Maka beliau Saw. bersabda: Aku mengenal mereka karena anggota tubuh mereka bersinar bekas wudu (mereka), dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun dari kalangan umat selain mereka. Dan aku mengenal mereka karena kitab catatan amal mereka diberikan dari sebelah kanan mereka, dan aku mengenal mereka melalui tanda-tanda mereka yang ada pada wajah mereka, dan aku mengenal mereka melalui cahaya mereka yang menyinari bagian depan mereka.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَبِأَيْمَانِهِمْ}
dan di sebelah kanan mereka. (Al-Hadid: 12)
Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pada sebelah kanan mereka terdapat kitab-kitab catatan amal mereka, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ}
dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya. (Al-Isra: 71)
Adapun firman Allah Swt.:
{بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ}
(dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (Al-Hadid: 12)
Yakni dikatakan kepada mereka, "Ada berita gembira bagi kamu hari ini." Maksudnya, bagimu berita gembira karena mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
{خَالِدِينَ فِيهَا}
yang kamu kekal di dalamnya. (Al-Hadid: 12)
Yaitu kamu tinggal di dalamnya selama-lamanya.
{ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
Itulah keberuntungan yang banyak. (Al-Hadid: 12)
*******************
Firman Allah Swt.:
{يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ}
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” (Al-Hadid: 13)
Ini merupakan berita dari Allah Swt. yang menceritakan apa yang bakal terjadi di hari kiamat nanti di tempat pemberhentian, banyak terjadi hal­-hal yang mengerikan lagi sangat mengejutkan, keguncangan yang sangat dahsyat dan peristiwa-peristiwa lainnya yang sangat menakutkan. Dan sesungguhnya tiada yang selamat di hari itu kecuali hanya orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepadaku Sulaim ibnu Amir yang mengatakan bahwa kami keluar menujuke tempat jenazah di pintu gerbang kota Dimasyq, di antara kami terdapat Abu Umamah Al-Bahili. Setelah jenazah disalatkan, lalu mereka bergegas mengebumikannya, dan Abu Umamah berkata, "Hai manusia, sesungguhnya kamu di pagi hari dan petang hari berada di suatu tempat yang di dalamnya kamu berbagi amal kebaikan dan keburukan. Dan sudah dekat masanya bagi kalian akan pergi meninggalkannya menuju ke suatu tempat lain, yaitu alam kubur ini —seraya berisyarat ke arah kubur—yaitu rumah kesendirian, rumah kegelapan, dan rumah ulat serta rumah kesempitan terkecuali apa yang diluaskan oleh Allah. Kemudian kamu akan berpindah lagi darinya menuju ke tempat-tempat hari kiamat. Dan sesungguhnya kalian pada sebagian tempat-tempat itu, semua manusia diselimuti oleh suatu urusan dari Allah, maka ada manusia yang berwajah putih bersinar dan ada pula manusia yang berwajah hitam pekat. Kemudian kamu berpindah lagi darinya menuju ke tempat lain, dan semua manusia diselimuti oleh kegelapan yang sangat pekat; kemudian cahaya dibagikan. Maka orang mukmin mendapat cahayanya, sedangkan orang kafir dan orang munafik tidak diberi sama sekali dari cahaya itu." Perumpamaan ini telah digambarkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya: Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya; (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (An-Nur: 40) Maka orang kafir dan orang munafik tidak dapat penerangan dari cahaya orang mukmin, sebagaimana orang tuna netra tidak dapat penerangan dari penglihatan orang yang melihat. Dan saat itu orang-orang munafik laki-laki dan perempuan mengatakan kepada orang-orang yang beriman: Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu. Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." (Al-Hadid: 13) Ini adalah tipuan dari Allah yang Dia gunakan untuk memperdaya orang-orang munafik, karena Allah Swt. telah berfirman: mereka (orang-orang munafik) itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. (An-Nisa: 142) Maka orang-orang munafik itu kembali ke tempat pembagian cahaya, tetapi mereka tidak menjumpai sesuatu pun. Lalu mereka kembali kepada orang-orang mukmin, tetapi di antara mereka telah ada dinding penghalang yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (Al-Hadid: 13)
Sulaim ibnu Amir mengatakan bahwa orang munafik itu masih terus-menerus merasa besar diri hingga cahaya dibagikan dan Allah membedakan antara orang munafik dan orang mukmin.
Kemudian Sulaim ibnu Amir mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Haiwah, telah menceritakan kepada kami Artah ibnul Munzir, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnul Hajjaj, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Allah menjadikan hari kiamat gelap gulita, maka tiada seorang pun —baik orang mukmin maupun orang kafir— yang dapat melihat telapak tangannya sendiri, hingga Allah mengirimkan cahaya kepada orang-orang mukmin sesuai dengan amal perbuatannya. Lalu orang-orang munafik mengikuti mereka seraya berkata: Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu. (Al-Hadid: 13)
Al-Aufi dan Ad-Dahhak serta selain keduanya telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ketika manusia berada di dalam kegelapan hari kiamat, maka Allah mengirimkan cahaya. Ketika orang-orang mukmin melihat adanya cahaya, mereka bergerak menuju ke arah cahaya itu. Dan cahaya itu adalah petunjuk dari Allah yang menuntun ke arah surga. Dan ketika orang-orang munafik melihat orang-orang mukmin berangkat, maka mereka mengikutinya, lalu Allah menjadikan orang-orang munafik dalam kegelapan, kemudian mereka berkata saat itu; Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu. (Al-Hadid: 13) karena sesungguhnya kami selalu bersama kalian sewaktu di dunia. Maka orang-orang mukmin berkata: Kembalilah kamu ke belakang. (Al-Hadid: 13) ke tempat kamu datang yang dalam kegelapan dan carilah cahaya di sana.
قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلَّوَيْهِ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عِيسَى الْعَطَّارُ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ أَبُو حُذَيْفَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ فَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: {انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ} وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: {رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا} [التَّحْرِيمِ: 8] . فَلَا يَذْكُرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا"
Abul Qasim Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah ibnu Alawaih Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Isa Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Bisyr ibnu Huzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. memanggil manusia kelakdi hari kiamat dengan menyebut nama-nama mereka sebagai penutupan dari-Nya di mata hamba-hamba-Nya. Tetapi di hadapan sirat maka sesungguh­nya Allah memberi cahaya kepada tiap-tiap orang mukmin dan juga tiap-tiap orang munafik pun diberi cahaya. Dan apabila mereka semuanya berada di atas sirat, maka Allah mencabut cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Maka orang-orang munafik berkata, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Orang-orang mukmin berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, " maka pada saat itu tiada seorang pun yang ingat kepada orang lain.
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ}
Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (Al-Hadid: 13)
Al-Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa dinding itu terletak di antara surga dan neraka.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa dinding itulah yang dimaksud di dalam firman-Nya:
{وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ}
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas. (Al-A'raf: 46)
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, pendapat ini sahih.
{بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ}
Di sebelah dalamnya ada rahmat. (Al-Hadid: 13)
Yakni berupa surga dan semua kenikmatan yang ada di dalamnya.
{وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ}
dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (Al-Hadid: 13)
Yaitu neraka. Demikianlah menurut yang dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid serta selain keduanya.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa menurut pendapat yang lain, dinding tersebut adalah dinding Baitul Maqdis yang berada di Lembah Jahanam. Kemudian ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Barqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah, dari Sa'id ibnu Atiyyah ibnu Qais, dari Abul Awam juru azan Baitul Maqdis yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa sesungguhnya dinding yang disebut oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya: Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (Al-Hadid: 13) adalah dinding masjid yang ada di sebelah timur; bagian dalamnya adalah masjid, sedangkan bagian luarnya dan sebelahnya lagi adalah Lembah Jahanam.
Kemudian telah diriwayatkan hal yang semisal dari Ubadah ibnus Samit, Ka'bul Ahbar? Ali ibnul Husain, dan Zainul Abidin. Tetapi pendapat ini dapat diinterpretasikan bahwa mereka mengatakan demikian dengan tujuan untuk memberikan pendekatan pemahaman melalui peragaan tempat yang sudah ada agar lebih dekat dalam pemahaman bagi lawan bicara. Dan sama sekali bukan makna hakikinya yang dimaksud, bahwa apa yang dikatakan itu adalah makna yang dimaksud oleh Al-Qur'an, yaitu dinding dan masjid yang ditunjuk itu, dan apa yang dikenal dengan sebutan Lembah Jahanam. Karena sesungguhnya surga itu berada di langit yang tertinggi, sedangkan neraka berada di dasar yang paling bawah. Dan mengenai apa yang dikatakan oleh Ka'bul Ahbar yang menyebutkan bahwa pintu yang disebutkan di dalam Al-Qur'an adalah pintu rahmat yang merupakan nama salah satu dari pintu Masjidil Aqsa, ini bersumber dari hadis israiliyatnya dan termasuk salah satu dari dongengan-dongengannya.
Sesungguhnya makna yang dimaksud dengan dinding itu yang dipasang pada hari kiamat untuk menghalang-halangi antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Dan apabila orang-orang mukmin sampai pada dinding itu, maka mereka memasukinya dari pintunya; dan apabila orang-orang mukmin semuanya telah masuk, maka pintu itu dikunci dan yang tertinggal di baliknya hanyalah orang-orang munafik; mereka berada dalam kebingungan, kegelapan, dan azab. Sebagaimana amal perbuatan mereka ketika di dunia, mereka dalam kekafiran, kebodohan, keraguan, dan kebimbangan.
{يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ}
Orang-orang munafik itu memanggil (orang-orang mukmin) seraya berkata, "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” (Al-Hadid: 14)
Yakni orang-orang munafik menyeru orang-orang mukmin seraya mengatakan, "Bukankah kami dahulu ketika di dunia ada bersama kamu dan ikut salat jumuah bersama kamu dan salat berjamaah bersama kamu, dan kami ikut wuquf di Arafah bersama kamu dan ikut dalam peperangan serta menunaikan kewajiban lainnya bersama-sama dengan kamu?"
{قَالُوا بَلَى}
Mereka menjawab, "Benar.”(Al-Hadid: 14)
Yaitu maka orang-orang mukmin menjawab kepada orang-orang munafik seraya mengatakan, "Memang benar kamu selalu bersama kami,
{وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ}
tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong" (Al-Hadid: 14)
Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa kamu mencelakakan dirimu sendiri dengan kesenangan, perbuatan-perbuatan durhaka, dan nafsu syahwat.
{وَتَرَبَّصْتُمْ}
dan kamu menunggu (kehancuran kami). (Al-Hadid: 14)
Yakni kamu menunda-nunda tobat dari waktu ke waktu yang lain.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu menunggu(kehancuran kami). (Al-Hadid: 14) Yakni kehancuran kebenaran dan para pemeluknya. dan kamu ragu-ragu. (Al-Hadid: 14) dengan adanya hari berbangkit sesudah kematian. serta ditipu oleh angan-angan kosong. (Al-Hadid: 14) Maksudnya, kamu mengatakan bahwa kami akan mendapat ampunan.  Menurut pendapat lain, kamu teperdaya oleh duniawi. sehingga datanglah ketetapan Allah. (Al-Hadid: 14). Yakni kamu masih tetap dalam keadaan seperti itu hingga maut datang menjemput kamu. dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. (Al-Hadid: 14) Maksudnya, tertipu oleh setan.
Qatadah mengatakan bahwa mereka tertipu oleh setan dan demi Allah mereka masih tetap dalam keadaan tertipu hingga Allah mencampakkan mereka ke dalam neraka.
Makna ucapan dari orang-orang mukmin yang ditujukan kepada orang-orang munafik, bahwa kamu memang dahulu bersama dengan kami, yakni badan kamu bersama kami, tetapi tanpa niat dan tanpa kalbu; karena sesungguhnya kamu hanyalah dalam kebimbangan dan keraguan, dan kamu hanya pamer kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit.
Mujahid mengatakan bahwa dahulu orang-orang munafik hidup bersama-sama orang-orang mukmin, saling menikah dengan mereka, menipu mereka, serta bergaul dengan mereka. Orang-orang munafik pun di saat matinya dihimpunkan pula bersama orang-orang mukmin, semuanya diberi cahaya kelak di hari kiamat. Hanya saja cahaya orang munafik padam bila telah mencapai tembok penghalang, dan pada saat itulah mereka dipisahkan dari orang-orang mukmin. Dan ucapan kaum mukmin ini tidaklah bertentangan dengan ucapan mereka yang diceritakan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya Yang Mahabenar:
{كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ}
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian?” (Al-Muddatstsir: 38-47)
Sesungguhnya kalimat ini dikatakan oleh kaum mukmin dengan nada kecaman dan mencemoohkan orang-orang munafik. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:
{فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ}
Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat. (Al-Muddatstsir: 48)
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya:
{فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا}
Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. (Al-Hadid: 15)
Yakni seandainya seseorang dari kamu datang pada hari itu dengan membawa emas sepenuh bumi sebanyak dua kali lipat untuk menebus dirinya dari azab Allah, niscaya tebusan itu tidak akan diterima.
*******************
Firman Allah Swt.:
{مَأْوَاكُمُ النَّارُ}
Tempat kamu ialah neraka. (Al-Hadid: 15)
Maksudnya, tempat kembali kamu dan kepulanganmu adalah neraka.
Firman Allah Swt.:
{هِيَ مَوْلاكُمْ}
Neraka itu tempat berlindungmu. (Al-Hadid: 15)
Yaitu neraka adalah tempat yang paling layak bagi kalian karena kalian kafir dan meragukan kebenaran.
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Dan neraka adalah sejahat-jahat tempat kembali. (Al-Hadid: 15)